TANGERANG, PROJO.or.id – Kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pembukaan Kongres Nasional V Asosiasi Pendeta Indonesia (API) meninggalkan kesan mendalam bagi sejumlah peserta. Bukan semata karena posisinya sebagai orang nomor dua di Indonesia, melainkan juga karena pesan persatuan dan pengalaman personal yang mereka rasakan saat bertemu langsung dengannya.
Salah satu peserta, Estefanus Balata, mengungkapkan bahwa dirinya melihat Gibran bukan hanya sebagai wakil presiden, tetapi sebagai pribadi yang berkarya bagi bangsa melalui upaya menyatukan dan merangkul berbagai elemen masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Estefanus setelah mengikuti pembukaan kongres di Grand Serpong Hotel & Resort, Tangerang, Banten, Kamis (8/10/2026).
“Bukan sekadar melihat dia sebagai wakil presiden. Kami melihat dia sebagai pribadi yang berkarya bagi bangsa. Kerja-kerja yang menyatukan semua elemen, kerja-kerja yang menyatukan dan merangkul semua umat,” ungkap Estefanus.
Pesan Persatuan dan Permohonan Maaf atas Kasus Intoleransi
Dalam pidatonya, Gibran menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara bangsa yang majemuk. Karena itu, persatuan, perdamaian, dan nilai-nilai toleransi harus terus dijaga di tengah keberagaman masyarakat.
Gibran juga menyampaikan permohonan maaf atas masih terjadinya kasus intoleransi di sejumlah daerah.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika di tempat Bapak-Ibu masih terjadi kasus-kasus intoleransi,” ujar Gibran.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, negara harus hadir untuk menjamin kemerdekaan setiap warga dalam memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.
Gibran juga mengingatkan para pemangku kepentingan di daerah, termasuk kepala daerah, kapolda, dan pangdam, agar peka terhadap situasi di tengah masyarakat.
Jika muncul persoalan intoleransi, ia meminta agar masalah tersebut segera ditangani dan dicarikan jalan keluar sebelum berkembang lebih jauh.
Wapres turut mengajak masyarakat untuk saling menguatkan, membantu, dan menopang satu sama lain. Perbedaan, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk memecah belah bangsa.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi maupun mempercayai kabar bohong yang dapat merusak kerukunan.
Lihat postingan ini di Instagram
Peserta dari Papua: Papua adalah Indonesia, Indonesia adalah Papua
Pesan persatuan yang disampaikan Gibran mendapat respons dari peserta kongres, termasuk mereka yang datang dari wilayah timur Indonesia.
Salah satu peserta dari Papua mengungkapkan bahwa kehadiran Wapres memberikan keyakinan bahwa Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia.
“Dengan hadirnya Mas Wapres, membuat kami Papua dan meyakinkan kami Papua bahwa Papua adalah Indonesia dan Indonesia adalah Papua,” ungkap peserta tersebut.
Peserta dari Aceh juga menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Gibran. Mereka berharap pertemuan tersebut menambah semangat untuk kembali ke daerah dan melanjutkan kegiatan serta pelayanan di tengah masyarakat.
Respons para peserta itu memperlihatkan bahwa pesan kebangsaan dalam forum keagamaan tidak berhenti pada pidato. Bagi sebagian peserta, perjumpaan langsung dengan pemimpin nasional juga menjadi pengalaman yang mereka maknai secara personal.
Momen Singkat yang Membekas bagi Estefanus
Kesan Estefanus terhadap Gibran semakin kuat setelah acara selesai. Melalui unggahan di media sosial Threads, ia menceritakan momen singkat ketika Wapres hendak meninggalkan lokasi kegiatan.
Estefanus mengaku mendengar Gibran menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya sebelum menutup pintu mobil.
“Pak Pendeta, terima kasih ya,” demikian Estefanus mengingat ucapan Gibran.
Ia kemudian membalas ucapan tersebut dengan menyampaikan terima kasih karena Gibran bersedia hadir dan membuka kongres mereka.
Estefanus juga menyampaikan pesan agar Gibran terus bersemangat menjalankan tugasnya.
“Terima kasih karena sudah mau hadir dan membuka kongres kami. Tetap semangat dan terus bekerja, kami mencintai Anda,” tulis Estefanus dalam unggahannya.
Bagi Estefanus, percakapan singkat itu menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Tidak terbayang dalam hidup saya sebagai anak kampung seorang Wapres berucap demikian,” tulisnya.
Kisah Estefanus memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah perjumpaan singkat dapat meninggalkan kesan mendalam bagi seseorang. Di tengah pesan besar mengenai toleransi dan persatuan, pengalaman personal tersebut menjadi bagian yang ia bawa pulang dari kongres.
Pembukaan Kongres Nasional V API pun menjadi ruang pertemuan antara pesan kebangsaan dan kehidupan masyarakat yang beragam. Pesan yang disampaikan Gibran menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin kebebasan beragama, sementara pengalaman para peserta menunjukkan bahwa upaya merawat persatuan juga membutuhkan sikap saling menghargai dan membangun kedekatan antarmanusia.***











