JAKARTA. PROJO.or.id – Matahari perlahan turun di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang menyelinap di antara pepohonan di sepanjang Jalan Pancoran Timur Raya. Sore itu, Jumat (13/3/2026), suasana di depan kantor DPP Projo tampak berbeda dari hari biasanya. Tidak ada hiruk-pikuk politik yang kaku; yang ada hanyalah aroma manis santan dan hangatnya kebersamaan.
Di atas meja sederhana yang ditata rapi, deretan gelas plastik berisi kolak pisang dan aneka kudapan berbuka puasa berjejer siap saji. Ini adalah geliat rutinitas sore di bulan suci—sebuah aksi berbagi takjil gratis untuk masyarakat dan pengguna jalan yang melintas.
Senyum di Balik Helm dan Kerutan Wajah
Deru mesin motor sesekali berhenti di depan gerbang. Para pengemudi ojek online (ojol), dengan jaket hijau khasnya yang mulai kusam oleh debu jalanan, tampak menepikan kendaraan. Wajah-wajah lelah setelah seharian menembus kemacetan Jakarta seketika mencair saat menerima segelas kolak dingin.
“Terima kasih, Mas. Lumayan buat batalin puasa di jalan,” ujar salah satu pengemudi ojol sambil menyelipkan gelas takjil di bagasi motornya dengan senyum lebar.
Tak hanya para pejuang aspal, warga sekitar dan pejalan kaki pun turut merasakan hangatnya keramahan tersebut. Keceriaan itu pun menular kepada para relawan yang bertugas membagikan makanan.
Pesan Sederhana: Kecil yang Berarti
Di sela-sela kesibukan membagikan bungkusan, Castelo, salah satu penggerak aksi ini, tampak tak berhenti melempar senyum. Baginya, kegiatan ini bukan soal kemewahan menu yang disajikan, melainkan soal menjaga api kepedulian.
“Walaupun sederhana, tapi kita masih bisa berbagi. Itu yang terpenting. Melihat mereka tersenyum saat menerima takjil saja sudah jadi kebahagiaan tersendiri buat kami,” ujar Castelo sambil menyeka peluh di dahi.
Senada dengan Castelo, Apri yang juga sibuk mengatur barisan pembagian, menekankan bahwa Ramadan adalah momentum terbaik untuk menebar manfaat. Menurutnya, tidak perlu menunggu menjadi besar atau kaya raya untuk membantu sesama.
“Bulan Ramadan ini penuh berkah. Harus diisi oleh sesuatu yang bermanfaat buat warga, walaupun itu kecil. Kita ingin kehadiran kami di sini bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” tambah Apri.
Amanat Sang Ketua Umum
Aksi sosial ini ternyata bukan sekadar inisiatif spontan. Kegiatan ini merupakan pengejawantahan dari pesan Ketua Umum Projo. Dalam berbagai kesempatan, sang Ketum selalu mengingatkan kader dan anggotanya untuk tetap membumi dan peduli pada kondisi rakyat di sekitar mereka.
“Pesan Ketum jelas: walau kecil, kita harus tetap berbagi. Jangan lihat nilainya, tapi lihat ketulusannya. Di tengah situasi apa pun, solidaritas sosial tidak boleh padam,” pungkas Apri menutup percakapan di sore yang mulai meremang itu.
Saat azan Magrib mulai berkumandang dari masjid terdekat, meja takjil itu telah kosong. Namun, kehangatan yang ditinggalkan di sepanjang Jalan Pancoran Timur Raya seolah masih tertinggal—membuktikan bahwa segelas kolak dan sebuah senyuman bisa menjadi jembatan kebaikan yang luar biasa.***























