JAKARTA, PROJO.or.id — Menjadi seorang kepala negara di negeri dengan ratusan juta penduduk tentu membawa mandat kekuasaan yang besar. Namun, kekuasaan sering kali menjebak seseorang dalam lingkaran arogansi dan keengganan untuk mendengar. Di sinilah letak anomali seorang Joko Widodo (Jokowi). Pemimpin yang lahir dari rahim rakyat ini justru selalu menempatkan dirinya sebagai pembelajar ulung, bahkan di panggung diplomasi internasional.
Kisah menarik ini pernah diungkapkan oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya. Di balik layar kunjungan kerja kenegaraan yang sarat protokoler ketat, tersimpan sebuah momen sederhana namun sarat makna yang membongkar tabir kepribadian asli sang presiden.
Buku Catatan Kecil sang Kepala Negara
Cerita bermula ketika Jokowi melakukan lawatan resmi ke Selandia Baru. Sebagai kepala perwakilan Indonesia di negara penempatan, Tantowi Yahya bersiap menyambut kedatangan sang presiden beserta delegasi. Di luar kebiasaan protokoler pejabat tinggi yang kerap merasa paling tahu, Jokowi justru menunjukkan gestur yang di luar dugaan.
Saat bersiap menghadapi agenda penting, termasuk perjumpaan dengan Gubernur Jenderal, Jokowi tanpa sungkan memanggil Tantowi Yahya. Alih-alih memberikan instruksi satu arah, ia secara proaktif bertanya langsung kepada sang dubes mengenai substansi materi, konteks lokal, hingga poin-poin krusial apa saja yang patut disampaikan dalam forum resmi tersebut.
”Sikap ini membuat Tantowi kagum karena seorang presiden tetap mau mendengar dan merendahkan hati untuk mencatat masukan dari bawahannya di luar negeri.”
Yang membuat Tantowi terpukau bukan sekadar inisiatif Jokowi untuk bertanya, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Ketika Tantowi mulai memaparkan pandangan, saran, serta masukan mendalam mengenai peta diplomatik setempat, Jokowi merogoh saku dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil.
Tanpa sedikit pun rasa risih atau gengsi membawa atribut “orang nomor satu”, tangan seorang presiden Republik Indonesia bergerak mencatatkan satu per satu saran dari bawahannya. Tiap butir masukan diserap, dirangkum, dan dicatat dengan teliti di atas kertas kecil tersebut.
Bukti Nyata Kepemimpinan yang Mendengar
Momen mencatat itu bukanlah gimik pencitraan belaka. Buktinya terlihat nyata tatkala pertemuan resmi kenegaraan benar-benar dimulai. Di hadapan para petinggi negara asing, Jokowi menyampaikan poin-poin substansial secara runut dan tajam—yang tak lain adalah hasil dari intisari catatan yang ia ukir bersama Tantowi Yahya beberapa waktu sebelumnya.
Bagi Tantowi, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Seorang pemimpin tertinggi negara menunjukkan teladan agung bahwa jabatan presiden tidak lantas menutup diri dari dialog. Ia membuktikan bahwa kecerdasan sejati lahir dari kesediaan untuk terus mendengar, merendahkan ego, dan menghargai pandangan setiap elemen di bawah kepemimpinannya.
Keteladanan yang Melintasi Batas
Kisah dari Selandia Baru ini merefleksikan karakter kepemimpinan Jokowi yang otentik: membumi, telaten, dan berorientasi pada hasil nyata melalui kolaborasi. Blusukan tidak hanya dilakukan di lorong-lorong pasar tradisional Nusantara, tetapi juga terbawa hingga meja diplomasi dunia.
Bagi kita, teladan ini menjadi pengingat berharga bahwa kerendahan hati untuk terus belajar dan mendengarkan masukan adalah esensi kepemimpinan yang sesungguhnya. Di tangan seorang pemimpin yang mau mencatat dan mendengar, kebijakan besar kerap kali bermula dari lembaran catatan kecil di sudut meja perundingan internasional.***












