JAKARTA, PROJO.or.id — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PROJO, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa tidak ada persaingan antara PROJO dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk memperebutkan pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Hubungan kedua belah pihak dinilai tidak perlu dipertentangkan karena memiliki ruang gerak dan orientasi masing-masing.
“Kita berdiri, kita enggak mau berkompetisi. Ngapain?” ujar Budi Arie dalam tayangan podcast Henri Satrio Official dan Rujak Politik Channel.
Budi Arie mengingatkan kembali sejarah berdirinya organisasi relawan tersebut sebagai salah satu pionir kerelawanan politik di Indonesia yang hingga hari ini masih kokoh berdiri. Lahir jauh sebelum Joko Widodo memimpin Indonesia sebagai presiden, PROJO sudah terbentuk dan bergerak sejak Jokowi masih mengabdi sebagai kepala daerah di Solo.
Konsistensi perjuangan tersebut terbukti melalui peran aktif PROJO dalam mengawal dan membantu kemenangan di ajang Pemilihan Presiden sebanyak tiga kali berturut-turut, yakni kemenangan Joko Widodo selama dua periode serta kemenangan pasangan Prabowo-Gibran.
Sambil berseloroh, ia menyebut usia organisasi PROJO menjadikan mereka sebagai “abang” bagi PSI. “Kalau sama PSI main abang-abangan. Kita ini kan abangnya,” ucapnya disusul dengan tawa ringan.

Meski melontarkan kelakar tersebut, Budi Arie menekankan agar publik tidak membentur-benturkan antara PROJO dan PSI. Ia menegaskan bahwa PROJO senantiasa berpijak pada garis perjuangan tersendiri yang dirumuskan dalam semangat “setia di garis rakyat”.
Menurutnya, posisi strategis tersebut tidak sekadar diukur dari kedekatan personal semata terhadap sosok Joko Widodo. “Pak Jokowi, ini sama kita, sama rakyat. Saya suka sama rakyat,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Budi Arie turut menepis berbagai spekulasi miring yang menyebutkan bahwa dirinya tengah berupaya mencari kendaraan politik baru pasca tidak lagi duduk di jajaran kabinet pemerintahan.
Sementara itu, terkait wacana dan dinamika transformasi PROJO menjadi partai politik, Budi Arie menyatakan sikap terbuka dengan menghormati seluruh aspirasi serta masukan yang datang dari jajaran pengurus dan anggota PROJO di berbagai daerah. ***













