• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
No Result
View All Result

Narasi “Prabowo Cuekin Jokowi” Meredup, Pertemuan Kertanegara Justru Ungkap Hubungan Tetap Terjaga

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
8 Oktober 2026
in Kabar Rakyat
Waktu Baca: 3 menit
A A
0
Budi Arie Jawab Wacana Poros Solo: PROJO Tegaskan Tetap di Barisan Poros Prabowo-Gibran

JAKARTA, PROJO.or.id — Narasi tentang Presiden Prabowo Subianto yang disebut “cuekin” Presiden ke-7 Joko Widodo saat peringatan HUT ke-81 TNI perlahan kehilangan gaung. Di tengah riuh media sosial yang sempat membangun kesan adanya keretakan hubungan dua tokoh tersebut, fakta lain justru muncul: Prabowo mengundang Jokowi ke kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta, pada Selasa malam, 6 Oktober 2026.

Pertemuan tersebut berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 19.00 hingga sekitar pukul 21.00 WIB. Informasi itu dikonfirmasi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Syarif Muhammad Fitriansyah, ajudan Jokowi.

“Pak Prabowo mengundang Pak Jokowi ke Kertanegara,” kata Syarif, Rabu (7/10/2026).

Fakta ini menjadi kontras dengan narasi yang sebelumnya ramai beredar di media sosial mengenai hubungan Prabowo dan Jokowi yang disebut merenggang hanya karena momen singkat dalam peringatan HUT TNI.

Jika pertemuan di Kertanegara dibaca secara utuh, hubungan politik kedua tokoh tidak cukup disimpulkan hanya dari gestur dalam sebuah acara kenegaraan.

Pertemuan itu bahkan berlangsung pada malam yang sama ketika Mahkamah Konstitusi membacakan putusan perkara sengketa syarat pendidikan pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Namun, Syarif menegaskan pertemuan Jokowi dan Prabowo tersebut tidak berkaitan dengan putusan MK.

“Tidak ada (kaitannya),” tegasnya.

Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad juga mengonfirmasi adanya pertemuan tersebut. Namun, Dasco mengaku tidak mengetahui isi pembicaraan karena tidak ikut dalam pertemuan.

Dari “Prabowo-Jokowi Retak” ke Polemik Gibran

Menariknya, ketika narasi mengenai keretakan Prabowo-Jokowi mulai kehilangan bahan bakar, ruang percakapan publik justru kembali dipenuhi polemik mengenai Gibran.

Putusan MK dalam perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima. Salah satu alasan utamanya adalah persoalan kedudukan hukum atau legal standing para pemohon.

Artinya, putusan tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai putusan yang menyatakan Gibran “tidak sah” sebagai Wakil Presiden.

Namun, setelah putusan tersebut muncul narasi baru mengenai persoalan pendidikan Gibran, khususnya soal apakah pendidikan yang ditempuhnya di luar negeri memenuhi ketentuan pendidikan minimal yang dipersyaratkan dalam pencalonan presiden dan wakil presiden.

Di titik inilah publik perlu membedakan antara putusan MK, persoalan administratif penyelenggaraan pemilu, dan opini politik yang berkembang di media sosial.

Polemik mengenai dokumen pendidikan Gibran memang sah menjadi bahan diskusi publik. Tetapi narasi tersebut juga tidak semestinya digunakan untuk membangun kesimpulan politik yang melampaui fakta dan putusan pengadilan.

Politik Tidak Bisa Dibaca dari Satu Gestur

Peristiwa di HUT TNI memperlihatkan betapa cepatnya sebuah gestur dapat diproduksi menjadi narasi politik di media sosial.

Satu momen bisa ditafsirkan sebagai “cuek”. Dari sana berkembang menjadi “retak”, kemudian berubah menjadi dugaan konflik politik.

Padahal, beberapa hari kemudian publik mendapatkan fakta berbeda: Prabowo mengundang Jokowi untuk bertemu secara langsung di kediamannya.

Ini bukan berarti setiap pertemuan harus dimaknai sebagai bukti bahwa semua persoalan politik telah selesai. Namun, fakta tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa narasi mengenai “perpecahan” tidak bisa dibangun hanya berdasarkan potongan gambar atau gestur dalam satu acara.

Hubungan Prabowo dan Jokowi memiliki konteks politik yang jauh lebih panjang—mulai dari kontestasi Pilpres 2014 dan 2019, rekonsiliasi politik, pemerintahan periode kedua Jokowi, hingga kemenangan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024.

Karena itu, membaca hubungan keduanya hanya dari satu momen di podium atau satu gestur kamera jelas terlalu sederhana.

PROJO: Jangan Terjebak Politik Persepsi

Bagi masyarakat, yang lebih penting adalah menjaga agar ruang publik tidak terus-menerus dipenuhi politik persepsi.

KabarLainnya

Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

Narasi “Prabowo meninggalkan Jokowi” atau “Jokowi dan Prabowo pecah” seharusnya diuji dengan fakta, bukan diperbesar hanya karena mendapatkan engagement tinggi di media sosial.

Begitu pula dengan polemik pendidikan Gibran. Perdebatan mengenai persyaratan pendidikan harus ditempatkan dalam koridor hukum, regulasi pemilu dan fakta administratif yang dapat diverifikasi.

Demokrasi membutuhkan kritik. Tetapi demokrasi juga membutuhkan disiplin dalam membedakan fakta, tafsir dan propaganda politik.

Pertemuan di Kertanegara menjadi salah satu fakta penting bahwa hubungan Prabowo dan Jokowi tidak bisa begitu saja disimpulkan retak hanya karena sebuah gestur.

Ketika satu narasi meredup, narasi lain boleh saja muncul. Tetapi publik tetap memiliki hak untuk bertanya: apakah yang sedang dibicarakan benar-benar persoalan hukum dan kepentingan rakyat, atau sekadar pergantian isu dalam perang persepsi menuju 2029?

PROJO tetap pada garis rakyat: politik boleh berbeda, kritik boleh tajam, tetapi fakta tidak boleh dikalahkan oleh narasi.***

Add as Preferred Source
Share6Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

“Ijazah Lagi, Ijazah Lagi”, Grace Natalie Pertanyakan Narasi Gibran Tak Lulus SMA

Kabar Selanjutnya

Jokowi Tampil Tak Biasa di Sumber, Kemeja Birunya Jadi Perhatian : Sekadar Baju atau Ada Pesan?

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo
Kabar Rakyat

Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo

30 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan
Kabar Rakyat

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan
Kabar Rakyat

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

29 Oktober 2026
Kabar Selanjutnya
Jokowi Tampil Tak Biasa di Sumber, Kemeja Birunya Jadi Perhatian : Sekadar Baju atau Ada Pesan?

Jokowi Tampil Tak Biasa di Sumber, Kemeja Birunya Jadi Perhatian : Sekadar Baju atau Ada Pesan?

MK Tolak Gugatan Syarat Pendidikan Gibran, Ina Liem Soroti Administrasi Pendidikan

Ina Liem: Masyarakat Jangan Dibodohi demi Perebutan Kekuasaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Sekjen PROJO: Partai Pengusung Prabowo-Gibran Tetap Solid, Polemik Ijazah Gibran Bukan Soal Pilpres 2029

Sekjen PROJO: Hormati Putusan MA Harus Dibaca Sesuai Objek Perkara

31 Oktober 2026
Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

Budi Arie Sebut Jokowi Sulit Disingkirkan dari Panggung Politik: Beliau Simbol Rakyat

31 Oktober 2026
Budi Arie Ingatkan Elite Politik: Indonesia Hanya Punya 20 Tahun Menuju Negara Maju

Budi Arie Ingatkan Elite Politik: Indonesia Hanya Punya 20 Tahun Menuju Negara Maju

31 Oktober 2026
Budi Arie: Isu Pemakzulan Terlalu Berisiko bagi Negara, Rakyat Sudah Memutuskan di Pemilu

Budi Arie: Isu Pemakzulan Terlalu Berisiko bagi Negara, Rakyat Sudah Memutuskan di Pemilu

31 Oktober 2026
Jokowi Hadiri Konsolidasi Relawan di Solo, Budi Arie: Perkuat Kebersamaan dan Semangat Sumpah Pemuda

Jokowi Hadiri Konsolidasi Relawan di Solo, Budi Arie: Perkuat Kebersamaan dan Semangat Sumpah Pemuda

31 Oktober 2026
Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

30 Oktober 2026

TRENDING

  • Jokowi Hadiri Konsolidasi Relawan di Solo, Budi Arie: Perkuat Kebersamaan dan Semangat Sumpah Pemuda

    Jokowi Hadiri Konsolidasi Relawan di Solo, Budi Arie: Perkuat Kebersamaan dan Semangat Sumpah Pemuda

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Budi Arie: Isu Pemakzulan Terlalu Berisiko bagi Negara, Rakyat Sudah Memutuskan di Pemilu

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

    541 shares
    Share 216 Tweet 135
  • Budi Arie Sebut Jokowi Sulit Disingkirkan dari Panggung Politik: Beliau Simbol Rakyat

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Budi Arie Ingatkan Elite Politik: Indonesia Hanya Punya 20 Tahun Menuju Negara Maju

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Sekjen PROJO: Hormati Putusan MA Harus Dibaca Sesuai Objek Perkara

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

    16 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.