JAKARTA, PROJO.or.id – Rencana agenda safari keliling Indonesia yang akan dilakukan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) mulai Juni 2026 memicu berbagai spekulasi di ruang publik. Menanggapi riuh rendah tafsir politik tersebut, Dewan Pimpinan Pusat (DPP PROJO) menegaskan bahwa kunjungan tersebut murni sebagai ruang silaturahmi kemasyarakatan dan pemenuhan undangan warga, bukan bagian dari mesin politik elektoral menuju Pemilu 2029.
Hal ini mengemuka dalam program Overview Obrolan Virtual Tribunnews bertajuk “Jokowi Keliling Indonesia” yang berlangsung pada Rabu (3/6/2026). Diskusi hangat tersebut menghadirkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PROJO, Fredy Alex Damanik, dan pengamat politik, Ray Rangkuti.
Menjaga Narasi Kebangsaan, Bukan Panggung Elektoral
Dalam keterangannya, Sekjen PROJO Fredy Alex Damanik meluruskan berbagai pandangan keliru yang cenderung mengaitkan pergerakan Jokowi dengan kepentingan elektoral jangka panjang.
Menurut Fredy, aktivitas turun ke masyarakat atau blusukan merupakan karakter alami yang sudah melekat pada diri Jokowi selama lebih dari dua dekade kepemimpinannya, jauh sebelum menjabat sebagai kepala negara.
“Kunjungan Pak Jokowi ini memang murni untuk menyapa masyarakat, bersilaturahmi, mendengarkan langsung perkembangan di daerah, sekaligus menjaga hubungan narasi kebangsaan, persatuan, dan kesatuan yang telah terjalin selama ini. Putusnya masa jabatan bukan berarti putusnya komunikasi dengan rakyat,” ujar Fredy.
Fredy juga menyayangkan adanya pihak-pihak yang melakukan framing politik secara berlebihan terhadap agenda ini. Menurutnya, kepemimpinan pasca-kepresidenan tidak menghalangi hak sosiologis seorang tokoh bangsa untuk karib dengan masyarakat.
“Menyapa masyarakat dan blusukan itu gaya natural ciri khas Pak Jokowi selama dua dekade ini, sejak beliau menjadi Wali Kota, Gubernur, hingga Presiden. Itu hal yang biasa dilakukan. Jadi, jika saat ini beliau bukan lagi presiden kemudian melakukan kunjungan, sebetulnya tidak perlu heboh atau dimaknai secara berlebihan,” tegas Sekjen PROJO tersebut.
Ia menilai, langkah Jokowi yang konsisten menemui rakyat di masa purnatugas semestinya menjadi teladan positif bagi para politisi, partai politik, maupun pejabat publik di Indonesia.
“Ini menjadi contoh yang baik agar publik tidak melulu disuguhi pemandangan di mana rakyat hanya dikunjungi oleh pejabat atau politisi ketika ada kepentingan elektoral saja, seperti saat Pileg atau Pilpres,” imbuh Fredy.
Fokus Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM
Lebih lanjut, Fredy membeberkan agenda konkret yang dibawa Jokowi dalam perjalanan domestik ini. Selain menyerap aspirasi kultural, Jokowi fokus bergerak di jalur sosial-ekonomi melalui yayasan kemasyarakatan yang didirikannya untuk mendorong kemajuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Beberapa potensi komoditas lokal yang menjadi perhatian di antaranya pengembangan budidaya rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT), perkebunan jeruk di Sumatra, hingga optimalisasi produksi nira.
“Pak Jokowi akan memotivasi para pelaku usaha di daerah agar lebih berkembang lagi. Jadi sekali lagi, ini adalah kegiatan kemasyarakatan, melihat kondisi riil di lapangan,” tambahnya.
Sudut Pandang Politik
Di sisi lain, pengamat politik Ray Rangkuti memberikan analisis berbeda. Menurutnya, setiap pergerakan yang dilakukan oleh seorang figur politik sekaliber Jokowi akan selalu memiliki dimensi dan dampak politik, baik secara kultural maupun struktural dalam lanskap nasional.
Ray berpendapat bahwa safari ini merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme pengaruh publik (maintenance influence) di tingkat akar rumput, sekaligus membangun daya tawar bagi regenerasi kepemimpinan ke depan.
Merespons pandangan tersebut, Fredy Alex Damanik menegaskan bahwa PROJO menghormati hak berpendapat para analis. Namun, ia menekankan jika aktivitas sosial Jokowi nantinya memberikan dampak elektoral secara tidak langsung di masa depan, hal itu hanyalah sebuah konsekuensi logis dari modal sosial kedekatan pemimpin dengan rakyatnya.
“Kalau hal itu berdampak pada peta politik 2029, dalam iklim demokrasi itu hal yang biasa saja. Jika hal baik yang dilakukan seorang tokoh membuat beliau dicintai dan omongannya dipercaya masyarakat, itu adalah bonus yang tidak bisa kita cegah,” kata Fredy.
Penyelenggaraan Swadaya dan Mandiri
Terkait teknis pelaksanaan safari ke sejumlah wilayah seperti Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Jawa Barat, PROJO menjelaskan bahwa agenda ini murni berbasis permohonan masyarakat dan jaringan relawan yang merindukan kehadiran Jokowi.
“Ketika Pak Jokowi menyatakan sudah sehat dan siap keliling Indonesia, kami para relawan berbondong-bondong mengirimkan undangan resmi agar beliau mengunjungi daerah masing-masing. Setiap hari rumah beliau juga selalu didatangi warga yang meminta dikunjungi,” jelas Fredy.
Fredy menggarisbawahi bahwa seluruh pembiayaan pergerakan ini diselenggarakan secara mandiri dan independen oleh komponen pendukung di daerah.
“Untuk pembiayaan, kami lakukan secara swadaya, saling topang, dan saling support antar relawan serta tokoh masyarakat setempat yang bersimpati. Ini murni kolaborasi, tidak ada anggaran dari pihak luar atau bohir tertentu,” tegasnya.
Mengakhiri pernyataannya, PROJO memastikan bahwa safari ini tidak dirancang untuk mengambil panggung pemerintahan saat ini, apalagi membentuk barisan oposisi baru. Agenda ini murni menjadi pengejawantahan dari komitmen kebangsaan seorang Joko Widodo yang menempatkan kedekatan emosional bersama rakyat di atas segala urusan kekuasaan.***











