• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

WTE Bukan Solusi Tunggal!, PROJO Desak Reformasi Hulu

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
14 Juni 2026
in Kabar Nasional
Waktu Baca: 3 menit
A A
0
WTE Bukan Solusi Tunggal!, PROJO Desak Reformasi Hulu

Presiden Prabowo menyampaikan sambutan pada acara Indonesia Economic Outlook 2026, yang digelar di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, pada Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: BPMI Setpres)

JAKARTA, PROJO.or.id – Pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang menyebut sampah sebagai “bencana dan penyakit” menjadi alarm keras bagi tata kelola lingkungan nasional.

Peringatan ini membongkar realitas pahit di balik pertumbuhan ekonomi bahwa Indonesia sedang berjalan di atas bom waktu ekologis.

Menanggapi situasi darurat ini, DPP PROJO mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak pada solusi instan di hilir melalui dorongan realisasi 34 proyek Waste-to-Energy (WtE).

Langkah masif demi mengantisipasi kolapsnya TPA nasional pada 2028 tersebut dinilai berpotensi timpang jika hulu pengelolaan sampah diabaikan.

“Visi besar gerakan ‘Indonesia ASRI’ yang diusung Presiden terancam pincang jika pemerintah hanya sibuk membangun infrastruktur canggih nan mahal di hilir, sementara membiarkan hulu pengelolaan sampah kita dalam kondisi primitif dan timpang secara sistemik,” tegas Galih Aji Prasongko, Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan DPP PROJO.

KabarLainnya

Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Menurut PROJO, akar masalah krisis sampah nasional bukan semata-mata soal volume, melainkan akses layanan yang sangat regresif yang membebani masyarakat miskin dan wilayah perdesaan.

Krisis di tingkat hulu ini mencakup paradoks layanan perkotaan yang masih terjebak pola kuno “Kumpul-Angkut-Buang” sehingga mematikan motivasi pemilahan dan menciptakan gunung limbah tercampur yang berbahaya di TPA.

Di sisi lain, terdapat ketimpangan akses yang ekstrem di mana 57,2% rumah tangga terpaksa membakar sampah mereka sendiri karena tidak terjangkau armada resmi. Praktik open burning ini melepaskan zat karsinogenik seperti dioksin yang merusak kesehatan anak-anak sekaligus memicu emisi gas rumah kaca.

Kondisi ini diperparah oleh kerentanan berlapis kelompok miskin, di mana 83,5% di antaranya memiliki praktik pengelolaan buruk akibat ketiadaan pilihan layanan bersubsidi dari pemerintah.

Kondisi hulu yang compang-camping ini mengancam keberlangsungan proyek WtE bernilai triliunan rupiah. Tanpa pendekatan Integrated Solid Waste Management (ISWM) yang kokoh, mesin insinerator canggih akan kekurangan pasokan sampah kering berkalori tinggi.

Membakar sampah basah yang tercampur hanya akan menguras APBN maupun APBD demi subsidi operasional yang tidak berkesudahan.

Oleh karena itu, PROJO menegaskan bahwa desentralisasi lewat TPS 3R, formalisasi pemulung, serta reformasi fiskal dengan menaikkan rata-rata anggaran sampah dari 0,64% menjadi 3-4% APBD adalah harga mati yang harus segera dieksekusi.

Sinergi dan Pembagian Peran Nyata Multi-Stakeholder

Untuk menyembuhkan penyakit kronis ini, PROJO mendesak adanya dekonstruksi peran yang jelas, rigid, dan saling mengunci dari pusat hingga ke akar rumput.

Di tingkat pusat, kementerian terkait harus bertindak sebagai regulator makro.

Kementerian LHK wajib memperketat regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) bagi produsen, sedangkan Kementerian PUPR berfokus pada standardisasi teknis TPS 3R desa dan Pusat Daur Ulang (PDU) regional agar proyek hilir seperti WtE mendapat pasokan sampah berkualitas.

Dari sisi anggaran, Kementerian Dalam Negeri memegang kunci dengan mengeluarkan instruksi tegas yang mewajibkan penataan porsi anggaran sampah minimal 3% di dalam APBD.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten dan Kota wajib merombak total model bisnis Dinas Lingkungan Hidup menjadi sistem logistik terpilah dan memperluas armada roda tiga ke gang sempit.

Pemda juga perlu menerapkan reformasi retribusi berkeadilan lewat subsidi silang tarif progresif untuk sektor komersial demi menggratiskan layanan bagi kelompok rentan.

Sementara itu, sektor informal seperti pemulung dan lapak harus diformalisasikan menjadi petugas resmi dengan jaminan sosial BPJS serta upah layak setara UMR sebagai tulang punggung ekonomi sirkular.

Sektor swasta dan industri juga dituntut mengambil tanggung jawab nyata. Produsen FMCG wajib mendesain ulang kemasan agar mudah didaur ulang dan mengaktifkan skema take-back, sedangkan investor WtE harus aktif membina TPS 3R di wilayah tangkapannya guna menjamin rantai pasok yang berkelanjutan.

Terakhir, masyarakat dan komunitas menjadi benteng pertama di hulu. Setiap rumah tangga harus berkomitmen memilah sampah sejak dari dapur dan menghentikan kebiasaan membakar sampah, didukung oleh penguatan kelembagaan lokal seperti RT/RW dan PKK sebagai pengawas sosial di lingkungan sekitar.

Menghapus Stigma, Merajut Masa Depan

Mengubah paradigma Indonesia dari negara poluter menjadi bangsa sirkular membutuhkan napas panjang dan ketegasan kepemimpinan.

Teknologi hilir seperti Waste-to-Energy hanyalah pelengkap, bukan obat dewa yang bisa menyelesaikan masalah dalam semalam.

Keberhasilan gerakan “Indonesia ASRI” tidak boleh diukur dari megahnya gedung WtE yang dibangun, melainkan dari seberapa adil layanan sampah mampu menjangkau gang-gang sempit perkotaan dan desa-desa terpencil demi menyelamatkan 70,7% sungai kita yang kini meranggas terkontaminasi limbah.

Saatnya pemerintah memadamkan api pembakaran di pekarangan warga dan mengalirkan anggaran ke tempat yang paling membutuhkan.

Hanya dengan keadilan akses itulah, sampah tidak lagi menjadi bencana, melainkan berbalik menjadi simbol kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.***

Tags: DanantaraGalih Aji PrasongkoKetua Bidang Lingkungan Hidup DPP PROJOPengelolaan SampahPresiden PrabowoWaste to Energi
Share8Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Bukan karena Ambisi Politik, PROJO NTT Sebut Kunjungan Jokowi adalah Panggilan Jiwa

Kabar Selanjutnya

Menjinakkan Bom Waktu Ekologis: Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya
Kabar Nasional

Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga
Kabar Nasional

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya
Kabar Nasional

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

24 Agustus 2026
Kabar Selanjutnya
Menjinakkan Bom Waktu Ekologis: Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Menjinakkan Bom Waktu Ekologis: Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Ketika Tersangka Mendadak Menjadi "Whistle Blower"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

24 Agustus 2026
Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

24 Agustus 2026
HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026

TRENDING

  • Mengawal HUT ke-12 PROJO: Cerita Yati Nurhayati dan Harapan Persaudaraan Tanpa Batas

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Dua Belas Tahun Menjaga Api—Ketika Relawan Tidak Pulang Setelah Pemilu & Membangun Demokrasi Partisipatoris

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Ketua Umum PROJO Budi Arie: MBG Penting untuk SDM, Tata Kelola Harus Diperbaiki agar Tetap Kredibel

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

    16 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.