KUPANG, PROJO.or.id — Ada pemandangan yang begitu menggetarkan hati di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan El Tari, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (1/8/2026).
Di tengah riuhnya ribuan warga yang tumpah ruah menyambut kedatangan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), terselip sebuah drama emosional yang sukses membuat siapa saja yang melihatnya merasa trenyuh hingga berurai air mata.
Sejak pagi buta, atmosfer di sekitar depan Kantor Gubernur NTT memang sudah terasa berbeda. Gelombang manusia berbondong-bondong memadati rute jalan santai demi bisa melihat sosok pemimpin yang selama ini begitu lekat di hati mereka.
Antusiasme warga bahkan melampaui batas kewajaran ruang publik biasa: ada yang membawa sketsa wajah Jokowi dengan penuh bangga, anak-anak yang rela menaiki mobil boks demi mencuri pandang, hingga seorang warga paruh baya yang nekat memanjat pohon tinggi tanpa rasa takut demi mendapatkan posisi terbaik di tengah lautan manusia.
“Saya mau lihat Jokowi, sudah terlihat tadi. Tidak takut jatuh, sudah biasa panjat pohon,” ucap seorang warga dengan sorot mata berbinar-binar, mencerminkan betapa besarnya kerinduan mereka.
Jerit Tangis di Tengah Lautan Manusia
Namun, di balik riuhnya yel-yel dan teriakan “Pak Jokowi, sebelah sini!” atau “Pak Jokowi, saya ngefans sama Bapak,” sebuah momen mengharukan terjadi pada seorang anak perempuan bernama Candy Deru.
Bocah cilik itu terjebak dalam desakan kerumunan yang begitu padat. Bukan sekadar lelah, ia menangis histeris, menjerit-jerit sejadi-jadinya karena satu alasan sederhana: ia begitu rindu dan ingin sekali bisa bertemu langsung dengan Pak Jokowi.
Air matanya tumpah ruah, mencerminkan kepolosan hati seorang anak yang hanya ingin mendekat kepada figur yang ia kagumi layaknya orang tua sendiri.
Melihat kepedihan dan isak tangis Candy yang begitu menyayat hati, sebuah tindakan penuh ketulusan pun terjadi. Ajudan Presiden Jokowi, Pak Norman, dengan sigap merangsek maju di tengah padatnya massa. Ia mengangkat dan menggendong Candy yang sedang berurai air mata, membawanya menembus kerumunan hingga tepat berada di hadapan sang mantan presiden.
“Terima kasih Pak Norman sudah membuat video dan foto anak Candy bersama Bp Jokowi,” tulis ungkapan syukur yang merekam detik-detik mengharukan tersebut.
@dorthy_dAnak Candy Deru menangis histeris pingin ketemu Bpk Jokowi di Car Free Day di Jln Eltari Kupang akhirnya di gendong oleh Ajudan nya Bpk #Jokowi yg bernama Pak Roman…terima kasih Pak Norman sdh membuat video dan foto ank Candy bersama Bpk Jokowi…🙏🙏 #jokowidodo #tiktokviral #jokowihebat @✨✨🇮🇩 🇮🇩PENCINTA JOKOWI🇮🇩
Ketika Rindu Berbuah Kehangatan Ayah dan Anak
Seketika itu juga, suasana berubah magis. Tangisan histeris Candy perlahan mereda tatkala ia mendapati dirinya berada tepat di dekat Pak Jokowi.
Dengan senyuman khasnya yang menenangkan, Pak Jokowi menyambut bocah tersebut dengan penuh kehangatan. Sentuhan tangan dan raut wajah ramah sang presiden seolah menghapus seluruh lelah dan air mata yang sempat tumpah.
Momen tersebut tidak sekadar memperlihatkan euforia politik atau sambutan kunjungan kerja biasa. Lebih dari itu, kejadian di CFD El Tari Kupang menjadi potret sosiologis yang mendalam tentang hubungan batin antara seorang pemimpin dan rakyatnya—hubungan yang melintasi batas usia, status sosial, dan jarak.
Bagi anak-anak seperti Candy dan ribuan warga Kupang lainnya, Jokowi bukan sekadar tokoh nasional di layar kaca, melainkan sosok pengayom yang kehadirannya selalu dinanti dan dirindukan.
Hari itu, di bawah langit Kupang, air mata rindu seorang anak kecil telah dibayar tuntas oleh sebuah pelukan kasih sayang yang akan terus dikenang seumur hidupnya.***












