JAKARTA, PROJO.or.id — Keluarga besar PROJO mengucapkan selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober 2026.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini menjadi momentum untuk kembali meneguhkan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pemersatu bangsa di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi menilai perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) membawa peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, kemajuan teknologi perlu tetap ditempatkan dalam kerangka kepentingan manusia, bangsa, dan negara.
Saat menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie menekankan bahwa pemanfaatan AI harus memperhatikan aspek safety, ethics, dan trustworthy. Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan dimensi kemanusiaan dalam penggunaan teknologi.
“Pemanfaatan AI yang spesifik dan memperhatikan etika AI serta human dimension,” kata Budi Arie dalam keterangan Kementerian Kominfo pada April 2024.
Menurut Budi Arie, perkembangan teknologi tidak boleh berjalan tanpa memperhatikan nilai dan kepentingan masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, ia juga pernah menekankan pentingnya Sovereign AI agar pengembangan kecerdasan artifisial dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional dan memperkuat kedaulatan digital Indonesia.
“Kita harus memastikan bahwa AI yang kita kembangkan mampu melindungi kedaulatan dan kepentingan nasional kita,” ujar Budi Arie pada Agustus 2024 lalu.
Pancasila dan Tantangan Algoritma
Di era algoritma, ruang publik mengalami perubahan besar. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, sementara teknologi dapat menentukan jenis informasi yang muncul di hadapan seseorang berdasarkan pola perilaku digitalnya.
Kondisi tersebut membuat nilai-nilai Pancasila semakin penting untuk menjadi pedoman dalam menggunakan teknologi.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan di ruang digital tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan dan perpecahan.
Sementara sila keempat menegaskan pentingnya musyawarah dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Demokrasi tidak cukup hanya dibangun berdasarkan apa yang paling viral, tetapi membutuhkan pertimbangan, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Sedangkan sila kelima mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat.
Budi Arie sendiri pernah mengajak masyarakat menanamkan nilai luhur bangsa untuk menghadapi penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Menurutnya, penyalahgunaan media sosial dapat merendahkan martabat sesama anak bangsa dan berpotensi mencederai demokrasi.
Dalam deklarasi Pemilu Damai 2024 di Makassar, Budi Arie juga menyerukan pentingnya mengedepankan informasi berdasarkan fakta, menolak politik identitas dan SARA, serta menjaga kedaulatan dan persatuan bangsa di tengah perbedaan.
Teknologi Harus Tetap Berpihak pada Manusia
Keluarga besar PROJO memandang tantangan Pancasila di era digital bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut.
Algoritma dapat membantu manusia memperoleh informasi, AI dapat meningkatkan produktivitas, dan teknologi digital dapat membuka berbagai peluang baru. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pihak yang menentukan arah penggunaannya.
Karena itu, perkembangan teknologi perlu disertai kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis, memeriksa informasi, menghormati perbedaan dan mempertimbangkan dampak dari setiap tindakan di ruang digital.
Pancasila dapat menjadi kompas agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan bangsa Indonesia dari nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial.
Budi Arie juga pernah mendorong pengembangan ekosistem AI Indonesia agar mampu menjadi inovator sekaligus inventor serta memperkuat kemandirian bangsa.
Dalam konteks Hari Kesaktian Pancasila, semangat tersebut dapat ditempatkan dalam satu pesan besar: kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter kebangsaan.
Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya momentum untuk mengingat sejarah, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kembali bagaimana lima sila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat dituntut tidak mudah terprovokasi. Di tengah perbedaan pilihan dan pendapat, persatuan harus tetap dijaga. Di tengah perkembangan AI dan teknologi digital, martabat manusia harus tetap menjadi pertimbangan utama.
Lima sila tidak cukup hanya dibaca. Lima sila tidak cukup hanya dihafalkan. Pancasila harus dihidupkan dalam cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara mengambil keputusan.
Pancasila sebagai pemersatu bangsa menjadi fondasi untuk membangun Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026.
Pancasila Pemersatu Bangsa.
Indonesia Berdaulat. Indonesia Adil. Indonesia Makmur.***













