JAKARTA, PROJO.or.id – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi mengungkap pandangannya mengenai sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurut Budi Arie, Gibran memiliki sejumlah kemampuan yang diwarisi dari ayahnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), meski keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam karakter.
Budi Arie mengatakan salah satu kemampuan yang dimiliki Gibran adalah kemampuannya dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat.
Menurut dia, kemampuan tersebut memiliki kemiripan dengan Jokowi yang selama ini dikenal memiliki gaya komunikasi langsung ketika bertemu masyarakat.
“Gibran itu mewarisi beberapa kemampuan Pak Jokowi,” kata Budi Arie dalam podcast Hendri Satrio Official.
Namun, Budi Arie menilai Gibran dan Jokowi tetap memiliki karakter yang berbeda. Ia mengatakan pengalaman, generasi, serta perjalanan politik masing-masing membuat keduanya tidak dapat diposisikan sebagai sosok yang sepenuhnya sama.
“Gibran dan Pak Jokowi itu ada bedanya,” ujarnya.
Tidak Harus Sama dengan Jokowi
Budi Arie menilai Gibran tidak harus menjadi sosok yang persis sama dengan Jokowi. Menurut dia, setiap pemimpin memiliki karakter dan cara sendiri dalam menjalankan tugas politik maupun pemerintahan.
Ia melihat Gibran memiliki latar belakang generasi yang berbeda sehingga pendekatan yang digunakan dalam menghadapi persoalan juga dapat berbeda.
Bagi Budi Arie, kemampuan seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari kesamaan dengan tokoh sebelumnya, tetapi juga dari bagaimana yang bersangkutan menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Gibran saat ini menjalankan tugas sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, menurut Budi Arie, pengalaman Gibran dalam pemerintahan akan terus berkembang seiring perjalanan waktu.
Politik 2029 Masih Terbuka
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie juga menyinggung masa depan politik Gibran menuju 2029. Ia menilai terlalu dini untuk memastikan posisi Gibran dalam kontestasi politik mendatang.
Budi Arie menyebut politik sebagai art of possibility. Berbagai kemungkinan, menurut dia, masih dapat berubah seiring perkembangan situasi.
“Kartunya masih dikocok, belum dibagi,” katanya.
Budi Arie juga menyatakan harapannya agar Prabowo dan Gibran dapat melanjutkan pemerintahan untuk dua periode.
“Kita mengharapkan dua periode Pak Prabowo-Gibran,” ujar dia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa konfigurasi politik 2029 akan dipengaruhi banyak faktor. Pemerintah, kata dia, perlu menjalankan pemerintahan dengan baik dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Budi Arie pun mengingatkan agar Jokowi dan Prabowo tidak dipertentangkan. Menurut dia, kedua tokoh tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menempatkan kepentingan negara dan rakyat sebagai perhatian utama.
Sementara mengenai Gibran, Budi Arie menilai perjalanan politik Wakil Presiden tersebut masih panjang. Apa pun konfigurasi politik yang terbentuk pada 2029, menurut dia, akan sangat bergantung pada dinamika yang berkembang menjelang momentum tersebut.***












