KUPANG, PROJO.or.id – Teori politik konvensional yang menyebut magnet seorang pemimpin akan pudar setelah masa kekuasaannya berakhir, tampaknya tidak berlaku bagi Joko Widodo. Keputusan Presiden ke-7 RI tersebut memilih Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi safari daerahnya pasca-pemulihan kesehatan, memicu gelombang haru sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Indonesia Timur.
Menyikapi hal tersebut, Dewan Pimpinan Daerah PROJO NTT secara resmi merilis pernyataan sikap. Ketua DPD PROJO NTT, James Faot, menegaskan bahwa langkah Jokowi ini merupakan kejutan luar biasa yang membuktikan ketulusan seorang negarawan.
“Pilihan ini jelas bukan sekadar coretan rutin di atas agenda formal. Ini adalah manifestasi dari gaya kepemimpinan Jokowi yang sejak dulu kita kenal: membumi, tulus, dan selalu menjadikan rakyat sebagai episentrum dari setiap langkahnya,” ujar James dalam keterangan resminya di Kupang, Minggu (14/6/2026).
Indonesia Sentris Bukan Slogan, tapi Bukti Cinta Nyata
Menurut James, pemilihan NTT sebagai titik safari daerah memiliki ikatan emosional dan nilai strategis yang sangat kuat.
Bagi Jokowi, NTT bukan sekadar titik buram di atas peta pembangunan, melainkan simbol utama keberhasilan pemerataan keadilan sosial atau visi Indonesia Sentris yang ia perjuangkan selama sepuluh tahun memimpin.
Kehadiran Jokowi di NTT tidak hanya sekadar merespons kerinduan serta undangan tulus masyarakat setempat. Kunjungan strategis ini bertujuan untuk meninjau keberlanjutan hasil-hasil pembangunan, termasuk infrastruktur air dan sektor pariwisata.
Lebih dari itu, mantan Presiden ke-7 RI ini ingin memastikan bahwa pembangunan tersebut memberikan dampak ekonomi langsung demi mendongkrak kesejahteraan dan pendapatan masyarakat lokal secara maksimal.
“Kehadiran beliau tanpa protokoler yang kaku ini menjadi tamparan positif bagi kultur politik kita. Ini adalah teladan langka dari seorang negarawan yang hadir merawat harapan masyarakat, bukan karena ambisi politik, melainkan karena panggilan jiwa,” tegas James.
Fondasi Nyata: Mengubah NTT dari Subsisten Menjadi Produktif
PROJO NTT menggarisbawahi bahwa kecintaan rakyat NTT kepada Jokowi tidak lahir dari ruang hampa atau propaganda media. Cinta itu tumbuh subur karena adanya basis material konkret yang secara nyata mengubah wajah dan martabat NTT.
James memaparkan pilar utama warisan Jokowi yang kini menjadi urat nadi transformasi ekonomi di tanah Flobamora.
Dampak nyata pembangunan di NTT terlihat jelas dari empat sektor utama. Bendungan Raknamo dan Temef kini menjadi sumber kehidupan yang membebaskan petani dari kekeringan, sementara Inpres Jalan Daerah berhasil membuka konektivitas di wilayah-wilayah terisolasi.
Kualitas hidup masyarakat juga meningkat berkat RSUP dr. Ben Mboi yang menyediakan layanan kesehatan kelas satu tanpa harus keluar pulau, serta berkembangnya budidaya rumput laut sebagai penggerak utama ekonomi biru bagi warga pesisir.
“Ini bukan sekadar soal proyek fisik atau tumpukan semen dan beton. Ini adalah soal ketepatan Bapak Jokowi dalam meletakkan fondasi transformasi ekonomi. NTT yang dulu berbasis subsisten (sekadar bertahan hidup), kini bergerak menjadi daerah ekonomi produktif di sektor pertanian, peternakan, dan kelautan,” lanjutnya.
Suntikan Moral untuk Kader PROJO
Momentum kunjungan ini menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi seluruh kader PROJO di NTT. Organisasi relawan terbesar ini berkomitmen untuk terus menjaga dan merawat semangat ‘turun ke bawah’ (turba) yang selama ini diajarkan oleh Jokowi.
Sebagai penutup, James mengingatkan para elite dan pelaku politik di tanah air tentang esensi sejati dari seorang pemimpin.
“Kekuatan seorang pemimpin sejati tidak diukur dari megahnya jabatan formal yang sedang disandang, melainkan dari seberapa dalam namanya tertanam di hati rakyat kecil. Dan Bapak Joko Widodo, sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya selalu ada di sana, di hati rakyat NTT,” pungkasnya.***











