JAKARTA, PROJO.or.id — Perjalanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menuju Jawa Barat dengan kereta cepat Whoosh memiliki dua sisi: mobilitas sekaligus pesan politik.
Whoosh merupakan salah satu proyek infrastruktur yang dibangun dan mulai beroperasi pada era pemerintahan Jokowi. Kini, setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, Jokowi justru menggunakan moda transportasi tersebut dalam rangkaian aktivitas politiknya di Jawa Barat.
Jokowi dijadwalkan hadir dalam agenda konsolidasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Jawa Barat. Pengurus PSI Jawa Barat sebelumnya menyampaikan rencana kehadiran Jokowi dalam Rakorda PSI Jabar pada akhir September 2026, dengan target ribuan kader hadir.
Di titik ini, perjalanan Jokowi menggunakan Whoosh menjadi menarik secara politik. Mantan presiden yang selama masa pemerintahannya mendorong pembangunan infrastruktur kini memanfaatkan salah satu hasil pembangunan tersebut untuk bergerak dari satu agenda politik ke agenda lainnya.

Dari Infrastruktur ke Safari Politik
Jokowi bukan lagi kepala pemerintahan yang datang dengan agenda kerja kenegaraan. Kali ini, perjalanan ke Jawa Barat berlangsung dalam konteks aktivitas politik bersama PSI.
Penggunaan Whoosh membuat perjalanan tersebut memiliki simbol tersendiri. Infrastruktur yang dahulu menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional kini menjadi sarana mobilitas Jokowi ketika melakukan konsolidasi politik.
Jokowi sebelumnya juga pernah menggunakan Whoosh untuk kunjungan kerja ke Jawa Barat ketika masih menjabat sebagai presiden. Pada Juli 2024, misalnya, Jokowi dan Iriana menggunakan Whoosh dari Stasiun Halim menuju Tegalluar untuk menghadiri agenda di Kabupaten Bandung.
Artinya, Whoosh bukan moda yang asing bagi Jokowi. Bedanya, konteks perjalanannya kini berubah: dari perjalanan kepala negara menjadi perjalanan seorang mantan presiden yang aktif dalam kegiatan politik.
Legacy yang Menjadi Bagian dari Perjalanan
Whoosh menjadi salah satu warisan pembangunan infrastruktur yang paling mudah diasosiasikan dengan era Jokowi.
Kereta cepat Jakarta-Bandung mulai beroperasi pada masa pemerintahan Jokowi dan kemudian menjadi pilihan baru perjalanan antara Jakarta dan Jawa Barat.
Dalam perkembangan terbaru, pemerintah juga masih menangani aspek kepemilikan dan pembiayaan proyek tersebut. Kementerian Keuangan pada September 2026 berada dalam proses finalisasi pengalihan kepemilikan saham pemerintah di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dengan porsi 60 persen yang berasal dari konsorsium BUMN.
Pada saat yang sama, isu pembiayaan Whoosh masih menjadi bagian dari pembahasan pemerintah. Karena itu, legacy proyek ini memiliki dua sisi yang masih menjadi perhatian publik: manfaat konektivitas dan persoalan pengelolaan pembiayaannya.
Jokowi Bergerak, Legacy Tetap Berjalan
Bagi Jokowi, perjalanan menggunakan Whoosh ke Jawa Barat mempertemukan dua hal yang berbeda tetapi saling berkaitan.
Di satu sisi ada legacy pembangunan yang ditinggalkan setelah dua periode pemerintahan. Di sisi lain ada aktivitas politik Jokowi setelah tidak lagi berada di Istana.
Perjalanan itu juga memperlihatkan perubahan peran Jokowi. Jika dahulu ia menggunakan Whoosh sebagai kepala negara dalam agenda pemerintahan, kini moda yang sama digunakan dalam rangkaian safari dan konsolidasi politik.
Kehadiran Jokowi di stasiun pun menarik perhatian warga. Penumpang dan masyarakat yang mengetahui kedatangannya antusias menghampiri untuk bersalaman dan berfoto.
Pada akhirnya, Whoosh bukan hanya menjadi latar perjalanan Jokowi ke Bandung. Kereta cepat tersebut menjadi bagian dari cerita yang lebih besar: bagaimana sebuah proyek infrastruktur era pemerintahannya kini digunakan dalam aktivitas publik dan politik setelah Jokowi meninggalkan kursi kepresidenan.
Dari Istana ke stasiun, dari agenda kenegaraan ke konsolidasi politik, Whoosh menjadi salah satu penghubung perjalanan Jokowi sekaligus pengingat atas legacy pembangunan infrastrukturnya.***












