SOLO, PROJO.or.id — Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Philip Nathan Taula, menemui Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).
Philip tiba sekitar pukul 16.28 WIB dengan mengenakan batik lengan panjang. Ia kemudian masuk ke kediaman Jokowi untuk melakukan pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit.
Pertemuan tersebut berlangsung empat mata. Jokowi terlihat mengantar Philip hingga ke pintu kediamannya ketika sang duta besar hendak meninggalkan rumah sekitar pukul 17.04 WIB.
Usai pertemuan, Philip menjelaskan bahwa dirinya berdiskusi dengan Jokowi mengenai hubungan dan peluang kerja sama antara Indonesia dan Selandia Baru.
“Senang mendapat kesempatan berbicara dengan Bapak Jokowi mengenai kerja sama antara Indonesia dan Selandia Baru, serta pengalaman saya sampai sekarang sebagai Dubes yang mewakili pemerintah New Zealand,” ujar Philip.
Bahas Agrikultur hingga Energi Terbarukan
Philip mengatakan, kerja sama Indonesia-Selandia Baru yang dibicarakan antara lain berkaitan dengan sektor agrikultur, energi baru terbarukan, dan pendidikan.
Menurut dia, berbagai bentuk kerja sama yang telah berjalan antara kedua negara berupaya diselaraskan dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kerja sama yang sudah berjalan dengan pemerintah Indonesia yang coba kami selaraskan dengan prioritas Bapak Presiden Prabowo, antara lain di bidang agrikultur, energi baru terbarukan, dan pendidikan,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Jokowi juga disebut memberikan pandangan mengenai potensi kerja sama yang masih dapat dikembangkan antara Indonesia dan Selandia Baru.
Philip menyebut pengalaman Jokowi selama memimpin Indonesia menjadi salah satu perspektif yang menarik untuk didengar.
“Dari pengalaman Bapak Jokowi yang pernah berkunjung ke Selandia Baru, beliau bilang melihat banyak potensi untuk meluaskan kerja sama antara New Zealand dan Indonesia,” ujar Philip.
Ia menambahkan, pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi dirinya untuk menjelaskan berbagai kerja sama yang tengah dilakukan sekaligus menyampaikan pentingnya dukungan Selandia Baru terhadap prioritas pemerintahan Indonesia ke depan.
Pertemuan yang Wajar dalam Hubungan Diplomatik
Pertemuan antara seorang duta besar dengan mantan kepala pemerintahan bukan sesuatu yang perlu dipandang secara berlebihan.
Jokowi merupakan Presiden RI selama dua periode, 2014-2024, sehingga pengalaman pemerintahannya selama satu dekade tentu menjadi salah satu referensi penting dalam memahami perkembangan Indonesia, termasuk peluang kerja sama dengan negara lain.
Dalam konteks tersebut, permintaan pandangan kepada Jokowi mengenai potensi kerja sama Indonesia-Selandia Baru dapat dilihat sebagai komunikasi yang wajar.
Terlebih, pembahasan yang disampaikan Philip justru berkaitan dengan sektor-sektor strategis yang juga menjadi perhatian pemerintahan Presiden Prabowo, seperti agrikultur, energi baru terbarukan, dan pendidikan.
Pertemuan itu juga menunjukkan bahwa pengalaman seorang mantan pemimpin negara masih dapat menjadi sumber perspektif dalam membangun hubungan antarmasyarakat dan antarnegara.
Di sisi lain, penyampaian Philip bahwa kerja sama Selandia Baru diarahkan untuk selaras dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo memperlihatkan bahwa pembicaraan tersebut tetap berada dalam konteks hubungan Indonesia-Selandia Baru dan agenda pemerintahan yang sedang berjalan.
Bagi hubungan bilateral, komunikasi semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya memperluas ruang kerja sama, terutama pada sektor yang memiliki kepentingan bersama dan manfaat langsung bagi masyarakat.***









![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-120x86.jpeg)


![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)