JAKARTA, PROJO.or.id – Bagi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), berhenti menjabat ternyata bukan berarti berhenti mendengar suara rakyat. Rencana agenda safari keliling Indonesia yang dijadwalkan mulai Juni 2026 ini membuktikan satu hal: bagi seorang Jokowi, turun ke bawah (turba) dan menyapa masyarakat miskin kota hingga pelosok desa bukan lagi sekadar tugas protokoler kepresidenan, melainkan sebuah gaya hidup sosiologis yang sudah mendarah daging.
Langkah purnatugas ini sempat memicu riuh rendah tafsir politik di ruang publik. Namun, dalam program Overview Obrolan Virtual Tribunnews bertajuk “Jokowi Keliling Indonesia” pada Rabu (3/6/2026), DPP PROJO menegaskan bahwa pergerakan ini tidak perlu disikapi secara heboh atau dicurigai secara berlebihan.
Karakter Alami yang Melampaui Sekat Jabatan
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PROJO, Fredy Alex Damanik, mengungkapkan bahwa aktivitas blusukan merupakan karakter alami yang telah melekat pada diri Jokowi selama lebih dari dua dekade kepemimpinannya—jauh sebelum ia menduduki kursi Istana Negara.
Menurut Fredy, kepemimpinan pasca-kepresidenan sama sekali tidak menghalangi hak sosiologis seorang tokoh bangsa untuk tetap karib dengan masyarakatnya. Hubungan emosional yang telah terbangun puluhan tahun tidak bisa diputus begitu saja oleh selesainya masa jabatan masa bakti.
“Menyapa masyarakat dan blusukan itu gaya natural ciri khas Pak Jokowi selama dua dekade ini, sejak beliau menjadi Wali Kota, Gubernur, hingga Presiden. Itu hal yang biasa dilakukan. Jadi, jika saat ini beliau bukan lagi presiden kemudian melakukan kunjungan, sebetulnya tidak perlu heboh,” tegas Fredy.
Kerinduan Dua Arah: Rakyat Memanggil, Pemimpin Menjawab
Menariknya, rencana perjalanan domestik ini tidak dirancang oleh tim elit yang kaku, melainkan lahir dari kerinduan dua arah yang bersifat bottom-up. Setelah sempat beristirahat dan kini dinyatakan dalam kondisi sehat walafiat, kediaman Jokowi justru terus didatangi warga dari berbagai penjuru.
“Ketika Pak Jokowi menyatakan sudah sehat dan siap keliling Indonesia, kami para relawan berbondong-bondong mengirimkan undangan resmi agar beliau mengunjungi daerah masing-masing. Setiap hari rumah beliau juga selalu didatangi warga yang meminta dikunjungi,” cerita Fredy menggambarkan suasana hangat tersebut.
Kerinduan yang autentik dari akar rumput inilah yang kemudian direspons Jokowi secara tulus, dengan kesiapan untuk kembali turun ke lapangan secara mandiri dan swadaya bersama jaringan relawan di daerah.
Menemui Rakyat Tanpa Sekat Kekuasaan
Meskipun pengamat politik Ray Rangkuti yang turut hadir dalam diskusi menilai pergerakan tokoh sekaliber Jokowi akan selalu memiliki getaran pengaruh (maintenance influence) secara nasional, PROJO melihatnya dari sudut pandang yang lebih humanis.
Jika aksi turun ke bawah ini nantinya menumbuhkan cinta dan kepercayaan yang makin tebal di hati masyarakat, PROJO menilai hal itu sebagai sebuah “bonus sosial” dari konsistensi karakter seorang pemimpin.
Pada akhirnya, safari keliling Indonesia purnatugas ini ingin mengirimkan pesan moral yang hangat: bahwa dedikasi dan kedekatan emosional seorang pemimpin dengan rakyatnya tidak mengenal masa pensiun. Di atas segala urusan kalkulasi kekuasaan, tempat terbaik seorang Joko Widodo adalah selalu berada di tengah-tengah rakyatnya.***











