JAKARTA, PROJO.or.id – Sejarah reformasi 1998 tidak bisa dilepaskan dari peran gerakan mahasiswa yang militan. Namun, 28 tahun berselang, peta dukungan para aktivis tersebut mengalami pergeseran menarik. Dalam diskusi terbaru di kanal YouTube Podcast Total Politik, Budi Arie Setiadi, Ketua Umum PROJO sekaligus pelaku sejarah Reformasi 98, membedah alasan di balik fenomena banyak rekan sejawatnya yang kini melabuhkan dukungan kepada Prabowo Subianto.
Konsistensi Nilai vs Manuver Politik
Sebagai sosok yang terlibat langsung dalam pergolakan mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) saat itu, Budi Arie mengenang kembali empat tokoh sentral reformasi: Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Amien Rais. Namun, ia memberikan catatan kritis pada perjalanan masing-masing tokoh tersebut.
Menurut Budi Arie, kelompok aktivis 98 saat itu lebih memilih berkiblat pada Gus Dur, Megawati, dan Sri Sultan karena dinilai konsisten dalam nilai-nilai perjuangan demokrasi. Sebaliknya, ia menilai Amien Rais terlalu banyak melakukan manuver politik yang dinamis namun seringkali kehilangan relevansinya di mata para aktivis.
“Pak Amien punya jasa, tapi kita lebih berpegang pada Gus Dur, Bu Mega, dan Sultan karena ada kesamaan nilai dan konsistensi. Pak Amien itu kebanyakan manuver politiknya,” ujar Budi Arie dalam podcast tersebut.
Prabowo Subianto sebagai Titik Temu (Muara)
Salah satu poin menarik yang dibahas dalam video tersebut adalah mengapa Prabowo Subianto, yang pada 1998 berada pada posisi yang berseberangan dengan gerakan mahasiswa, kini justru menjadi tempat bermuaranya banyak eksponen 98. Sebagai pelaku sejarah, Budi Arie menjelaskan bahwa hal ini merupakan hasil dari proses kedewasaan politik dan penilaian terhadap karakter kepemimpinan.
Ada tiga alasan utama yang dikemukakan Ketua Umum PROJO ini:
-
Kemampuan Merangkul (Inklusivitas): Prabowo dinilai memiliki keinginan kuat untuk menyatukan semua potensi anak bangsa, termasuk mereka yang dulu berseberangan. Contoh nyatanya adalah rekonsiliasi dan kerja sama erat dengan Presiden Jokowi.
-
Visi Demokrasi Ekonomi: Budi Arie menyebut Prabowo mewarisi pemikiran kakeknya, Margono Djojohadikusumo (pendiri BNI), tentang demokrasi ekonomi—bahwa kedaulatan politik harus dibarengi dengan akses ekonomi yang adil bagi rakyat kecil.
-
Patriotisme dan Keberanian: Di mata para aktivis, Prabowo dianggap sebagai sosok petarung yang percaya pada proses demokrasi langsung melalui partai politik dan pemilihan umum.
“Pak Prabowo memiliki kemampuan dan keinginan untuk merangkul semua pihak. Di mata aktivis 98, beliau dianggap elit yang bisa bekerja sama untuk mewujudkan demokrasi dan membangun bangsa,” tegas Budi Arie.
Kritik yang Justru “Menyinarkan”
Menanggapi serangan-serangan tajam yang dilontarkan Amien Rais belakangan ini terhadap Prabowo Subianto dan ajudannya, Mayor Teddy, Budi Arie justru melihatnya dari sudut pandang pengalaman sejarah. Ia mencatat pola di mana tokoh-tokoh yang dikritik keras oleh Amien Rais justru kariernya semakin bersinar.
“Faktanya, semua orang yang dihantam Pak Amien Rais justru bersinar. Contohnya Pak Jokowi selama 10 tahun dikritik, tapi approval rating-nya tetap tinggi. Saya berharap Pak Prabowo dan Mayor Teddy juga makin bersinar setelah ini,” tambahnya.
Masa Depan Desa dan Koperasi
Budi Arie juga menekankan pentingnya intervensi negara dalam memperkuat akses produksi, permodalan, dan pemasaran bagi masyarakat desa. Visi ini, menurutnya, sejalan dengan semangat Prabowo Subianto dalam memberdayakan koperasi sebagai pilar ekonomi nasional demi mewujudkan kesejahteraan yang merata.
Bagi Budi Arie Setiadi, perjuangan reformasi adalah perjalanan panjang. Dari sistem yang otoriter menuju demokrasi sudah tercapai, namun penguatan kelembagaan dan peningkatan ekonomi rakyat—yang kini diperjuangkan bersama Prabowo—adalah agenda besar yang harus dituntaskan.***










