KUPANG, PROJO.or.id — Ada rindu yang tuntas di bawah langit Teluk Kupang, Sabtu sore (1/8/2026). Angin pesisir Kelurahan Lai Lai Besi Kopan (LLBK), Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), berpadu dengan riuh gelombang manusia yang tumpah ruah. Bukan sekadar menanti seorang tokoh, hari itu bumi Flobamora sedang menyambut “keluarga” mereka pulang.
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), berdiri di panggung kehormatan. Mengenakan ikat kepala adat dan balutan kain tenun Timor yang melilit anggun di tubuhnya, tatapannya menyapu lautan manusia yang memadati kawasan LLBK.
Di hadapan para raja se-Pulau Timor, Jokowi resmi dinobatkan sebagai sesepuh raja-raja Timor—sebuah penghormatan adat tertinggi yang sarat makna.
Merajut Ingatan, Memeluk Ketulusan
Bagi masyarakat NTT, kedatangan Jokowi selalu meninggalkanresonansi batin yang kuat. Selama satu dekade kepemimpinannya, jejak pembangunan infrastruktur dan perhatian nyata terhadap tanah Flobamora telah mengubah lanskap daerah, merajut asa di ujung-ujung nusantara.
“Rakyat tidak pernah lupa siapa yang membangun daerahnya dan siapa yang selalu hadir dengan hati,” suara batin yang bergemuruh di tengah kerumunan, mewakili perasaan ribuan warga yang berdesakan demi mendekat.
Prosesi penobatan berlangsung khidmat. Para raja secara bergantian memanjatkan doa, menitipkan restu, dan mengalungkan selendang adat Timor ke pundak Jokowi. Kesakralan ritual tersebut semakin hidup diiringi hentakan ritmis Tari Caci dan Tari Bonet khas Manggarai, menyatukan napas kebudayaan dalam satu panggung persaudaraan.
Lautan Ponsel dan Hangatnya Sapaan Kerakyatan
Di luar formalitas adat, ada pemandangan hangat yang selalu melekat setiap kali Jokowi hadir di tengah rakyat. Ribuan tangan menjulang ke udara, menggenggam telepon genggam untuk merekam detik-detik bersejarah tersebut . Mereka berebut mendekat, sekadar bersalaman, berbalas senyum, atau menerima kaus yang dibagikan dari atas panggung.
Sekalipun kini ia telah purnatugas, karisma kerakyatan itu justru semakin berpendar. Tak ada sekat birokrasi, yang ada hanyalah kehangatan dua arah antara seorang pemimpin dan rakyat yang mencintainya.
Jejak Kehormatan Nusantara
Penganugerahan gelar sebagai sesepuh raja-raja Timor di Kupang ini menambah daftar panjang penghormatan adat yang diterima Jokowi setelah purnatugas. Sebelumnya, ia juga dianugerahi gelar adat (adok) Baginda Pemuka Bangsa oleh lima kerajaan adat Lampung di Bandar Lampung.
Namun, di balik rentetan gelar kehormatan tersebut, esensi dari setiap langkah perjalanan Jokowi ke berbagai penjuru tanah air tetap sama: merawat silaturahmi, mendengar denyut nadi rakyat, dan memastikan bahwa ikatan batin dengan masyarakat tidak pernah lekang oleh waktu.
Ketika senja perlahan turun di Kota Kupang dan Jokowi meninggalkan arena penobatan, ribuan warga masih enggan beranjak. Mereka berdiri di sepanjang jalan, melambaikan tangan, membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak pernah benar-benar pergi dari hati rakyatnya.***












