SOLO, PROJO.or.id — Tak ada suasana protokoler yang kaku ketika Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao menyambangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Sumber, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Jumat (4/9/2026).
Sekitar pukul 12.26 WIB, Xanana tiba mengenakan batik lengan panjang. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung disambut Jokowi di depan pintu rumah.
“Welcome to Solo. Welcome to my home. It’s good to see you again,” kata Jokowi sambil menyalami Xanana.
Pertemuan dua tokoh yang memiliki perjalanan panjang dalam sejarah hubungan Indonesia dan Timor Leste itu pun berlangsung cair. Tidak terlihat suasana pertemuan kenegaraan yang penuh formalitas. Yang muncul justru kesan dua sahabat lama yang kembali bertemu di rumah.
Begitu memasuki ruang tengah, Xanana disambut alunan musik keroncong. Bukan lagu diplomatik atau mars kenegaraan, melainkan “Bengawan Solo”, karya komponis legendaris asal Solo, Gesang Martohartono.
Pilihan lagu itu seolah menjadi jembatan budaya.
Xanana tampak menikmati musik yang dimainkan. Bahkan, ia ikut bernyanyi dengan menirukan lirik lagu hingga alunan “Bengawan Solo” selesai.
Momen sederhana itu menghadirkan wajah lain dari diplomasi. Tak ada meja konferensi, dokumen kerja sama, maupun pidato resmi. Hanya musik, percakapan, dan suasana rumah yang akrab.
Dari ruang tengah, Jokowi kemudian mengajak Xanana menuju ruang makan.
Di sana, sejumlah kuliner tradisional khas Solo telah disiapkan. Salah satunya adalah onde-onde, kudapan sederhana yang lazim ditemui dalam tradisi kuliner masyarakat Indonesia.
Jika diplomasi formal biasanya berlangsung melalui meja perundingan, pertemuan kali ini justru terasa seperti percakapan antarteman yang ditemani makanan ringan.
Xanana pun tampak santai ketika berbincang dengan awak media yang berada di sekitar kediaman Jokowi. Bahkan, dalam sebuah momen spontan, ia membagikan onde-onde miliknya kepada salah seorang wartawan.
Gestur kecil itu membuat suasana semakin cair.
Onde-onde yang berpindah tangan dari seorang perdana menteri kepada wartawan mungkin tampak sebagai peristiwa sederhana. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah nuansa diplomasi informal terasa.
Hubungan antarnegara tidak selalu hadir dalam ruang-ruang resmi. Kadang ia tumbuh melalui perjumpaan personal, percakapan yang hangat, musik yang dikenal bersama, dan makanan yang disantap tanpa sekat protokoler.
Bagi Solo, kedatangan Xanana juga menghadirkan cerita tersendiri. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa itu menjadi tempat berlangsungnya pertemuan seorang mantan kepala pemerintahan Indonesia dengan pemimpin Timor Leste dalam suasana yang jauh dari kesan formal.
Sementara bagi Xanana, kunjungan tersebut bukan sekadar bertemu seorang mantan presiden Indonesia. Ia datang ke rumah seorang sahabat, disambut lagu yang menjadi ikon Solo, kemudian duduk bersama menikmati kudapan tradisional.
Di tengah dinamika hubungan Indonesia dan Timor Leste, momen seperti ini menunjukkan bahwa diplomasi memiliki sisi manusiawi.
Ada sejarah yang mengikat kedua negara, ada kepentingan yang harus dibicarakan, tetapi ada pula persahabatan personal yang membuat hubungan antarmanusia tetap menemukan ruangnya.
Dan siang itu, di sebuah rumah di Sumber, Solo, diplomasi berjalan dengan cara yang paling sederhana: melalui sapaan hangat, alunan “Bengawan Solo”, dan sepiring onde-onde.***






![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-120x86.jpeg)




![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)