• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
5 Juni 2026
in Sosok
Waktu Baca: 4 menit
A A
0
Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

​YOGYAKARTA, PROJO.or.id – Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah lembaran tentang tumpukan buku di perpustakaan dan hiruk-pikuk ruang seminar.

Namun bagi Joko Widodo, mahasiswa angkatan 1980 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), separuh jiwanya saat itu tertinggal di rimba raya dan puncak-puncak gunung yang menantang langit.

Sebelum dikenal sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia, pria kurus yang akrab disapa Jokowi ini adalah sosok petualang tangguh yang lincah menembus lebatnya hutan tropis.

KabarLainnya

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara

​Secara resmi, ketertarikan Jokowi pada alam bebas tertuang lewat lembar komitmen tanggal 26 Maret 1981. Hari itu, ia tercatat sah bergabung menjadi anggota Silvagama, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam khusus di lingkungan Fakultas Kehutanan UGM. Di sinilah, karakter kepemimpinan, ketekunan, dan fisiknya yang prima ditempa oleh alam liar.

​Dari sekian banyak catatan perjalanannya, salah satu episoda paling ikonik dan mellegenda di kalangan alumni Silvagama adalah “Ekspedisi Kerinci 1983”. Pada Februari tahun itu, Jokowi bersama 13 rekannya sesama rimbawan muda bertolak menuju Jambi. Misi mereka tidak main-main: menaklukkan Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjulang tegak setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl).

 

View this post on Instagram

 

​Perjalanan Berat di Zaman yang Belum Instan

Mendaki gunung pada dekade 1980-an sangat jauh berbeda dengan tren pendakian modern saat ini. Fasilitas serba terbatas. Jangan bayangkan jaket waterproof ultra-light atau tenda modern yang ringkas. Tim Ekspedisi Kerinci 1983 harus saling meminjam peralatan ke sesama mahasiswa di kampus.

​Mereka memanggul keranjang punggung yang berat dan membawa tenda jenis bivak berukuran raksasa. Urusan logistik pun dikelola secara swadaya; kompor minyak tanah yang rawan bocor dan piring-piring seng beradu di dalam tas sepanjang jalur pendakian. Belum ada pos-pos pendakian resmi atau jalur rapi seperti sekarang.

Jalur pendakian saat itu didominasi vegetasi hutan rasamala yang rapat dengan kemiringan ekstrem yang menuntut pendaki merangkak, ditambah bayang-bayang ancaman Harimau Sumatra yang kala itu masih sering melintasi jalur rimba Kerinci.

​Namun di sinilah kelebihan fisik Jokowi muda terlihat. Rekan seangkatan sekaligus sahabat pendakiannya, Totok Suripto, mengenang bahwa di balik perawakannya yang kurus, Jokowi memiliki stamina yang luar biasa.

“Saat naik Gunung Kerinci itu, memang yang sampai puncak pertama kali itu Jokowi, saya nomor dua,” cerita Totok dalam sebuah reuni alumni UGM.

Jokowi digambarkan sebagai pendaki yang sangat lincah. Kendati jalannya cepat dan selalu berada di depan, ia tak pernah egois; Jokowi selalu berhenti di batas vegetasi aman untuk menunggu rekan-rekannya yang tertinggal di belakang.

​Bukan Sekadar Pendakian, Tapi Awal Mula Paradigma

Kehadiran Jokowi dalam tim ternyata bukan sekadar sebagai pelengkap fisik. Rekan pendaki lainnya, Ucok, menuturkan bahwa Jokowi adalah sosok mahasiswa yang sangat rajin dan tertib mencatat.

Karena sifat telitinya itulah, ia didelegasikan oleh tim untuk menyusun laporan observasi ilmiah pasca-pendakian guna dilaporkan ke Dinas Kehutanan yang mendanai sebagian ekspedisi tersebut.

​Menariknya, perjalanan jauh dari Yogyakarta menuju Sumatra ini menyisakan impresi mendalam yang kelak mengubah jalannya sejarah Indonesia. Buku “Jokowi Travelling Story: Kerinci 1983” karya Rifqi Hasibuan dan Iqbal Aji Daryono mengupas bagaimana perjalanan ini membentuk visi kepemimpinannya.

​Ketika rombongan Silvagama harus memutar jalan akibat insiden bus yang mereka tumpangi mengalami kendala di daerah Indarung, Sumatra Barat, Jokowi muda disuguhi pemandangan elok daerah Solok sekaligus realita pahit: infrastruktur jalan yang rusak parah dan kesenjangan pembangunan yang timpang jika dibandingkan dengan Pulau Jawa.

​Momen kontemplasi di atas bus tua dan dinginnya Puncak Kerinci itu diyakini para sahabatnya menjadi pemantik awal lahirnya kebijakan-kebijakan besar puluhan tahun kemudian.

Dari sanalah paradigma “Indonesia Sentris”—bukan lagi Jawa Sentris—mulai mengkristal di kepala sang insinyur muda. Ambisinya membangun infrastruktur pinggiran, membuka akses listrik desa, hingga program revitalisasi budaya seperti “Seribu Rumah Gadang” di Sumatra Barat lahir dari memori perjalanan masa mudanya sebagai seorang anggota Mapala Silvagama.

​Kini, puluhan tahun telah berlalu sejak bendera Silvagama dikibarkan Jokowi muda di puncak tertinggi Sumatra.

Saat ini langkah kakinya mungkin tidak lagi menapaki tanah becek jalur hutan. Namun bagi alam dan rimba raya, ia akan selalu diingat sebagai rimbawan lincah angkatan ’80 yang berani bermimpi dari puncak gunung.***

Tags: JokowiJokowi MudaUGM
Share10Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Skandal BGN: PROJO Gen Z Desak Usut Tuntas Pengkhianat Program Makan Bergizi Gratis!

Kabar Selanjutnya

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci
Sosok

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

5 Juni 2026
Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik
Sosok

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

13 Maret 2026
Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara
Sosok

Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara

13 Maret 2026
Kabar Selanjutnya
Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Dari Pasar Terapung ke Ekonomi Kreatif: Saatnya Banua Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk

Dari Pasar Terapung ke Ekonomi Kreatif: Saatnya Banua Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

PROJO: Maulid Nabi 1448 H Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Berbangsa

25 Agustus 2026

[ Siaran Pers ] PROJO Ajak Publik Sikapi Video Budi Arie Secara Utuh dan Proporsional

25 Agustus 2026

Sekjen PROJO: Pahami Utuh Video Budi Arie, Jangan Terjebak Tafsir dari Potongan Pernyataan

25 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

24 Agustus 2026
Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026

TRENDING

  • [ Siaran Pers ] PROJO Ajak Publik Sikapi Video Budi Arie Secara Utuh dan Proporsional

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Mengawal HUT ke-12 PROJO: Cerita Yati Nurhayati dan Harapan Persaudaraan Tanpa Batas

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
  • PROJO: Maulid Nabi 1448 H Momentum Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Berbangsa

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Sekjen PROJO: Pahami Utuh Video Budi Arie, Jangan Terjebak Tafsir dari Potongan Pernyataan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.