JAKARTA, PROJO.or.id – Bagi masyarakat Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Lampung, sepuluh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo (2014–2024) bukan sekadar babak baru dalam lembaran sejarah nasional. Ini adalah era runtuhnya dogma “Jawa-sentris” yang selama puluhan tahun membelenggu arah pembangunan bangsa.
Di bawah komando Jokowi, Lampung—yang secara geopolitik merupakan gerbang utama sekaligus urat nadi logistik yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera—akhirnya mendapatkan hak sejarahnya untuk maju dan berlari kencang.
Jika kita menengok ke belakang sebagai refleksi objektif, dalam kurun waktu sepuluh tahun sebelum era Jokowi (2004–2014), laju pembangunan infrastruktur nasional terasa sangat lambat. Bayangkan, dalam satu dekade tersebut, pembangunan jalan tol di seluruh Indonesia hanya mampu menyelesaikan 189,2 kilometer.
Namun, sejak Jokowi memegang kemudi, paradigma pembangunan dirombak total. Pembangunan digenjot melalui skema Proyek Strategis Nasional (PSN) yang agresif dan terencana.
Di Sumatera saja, sepanjang 1.138 kilometer jalan tol Trans-Sumatera (JTTS) berhasil diwujudkan untuk memangkas waktu tempuh kendaraan logistik hingga lebih dari separuhnya. Rantai distribusi yang semula lambat kini bergerak cepat, meningkatkan daya saing komoditas lokal Lampung di pasar nasional.
Nyali “Ajrut-Ajrutan” Demi Rakyat Lampung
Satu momen ikonik yang akan selalu membekas di ingatan kolektif rakyat Lampung adalah kunjungan kerja Presiden Jokowi pada tanggal 5 Mei 2023. Di saat pejabat daerah menyarankan rute udara demi kenyamanan, Jokowi dengan ketegasan seorang pemimpin rakyat menolak naik helikopter.
Beliau memilih menempuh jalur darat menggunakan kendaraan kepresidenan untuk merasakan langsung penderitaan rakyat akibat hancurnya jalan-jalan produksi di Lampung Tengah dan Lampung Selatan.
Rangkaian kendaraan kepresidenan berguncang hebat (ajrut-ajrutan) saat melintasi kubangan lumpur sedalam puluhan sentimeter di rute Palas Sukaraja dan Simpang Randu-Rumbia.
Dengan senyum ironis yang menggetarkan birokrasi, Jokowi berseloroh, “Jalannya mulus, enak…”. Kritik retoris bernada satir ini tidak berakhir di lisan semata.
Hanya berselang beberapa bulan, Jokowi langsung menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2023 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah.
Pusat langsung mengambil alih perbaikan jalan dengan mengucurkan anggaran tahap pertama sebesar Rp806 miliar untuk merekonstruksi 16 ruas jalan rusak sepanjang 102,5 kilometer di Lampung.
Standar pengerjaannya pun tidak main-main: bukan lagi sekadar aspal tipis yang gampang tergerus air, melainkan beton semen tebal (rigid pavement) hingga 30 sentimeter agar kuat menahan beban truk hasil panen rakyat hingga puluhan tahun ke depan.
Keberlanjutan komitmen ini terus dikawal secara multiyears melalui Inpres Nomor 11 Tahun 2025 dengan anggaran Rp134 miliar untuk menuntaskan berbagai ruas strategis di Lampung hingga tahun 2026. Ini adalah bukti nyata bahwa Jokowi memimpin dengan telinga yang peka mendengar jeritan rakyat di tingkat akar rumput.
Kedaulatan Air dan Kemakmuran Petani Lampung
Sebagai lumbung pangan nasional, kekuatan utama Lampung terletak pada sektor pertaniannya. Namun, tanpa ketersediaan air yang stabil, potensi tersebut akan layu. Di sinilah keseriusan Jokowi terbukti melalui pembangunan infrastruktur hidrologi yang masif.
Selama masa jabatannya, dua bendungan raksasa berhasil diresmikan di Lampung:
-
Bendungan Way Sekampung (Pringsewu): Diresmikan tahun 2021 dengan kapasitas tampung 68 juta meter kubik, bendungan ini berhasil meningkatkan frekuensi tanam petani dari 2 kali menjadi 3 kali dalam setahun.
-
Bendungan Margatiga (Lampung Timur): Diresmikan pada Agustus 2024 dengan anggaran mencapai lebih dari Rp846 miliar. Waduk raksasa ini dirancang khusus untuk menyuplai air bagi Daerah Irigasi (DI) Jabung seluas 16.588 hektar, meningkatkan intensitas tanam menjadi padi-padi-palawija (indeks pertanaman hingga 250%), sekaligus meminimalkan intrusi air laut yang merusak tambak-tambak rakyat di kawasan hilir.
Meski pembangunan Bendungan Margatiga sempat dihambat oleh ulah oknum spekulan tanah dan perangkat desa yang melakukan korupsi ganti rugi fiktif senilai Rp43,33 miliar di Desa Trimulyo, hukum era Jokowi berdiri tegak.
Melalui instrumen hukum yang tegas, para pelaku rekayasa lahan divonis berat demi memastikan bahwa setiap rupiah APBN murni kembali untuk kemakmuran petani, bukan kantong pribadi para koruptor.
Sentuhan Manusiawi: Sertifikat Tanah, Air Bersih, dan Pariwisata
Pembangunan era Jokowi bukan sekadar tentang semen, baja, dan beton. Pembangunan di Lampung adalah tentang memanusiakan manusia.
Melalui program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL/Prona), Jokowi membagikan ratusan ribu sertifikat tanah gratis langsung ke tangan rakyat Lampung guna mengakhiri konflik agraria yang menahun.
Dalam setiap kunjungannya membagikan sertifikat, Jokowi selalu menyisipkan pesan kebapakan yang sangat membumi: “Tolong difotokopi, simpan di lemari berbeda, jalani hidup dengan kalkulasi yang matang”.
Beliau secara terbuka mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur menyekolahkan sertifikat ke bank hanya demi membeli barang konsumtif seperti mobil untuk bergaya, melainkan murni menjadikannya jaminan modal usaha produktif.
Di perkotaan, kenyamanan hidup dasar warga Bandar Lampung diangkat kelasnya lewat peresmian Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kota Bandar Lampung senilai Rp1,38 triliun pada Agustus 2024.
Melalui skema KPBU, SPAM ini menyuplai air bersih berkualitas sangat tinggi—bahkan setara dengan air kemasan—untuk melayani kebutuhan 60.000 sambungan rumah tangga.
Sementara itu, di gerbang laut Pelabuhan Bakauheni, sebuah kota wisata baru berskala internasional, Bakauheni Harbour City (BHC), mulai dibangun di atas lahan seluas 160 hektar dengan proyeksi investasi mencapai Rp4,7 triliun.
Kehadiran destinasi terintegrasi seperti Krakatau Park dan Masjid BSI Bakauheni yang megah (yang memadukan keagungan ibadah dengan kearifan lokal motif tapis Lampung) kini menjadi ikon kebanggaan baru sekaligus magnet ekonomi yang telah membuka lapangan kerja bagi ribuan pemuda lokal Lampung.
Di pesisir barat, perbaikan infrastruktur jalan nasional pantai barat dan fungsionalitas Bandara Muhammad Taufiq Kiemas berhasil memicu lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara untuk menikmati ombak kelas dunia di Krui.
Tumbuhnya penginapan-penginapan berbasis rakyat seperti “Krui Penginapan Jokowi” di Pesisir Barat adalah bukti nyata bagaimana pembangunan infrastruktur makro langsung berdampak nyata menghidupkan ekonomi mikro masyarakat pesisir.
Rekor Penurunan Kemiskinan: Hasil Nyata Kerja Keras
Seluruh kerja keras, keringat, dan dedikasi pembangunan fisik tersebut pada akhirnya bermuara pada angka-angka kesejahteraan yang nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam keberhasilan ini dengan sangat presisi:
-
Tingkat kemiskinan di Provinsi Lampung berhasil ditekan secara drastis, dari yang semula berada di angka 14,35% pada awal masa jabatan Jokowi (Maret 2015), merosot tajam menjadi 10,62% per September 2024. Lampung kini semakin menjauh dari jurang sepuluh besar provinsi termiskin di Indonesia.
-
Pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Lampung melonjak hampir dua kali lipat mencapai Rp483,88 triliun pada tahun 2024, diiringi kenaikan PDRB per kapita menjadi Rp51,4 juta per tahun.
Warisan Abadi untuk Gerbang Sumatera
Bagi PROJO, apa yang dikerjakan Presiden ke-7 Joko Widodo selama dua dekade pemerintahannya di Provinsi Lampung adalah monumen berjalan dari sebuah kepemimpinan yang bersumber dari rakyat, bekerja bersama rakyat, dan sepenuhnya dipersembahkan untuk kemakmuran rakyat.
Dari jalan tol yang mulus, bendungan yang mengairi sawah-sawah kering, hingga sertifikat tanah yang memberikan kepastian hukum bagi rakyat kecil; semuanya adalah fondasi kokoh yang ditinggalkan Jokowi agar Lampung tidak lagi dipandang sebelah mata.
Tugas kita bersama hari ini adalah menjaga warisan kemajuan (legacy) ini, memastikan roda pembangunan terus berputar, dan mengawal Provinsi Lampung melangkah mantap sebagai pilar utama penyokong cita-cita mulia Indonesia Emas 2045.
Kerinduan yang Segera Terobati
Sebagai penegas kuatnya jalinan batin yang telah terajut erat tersebut, sebuah kabar gembira kini berembus membawa kehangatan tersendiri bagi Tanah Tapis.
Seolah ingin mengonfirmasi bahwa kepeduliannya pada kemajuan daerah ini tidak pernah usai, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dijadwalkan akan kembali ke Lampung guna mengobati kerinduan mendalam masyarakat Lampung selama tiga hari, mulai Jumat (26/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar agenda perjalanan biasa, melainkan momen emosional yang sangat dinanti oleh masyarakat luas yang merindukan kehadiran sosok bapak pembangunan yang telah banyak meletakkan fondasi kemakmuran di tanah mereka.
Pertemuan ini akan kembali merekatkan hubungan historis yang begitu indah antara Jokowi dan rakyat Lampung.
Jokowi telah membuka jalannya, kini saatnya Lampung berlari kencang menuju masa depan!












