JAKARTA, PROJO.or.id – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi mengungkap pandangannya mengenai masa depan politik Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep. Menurut Budi Arie, keduanya memiliki posisi yang berbeda dalam dinamika politik dan kelembagaan negara.
Budi Arie menyebut Gibran sebagai anak pertama Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang kini berada di jalur eksekutif sebagai Wakil Presiden RI. Sementara Kaesang menjalankan aktivitas politik melalui jalur legislatif dan partai politik.
“Gibran itu anak pertama, anak emasnya Pak Jokowi,” kata Budi Arie dalam podcast Hendri Satrio Official.
Menurut dia, pembagian peran di antara keduanya dapat menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Budi Arie berpandangan bahwa keberadaan satu anggota keluarga di eksekutif dan anggota lainnya di legislatif dapat memberikan perspektif berbeda dalam kehidupan politik.
“Kalau satu di eksekutif, satu di legislatif, itu kan memperkuat demokrasi,” ujarnya.
Gibran dan Kemungkinan 2029
Budi Arie mengatakan konfigurasi politik menuju 2029 masih belum dapat dipastikan. Ia menyebut berbagai kemungkinan masih terbuka, termasuk mengenai posisi Gibran dalam kontestasi politik mendatang.
Menurut Budi Arie, politik merupakan art of possibility. Karena itu, keputusan mengenai pasangan maupun posisi politik pada 2029 tidak perlu ditentukan terlalu dini.
“Kartunya masih dikocok, belum dibagi,” katanya.
Budi Arie juga menyampaikan harapannya agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran dapat berlanjut selama dua periode.
“Kita mengharapkan dua periode Pak Prabowo-Gibran,” ujar dia.
Namun, Budi Arie menegaskan bahwa dinamika politik 2029 akan dipengaruhi banyak faktor, termasuk keberhasilan pemerintah menjalankan program dan tingkat kepercayaan masyarakat.
Pandangan soal Kaesang
Dalam pembicaraan mengenai Gibran dan Kaesang, Budi Arie juga menyinggung kemungkinan posisi politik keduanya apabila konfigurasi pemerintahan dan kontestasi 2029 berubah.
Ia menyampaikan pandangan pribadinya mengenai pembagian posisi di antara keduanya. Budi Arie mencontohkan, jika Gibran kembali menjadi wakil presiden pada 2029, maka Kaesang menurut pandangannya tidak berada pada posisi untuk menjadi menteri.
Pandangan tersebut disampaikan Budi Arie sebagai analisis pribadi, bukan sebagai keputusan atau konfigurasi politik yang telah ditetapkan.
Budi Arie juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin ikut memperbesar spekulasi mengenai berbagai kemungkinan pasangan politik pada 2029.
Ketika dirinya dikaitkan dengan kemungkinan menjadi calon wakil presiden Gibran, Budi Arie justru menanggapinya dengan santai.
“Saya enggak mimpi itu. Jangan bikin gosip,” katanya.
Budi Arie menilai perjalanan politik Gibran, Kaesang maupun tokoh-tokoh lainnya akan sangat ditentukan oleh dinamika politik yang berkembang hingga 2029.
Karena itu, menurut dia, berbagai kemungkinan tersebut masih merupakan bagian dari proses politik yang belum final dan tidak perlu dipaksakan menjadi kesimpulan saat ini.***












