“Wapres Gibran ini justru tepat untuk generasi sekarang. Kayaknya dia Wapres pertama dari milenial, nggak sih? Artinya di antara semua wakil presiden ada Adam Malik sampai Kyai Haji Ma’ruf, dia adalah justru Wakil Presiden yang mengerti pop culture. Jadi emang harusnya Gibran yang nyontohin kepada Indonesia bahwa ada bagian dari pop culture. Komedi itu baik-baik saja, aman-aman aja.”
Ungkapan yang dikemukakan oleh Pandji Pragiwaksono di podcast “Curhat Bang” Denny Sumargo ini merupakan salah satu panggung pembuktian bagi gaya kepemimpinan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ketika banyak pejabat publik memilih membangun benteng tinggi atau mengerahkan instrumen hukum saat dihantam kritik, Gibran justru memamerkan keahlian politik yang tak biasa.
Mengutip komentar seorang netizen yang belakangan viral di media sosial: “Inilah hebatnya Gibran. Saat ada badai, dia tidak lawan badainya, tapi berselancar di atas badai tersebut.”
Analogi “berselancar” ini bukan sekadar kiasan estetis, melainkan gambaran akurat dari strategi manajemen krisis sang Wapres dalam menghadapi dua ombak besar sekaligus: demonstrasi mahasiswa di jalanan dan polemik satir komedi di ruang digital.
Membuka Pintu Istana, Menjinakkan Ombak Jalanan
Badai kesekian kalinya datang dari aspal panas kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas membawa enam tuntutan berat, mulai dari evaluasi program Makan Bergizi Gratis hingga masalah stabilitas rupiah. Respons konvensional negara biasanya adalah barikade kawat berduri dan gas air mata.
Namun, Gibran memilih menunggangi ombak tersebut. Ia membuka gerbang Istana Wakil Presiden lebar-lebar dan mengundang 15 perwakilan mahasiswa masuk ke ruangannya.
Selama lebih dari satu jam, Gibran duduk bersama mereka, mendengarkan kritik secara saksama, dan mencatat sendiri poin-poin tuntutan tersebut di buku sakunya untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dengan menjadikan Istana sebagai ruang dialog yang inklusif, Gibran berhasil menjinakkan badai. Hasilnya? Mahasiswa membubarkan diri dengan tertib, arus lalu lintas kembali normal, dan tensi politik mereda tanpa perlu ada gesekan fisik.
Memeluk Satir Mens Rea, Menjadi Wapres Melek Pop Culture
Badai lainnya bergulir di ranah digital dan industri kreatif. Pertunjukan komedi tunggal spesial ke-10 karya Pandji Pragiwaksono berjudul Mens Rea—yang tayang global di Netflix sejak akhir Desember 2025—memicu kontroversi panas.
Isinya yang menyenggol isu sensitif membuat Pandji dihujani somasi hingga dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah organisasi massa keagamaan.
Nama Gibran ikut tersenggol dalam materi komedi tersebut. Namun, alih-alih ikut melayangkan laporan hukum atau bersikap defensif, Gibran justru berselancar dengan sangat santai.
Dalam sebuah penampilannya di siniar (podcast), ia dengan rileks menertawakan dirinya sendiri, berseloroh bahwa fisiknya yang diledek memang sudah bawaan lahir, dan memuji kesuksesan karya Pandji.
Sikap legawa inilah yang akhirnya membuat Pandji kagum dan melontarkan pujian di podcast Denny Sumargo yang potongan videonya kemudian kembali viral di akun @theogidn.
Lihat postingan ini di Instagram
Seni Kepemimpinan Generasi Baru
Apa yang dilakukan Gibran adalah sebuah lompatan dalam komunikasi politik di Indonesia. Dengan bersikap no issue terhadap satir dan bersikap akomodatif terhadap demonstran, ia meruntuhkan stigma bahwa penguasa selalu antikritik dan mudah tersinggung (baperan).
Ia menggunakan energi dari badai kritik tersebut untuk memperkuat citra dirinya sebagai pemimpin milenial yang adaptif, rileks, namun tetap responsif.
Gibran telah membuktikan diri sebagai peselancar yang ulung di atas ombak opini publik. Namun, setelah laut kembali tenang, masyarakat tentu akan tetap menunggu di tepi pantai—menanti apakah catatan-catatan penting di buku saku sang Wakil Presiden akan benar-benar menjelma menjadi kebijakan nyata yang berpihak pada rakyat, atau sekadar menjadi atraksi berselancar yang memukau mata.
***
Sikap tenang dan kemampuan Gibran dalam mengendalikan respons internalnya alih-alih menyerang balik realitas eksternal ini seakan menghidupkan kembali pemikiran filsuf Yunani Kuno beraliran Stoisisme, Epiktetos, yang ribuan tahun lalu pernah berkata:
“Bukan hal-hal di luar diri kita yang membuat kita terganggu, melainkan cara kita menyikapi dan memandang hal-hal tersebut.”
Dalam dasar ajaran Stoisisme kuno, Epiktetos memperkenalkan konsep fundamental yang disebut “Dikotomi Kendali” (Dichotomy of Control).
Konsep ini membagi segala hal di dunia menjadi dua kategori: hal yang berada di bawah kendali kita (seperti pikiran, tindakan, dan respons kita sendiri) dan hal yang di luar kendali kita (seperti opini orang lain, kritik, tindakan kompetitor, hingga badai politik).
Epiktetos yang terlahir sebagai seorang budak sebelum akhirnya menjadi filsuf besar, mengajarkan bahwa penderitaan dan kekacauan emosional timbul ketika manusia mencoba mengontrol hal-hal eksternal yang sejatinya tidak bisa dipaksa.
Sebaliknya, kedamaian sejati dan kekuatan karakter hanya bisa diraih jika kita fokus sepenuhnya pada bagaimana kita merespons hal eksternal tersebut.
Ketika Gibran dihantam badai demonstrasi atau ejekan lewat seni satir, hal-hal tersebut adalah variabel eksternal yang di luar kendalinya sebagai manusia.
Alih-alih membuang energi untuk membungkam demonstran atau mempidanakan komika—tindakan defensif yang justru akan memicu badai yang lebih besar—ia memilih mengontrol satu-satunya hal yang bisa ia kuasai: responsnya sendiri.
Dengan menyambut mahasiswa dengan buku catatan dan membalas komedi dengan tawa, Gibran secara tidak langsung mempraktikkan kebajikan Stoik tertinggi.
Ia membuktikan bahwa alih-alih menjadi korban dari situasi, seorang pemimpin bisa menjadi tuan atas emosinya sendiri, mengubah energi negatif dari luar menjadi panggung pembuktian kedewasaan politik yang matang.***











