SOLO, PROJO.or.id — Perjalanan panjang dari Pulau Simeulue, Aceh, menuju Kota Solo, Jawa Tengah, tak menyurutkan langkah rombongan warga yang ingin bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Mereka menempuh perjalanan laut belasan jam, melanjutkan perjalanan darat berjam-jam, hingga akhirnya tiba di kediaman Jokowi di Sumber, Solo.
Bukan sekadar ingin bersalaman atau berfoto. Di balik perjalanan lintas pulau itu, tersimpan kenangan tentang bantuan pemerintah pada masa Jokowi menjabat presiden sekaligus harapan agar kampung halaman mereka yang terpencil mendapat perhatian lebih besar.
Kisah itu terungkap dalam sebuah perbincangan yang direkam pada 22 September. Rombongan yang terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut memperkenalkan diri sebagai warga Simeulue, sebuah kabupaten kepulauan di Provinsi Aceh.
Ketika ditanya berapa lama perjalanan dari Simeulue menuju pusat pemerintahan Provinsi Aceh, salah seorang warga menjelaskan bahwa perjalanan dengan kapal memerlukan waktu sekitar 18 jam. Setelah tiba di Labuhan Haji, perjalanan masih harus dilanjutkan dengan kendaraan darat menuju Banda Aceh selama kurang lebih 10 jam.
“Kalau naik kapal sekitar 18 jam. Sampai di Labuhan Haji nanti kita naik mobil ke Kota Banda Aceh. Itu sekitaran 10 jam,” tuturnya di Video Tiktok Singa Al Surat.
Perjalanan menuju Solo tentu masih jauh dari titik tersebut. Namun, jarak bukan alasan bagi mereka untuk mengurungkan niat bertemu Jokowi.
Ada Kenangan tentang Bantuan yang Dirasakan
Bagi rombongan warga Simeulue itu, Jokowi bukan sekadar mantan presiden yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode. Mereka mengingatnya sebagai sosok pemimpin yang pernah mendapat dukungan kuat dari keluarga dan lingkungan mereka.
Saat ditanya mengapa rela datang dari pulau yang jauh untuk bertemu Jokowi, seorang warga mengungkapkan bahwa keluarga besarnya dahulu termasuk pendukung Jokowi.
“Dari keluarga besar pun memang Bapak Jokowi yang menjadi panutan, presiden yang awal,” ujarnya.
Kenangan itu bukan hanya soal pilihan politik. Warga tersebut juga menyebut bantuan sosial sebagai salah satu hal yang mereka rasakan secara langsung selama pemerintahan Jokowi.
“Kalau kami seperti masyarakat biasa, dapat bansos. Bantuan-bantuan, seperti PKH,” katanya.
Bagi keluarga yang hidup di wilayah kepulauan dan menghadapi keterbatasan akses, bantuan sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Program seperti Program Keluarga Harapan (PKH) ditujukan untuk membantu keluarga penerima manfaat, terutama dalam mendukung kesejahteraan dan akses terhadap layanan dasar.
Pengalaman warga Simeulue itu memperlihatkan bagaimana kebijakan pemerintah dapat dikenang melalui sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat: bantuan yang diterima, kebutuhan keluarga yang terbantu, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Dari Jalan Berbatu hingga Menyeberang dengan Rakit
Namun, cerita warga Simeulue tidak berhenti pada kenangan masa lalu. Di balik perjalanan mereka ke Solo, ada persoalan yang masih ingin disampaikan kepada Jokowi.
Mereka berharap mantan presiden itu bersedia berkunjung ke Simeulue, melihat secara langsung kondisi masyarakat di daerah kepulauan tersebut.
“Pesannya cuma satu, maunya Bapak jalan-jalanlah ke pulau kami. Biar bisa melihat,” kata seorang warga.
Ia menjelaskan, sebagian jalan di daerah mereka sudah beraspal. Namun, masih ada ruas yang belum tersentuh aspal dan hanya berupa jalan berbatu.
Keterbatasan akses bahkan terasa ketika warga hendak berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Di sejumlah titik penyeberangan yang menghubungkan kecamatan dan desa, masyarakat masih mengandalkan rakit atau perahu kecil bermesin.
Perahu tersebut, menurut penuturannya, dapat digunakan untuk membawa sepeda motor. Akan tetapi, ukurannya kecil dan menjadi bagian dari tantangan mobilitas masyarakat setempat.
Gambaran itu memperlihatkan persoalan yang dihadapi sebagian warga di wilayah kepulauan: jarak yang jauh, infrastruktur jalan yang belum sepenuhnya memadai, serta kebutuhan transportasi penyeberangan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah seperti ini, pembangunan bukan hanya soal angka pertumbuhan atau panjang jalan yang telah dibangun. Pembangunan juga berarti kemudahan anak-anak pergi ke sekolah, warga mengakses layanan kesehatan, serta keluarga menjalankan kegiatan ekonomi tanpa terhambat sulitnya transportasi.
Karena itu, permintaan mereka agar Jokowi datang ke Simeulue mengandung harapan yang lebih luas daripada sekadar kunjungan seorang tokoh.
Mereka ingin kondisi daerahnya diketahui dan kebutuhan masyarakatnya mendapat perhatian.
Berharap Pesan Sampai kepada Pemerintah
Warga tersebut menyadari bahwa Jokowi kini tidak lagi menjabat sebagai presiden. Namun, mereka berharap perhatian terhadap daerah terpencil tidak berhenti seiring berakhirnya masa jabatan.
Ia bahkan berharap persoalan infrastruktur di Simeulue dapat disampaikan kepada Wakil Presiden yang sedang menjabat, agar kondisi jalan dan akses penyeberangan di wilayah mereka turut menjadi perhatian pemerintah.
“Walaupun Bapak sudah tidak menjabat lagi sebagai presiden, maunya jalan-jalanlah ke pulau kami,” ungkapnya.
Harapan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa kebutuhan pembangunan di daerah tidak selalu selesai dalam satu periode pemerintahan. Infrastruktur yang belum memadai tetap membutuhkan perhatian, perencanaan, anggaran, dan koordinasi pemerintah agar masyarakat memperoleh akses pelayanan yang lebih baik.
Simeulue memiliki karakter geografis sebagai wilayah kepulauan. Karena itu, pembangunan jalan, fasilitas penyeberangan, dan konektivitas antardesa menjadi bagian penting untuk mengurangi keterisolasian masyarakat.
Kunjungan langsung pemimpin maupun pejabat pemerintah dapat menjadi salah satu cara untuk mendengar aspirasi warga. Namun, yang lebih menentukan adalah tindak lanjut konkret melalui kebijakan dan program pembangunan sesuai kewenangan pemerintah.
Doa dari Ujung Aceh untuk Jokowi
Menjelang akhir perbincangan, suasana berubah hangat. Warga Simeulue itu menyampaikan doa untuk Jokowi, sosok yang mereka datangi setelah perjalanan panjang dari kampung halaman.
Mereka berharap Jokowi senantiasa sehat, memperoleh rezeki yang baik, dan tetap dapat memberikan perhatian kepada masyarakat di berbagai daerah.
“Semoga Bapak sehat selalu. Setelah pulang dari sini semakin sehat, semakin muda, semakin banyak rezeki,” ucapnya, disambut amin.
Mereka juga berharap Simeulue dapat semakin maju dan tidak tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia.
Di tengah berbagai perdebatan politik nasional, kisah rombongan warga ini menghadirkan potret hubungan antara seorang tokoh publik dan masyarakat yang pernah merasakan program pemerintahannya. Bagi mereka, kedatangan ke Solo bukan semata-mata perjalanan untuk menemui mantan presiden, melainkan kesempatan menyampaikan cerita tentang kehidupan di kampung halaman.
Mereka datang membawa kenangan tentang bantuan sosial yang pernah diterima, sekaligus mengungkapkan kenyataan tentang jalan yang belum beraspal dan penyeberangan yang masih mengandalkan perahu kecil.
Dari Simeulue, perjalanan menuju Solo melewati laut dan daratan yang panjang. Namun, ada satu hal yang ingin mereka bawa agar tidak berhenti di tengah perjalanan: aspirasi masyarakat pulau yang berharap pembangunan menjangkau tempat tinggal mereka.
Sebab bagi warga di wilayah terpencil, perhatian tidak cukup hanya hadir dalam ingatan atau ucapan. Perhatian itu diharapkan menjelma menjadi jalan yang layak, penyeberangan yang aman, serta akses yang membuat kehidupan sehari-hari lebih mudah.
Dan dari sebuah pertemuan di Solo, warga Simeulue menitipkan harapan sederhana: semoga kampung halaman mereka suatu hari mendapat kunjungan, didengar, dan semakin diperhatikan.***













