JAKARTA, PROJO – Senin sore (9/3/2026), hiruk-pikuk politik dan kesibukan administratif di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo mendadak luruh.
Deru suara kendaraan di luar gedung seolah teredam oleh tawa riang puluhan anak yatim yang memadati ruangan.
Hari itu, “Rumah Rakyat” ini bertransformasi menjadi ruang hangat yang penuh kekeluargaan dalam tajuk Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim.
Bagi organisasi sekelas Projo, agenda ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban tahunan di kalender Ramadhan.
Ia adalah upaya sadar untuk “melambatkan ritme”, mengetuk pintu hati, dan menengok kembali akar kebudayaan bangsa yang mulai tergerus zaman: Berbagi.

Melawan Arus Individualisme
Di tengah kepungan dunia modern yang serba cepat dan individualistik, kebersamaan sore itu terasa seperti oase. Ketua Bidang Sosial Budaya DPP Projo, Karl Sibarani, melihat fenomena ini dari kacamata sosiokultural yang mendalam.
“Kita hidup dalam zaman di mana teknologi berkembang pesat, tetapi hubungan sosial justru seringkali menjadi renggang. Kegiatan seperti ini memiliki arti yang jauh melampaui bentuk acaranya; ini adalah oase di tengah kekakuan interaksi manusia modern,” ungkap Karl dengan nada reflektif.
Baginya, duduk melingkar antara relawan, pengurus pusat, dan anak-anak yatim dalam satu ruang adalah pernyataan sikap bahwa kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari angka ekonomi atau manuver politik, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk saling menjaga.
Bukan Sekadar Santunan, Tapi Investasi Harapan
Acara dimulai dengan syahdu melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an dan tausiah yang mengingatkan hadirin bahwa memuliakan anak yatim adalah kunci pembuka keberkahan. Saat azan Maghrib berkumandang, sekat-sekat struktural organisasi pun runtuh.
Ketua Umum DPP Projo, Budi Arie Setiadi, tampak membaur di tengah anak-anak tersebut. Baginya, kepedulian sosial adalah napas yang menghidupi organisasi.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan dan kasih sayang secara langsung. Ini adalah wujud nyata bahwa masa depan bangsa tidak boleh meninggalkan siapa pun. Anak-anak ini adalah harapan, dan memastikan mereka tumbuh dengan perhatian adalah tanggung jawab moral kita bersama,” tegas Budi Arie.
Merawat Identitas Bangsa
Seiring malam merayap, anak-anak tersebut pulang tidak hanya membawa bantuan uang tunai dan bingkisan, tetapi juga rasa percaya diri bahwa mereka tidak sendirian.
Projo ingin mengirimkan pesan kuat: Ramadhan adalah momentum untuk menghidupkan kembali ekosistem kemanusiaan.
Bahwa di balik peran politiknya, sebuah organisasi sosial memiliki tanggung jawab kultural untuk menjaga agar nilai gotong royong tetap menjadi identitas utama Indonesia.
Sore itu, di Markas DPP Projo, kita diingatkan kembali bahwa makna terdalam dari sebuah kebersamaan ditemukan pada tawa sederhana anak-anak yatim.
Sebuah tawa yang menjadi fondasi bagi solidaritas sosial yang lebih luas di tengah arus perubahan global.***










