DI TENGAH derasnya arus digitalisasi dan perubahan pola ekonomi dunia, daerah tidak lagi cukup hanya mengandalkan sumber daya alam. Batu bara, perkebunan, dan berbagai komoditas memang masih menjadi penopang ekonomi daerah.
Namun pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa masa depan pertumbuhan justru ditentukan oleh kreativitas manusia, kemampuan berinovasi, dan kekuatan identitas budaya.
Kalimantan Selatan memiliki modal besar untuk itu selama ini, Banua dikenal dengan pasar terapung, sasirangan, kuliner khas, budaya sungai, serta masyarakat yang religius dan ramah. Semua itu sebenarnya bukan sekadar warisan budaya, melainkan aset ekonomi yang nilainya terus meningkat apabila dikelola dengan baik.
Pertanyaannya, apakah kita sudah benar-benar menjual kekuatan tersebut kepada dunia?
Di era media sosial, wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat yang indah. Mereka mencari pengalaman yang unik dan cerita yang berkesan. Orang datang ke suatu daerah bukan hanya untuk membeli barang, tetapi untuk merasakan identitas daerah tersebut.
Karena itu, saya meyakini bahwa masa depan ekonomi Kalimantan Selatan tidak hanya berada di sektor ekstraktif, tetapi juga pada ekonomi kreatif yang berakar pada budaya lokal.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir mulai memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai program dan kolaborasi lintas sektor. Bahkan tema “Kalsel Goes to The World” yang diusung dalam agenda pembangunan ekonomi kreatif menunjukkan optimisme bahwa potensi Banua dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Optimisme tersebut tentu bukan tanpa alasan.
Lihatlah bagaimana sasirangan berkembang dari sekadar kain tradisional menjadi produk fesyen yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Banyak pelaku UMKM muda yang kini mampu memasarkan produknya ke berbagai daerah melalui platform digital.
Produk-produk lokal yang dahulu hanya dikenal di pasar tradisional, kini dapat ditemukan di marketplace nasional bahkan internasional.
Begitu pula dengan kuliner khas Banjar.
Soto Banjar, ketupat kandangan, wadai tradisional, hingga berbagai produk olahan ikan sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi duta budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Namun ada satu hal yang sering terlupakan.
Keunggulan sebuah daerah tidak hanya terletak pada produknya, tetapi pada cerita di balik produk tersebut.
Orang membeli kopi bukan sekadar karena rasanya.
Mereka membeli cerita tentang petaninya.
Orang membeli kain bukan hanya karena motifnya. Mereka membeli sejarah dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Hal yang sama berlaku bagi Kalimantan Selatan.
Pasar terapung misalnya. Selama ini pasar terapung sering dipromosikan sebagai objek wisata. Padahal lebih dari itu, pasar terapung adalah simbol peradaban sungai yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Ia menggambarkan kemampuan masyarakat Banjar beradaptasi dengan alam sekaligus membangun sistem ekonomi berbasis sungai jauh sebelum hadirnya pusat-pusat perbelanjaan modern.
Tidak mengherankan apabila Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya memperkenalkan budaya pasar terapung kepada masyarakat nasional, termasuk melalui pembangunan dan pengembangan Dermaga Pasar Terapung di TMII sebagai etalase budaya Banua.
Langkah tersebut patut diapresiasi karena memperlihatkan bahwa budaya bukan hanya sesuatu yang harus dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Di sisi lain, generasi muda juga memiliki peran yang sangat penting.
Hari ini banyak anak muda Banua yang sukses menjadi konten kreator, desainer, fotografer, pelaku UMKM digital, hingga pengembang berbagai produk kreatif.
Mereka membawa semangat baru bahwa berkarya dari daerah bukan lagi sebuah keterbatasan.
Teknologi telah menghapus banyak batas geografis.
Seseorang yang tinggal di Banjarmasin, Banjarbaru, Hulu Sungai, atau Tanah Bumbu kini memiliki kesempatan yang sama untuk menjangkau pasar nasional bahkan global.
Yang dibutuhkan adalah kreativitas, keberanian mencoba, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Karena itulah pembangunan sumber daya manusia menjadi sangat penting.
Investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan jalan, jembatan, atau gedung. Investasi terbesar adalah membangun generasi muda yang kreatif, produktif, dan percaya diri terhadap identitas daerahnya sendiri.
Ketika anak muda bangga memakai sasirangan, mempromosikan kuliner Banjar, mengangkat budaya sungai melalui konten digital, atau membangun usaha berbasis kearifan lokal, sesungguhnya mereka sedang menjadi duta pembangunan daerah.
Kabar baiknya, berbagai program penguatan ekonomi kreatif dan UMKM terus berkembang di Kalimantan Selatan. Dukungan terhadap pelaku usaha kreatif, promosi produk daerah, hingga perluasan akses pembiayaan bagi UMKM menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi rakyat sedang tumbuh ke arah yang positif.
Tentu masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari peningkatan kualitas SDM, akses pasar, literasi digital, hingga penguatan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan generasi muda.
Namun saya percaya, Banua memiliki modal sosial yang kuat untuk menghadapi tantangan tersebut.
Masyarakat Kalimantan Selatan sejak dahulu dikenal memiliki semangat gotong royong, jiwa kewirausahaan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi masa depan.
Sudah saatnya kita melihat budaya bukan sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai peluang masa depan.
Sudah saatnya kita memahami bahwa kekayaan daerah bukan hanya yang tersimpan di dalam tanah, tetapi juga yang hidup di tengah masyarakat.
Dan sudah saatnya Kalimantan Selatan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual cerita, identitas, dan kebanggaan sebagai Banua yang kaya akan budaya.
Karena pada akhirnya, daerah yang mampu memenangkan masa depan bukanlah daerah yang memiliki sumber daya alam paling banyak, melainkan daerah yang mampu mengubah warisan budayanya menjadi sumber inspirasi, kreativitas, dan kesejahteraan bagi masyarakatnya.***
Aulia Abdi, Ketua DPD PROJO Kalimantan Selatan












