• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
No Result
View All Result

Dari Jokowi ke Gibran: Ketika Polemik Ijazah Menjadi Senjata Delegitimasi Politik Menjelang 2029

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
24 September 2026
in Opini
Waktu Baca: 4 menit
A A
0
Dari Jokowi ke Gibran: Ketika Polemik Ijazah Menjadi Senjata Delegitimasi Politik Menjelang 2029

ADA sebuah pola yang layak dibaca dengan kepala dingin.

Ketika Joko Widodo masih menjabat Presiden, isu ijazah berkali-kali digunakan untuk mempertanyakan legitimasi personalnya. Setelah ia tidak lagi di kursi kepresidenan, isu serupa tidak sepenuhnya berhenti.

Kini sorotan bergeser kepada putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang menjabat Wakil Presiden. Dari Jokowi ke Gibran. Dari ijazah Presiden ke syarat pendidikan Wakil Presiden.

Yang menarik untuk dicermati bukan lagi sekadar isi dokumen tersebut, melainkan mengapa isu tentang kredibilitas pendidikan terus menjadi salah satu pintu utama untuk menyerang legitimasi keluarga Jokowi.

Apakah ini sekadar rangkaian proses hukum yang kebetulan bersinggungan dengan figur yang sama, ataukah terdapat pola komunikasi politik yang secara perlahan membangun persepsi bahwa keluarga Jokowi selalu berada dalam posisi yang harus dipertanyakan legitimasi dan keabsahannya.

Di sinilah istilah delegitimasi politik menjadi relevan untuk dibicarakan. Bukan sebagai kesimpulan yang sudah terbukti, melainkan sebagai sebuah hipotesis politik yang layak diuji.

Bukan Sekadar Soal Ijazah

Pada satu sisi, kritik mengenai persyaratan calon pejabat publik adalah bagian sah dari demokrasi. Jika ada warga negara mempertanyakan persyaratan calon presiden atau wakil presiden, negara hukum menyediakan mekanisme untuk mengujinya.

Dan mekanisme itu sekarang sedang berjalan. Mahkamah Konstitusi tengah memeriksa perkara yang mempersoalkan syarat pendidikan Gibran dalam pencalonan Pilpres 2024.

Para pemohon mendalilkan adanya persoalan dalam pemenuhan syarat pendidikan dan meminta MK memberikan sejumlah konsekuensi hukum terhadap pencalonan Gibran.

Artinya, secara hukum, perkara tersebut harus dibiarkan berjalan.

Tetapi politik bekerja pada lapisan yang berbeda. Sebuah perkara hukum dapat berubah menjadi isu politik ketika substansi perkara tersebut kemudian terus diproduksi, diulang, diperluas, dan dikaitkan dengan identitas politik seseorang.

Di situlah persoalannya menjadi lebih besar daripada selembar ijazah. Sebab yang dipertaruhkan akhirnya bukan hanya dokumen. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap seseorang dan keluarganya.

Dari Jokowi ke Gibran: Sebuah Rangkaian yang Patut Diamati

Pada Januari 2026, dalam perkara lain mengenai verifikasi faktual syarat calon pejabat publik, isu mengenai dugaan ijazah palsu Jokowi juga kembali disebut dalam argumentasi pemohon di MK. MK mencatat dalil tersebut dalam proses persidangan.

Kini, beberapa bulan kemudian, persoalan syarat pendidikan Gibran kembali menjadi perkara di MK.

Secara faktual, kedua perkara tersebut berbeda. Figurnya berbeda. Kedudukan hukumnya berbeda. Argumentasinya juga tidak boleh dicampuradukkan.

Namun dari perspektif komunikasi politik, repetisi isu terhadap satu keluarga politik adalah sesuatu yang patut diamati. Sebab reputasi tidak selalu runtuh karena satu tuduhan. Reputasi dapat terkikis melalui pengulangan.

Hari ini muncul pertanyaan. Besok muncul gugatan. Lusa muncul potongan informasi. Kemudian muncul pemberitaan. Setelah itu muncul perdebatan di media sosial. Lalu publik kembali disodori pertanyaan yang sama.

Pada akhirnya, sebagian masyarakat mungkin tidak lagi mengingat bagaimana sebuah perkara dimulai. Yang tersisa hanya kesan bahwa ada masalah dengan keluarga itu.

Inilah mekanisme yang dalam kajian komunikasi politik dapat menjadi bagian dari proses delegitimasi reputasi.

Pembunuhan Karakter Bekerja Melalui Persepsi

Character assassination tidak harus berbentuk fitnah yang terang-terangan. Dalam politik modern, serangan terhadap karakter dapat bekerja lebih halus.

Sebuah isu diangkat. Kemudian diulang. Dikaitkan dengan isu lain. Ditempelkan pada identitas seseorang. Lalu dikonsumsi publik secara terus-menerus.

Tidak semua orang yang mengajukan gugatan sedang melakukan pembunuhan karakter. Tidak semua wartawan yang memberitakan perkara sedang melakukan propaganda. Justru karena itu, analisis harus lebih serius.

KabarLainnya

Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

IHSG Rontok, Kepercayaan Jangan Ikut Ambruk

Jokowi, Sun Tzu, dan Seni Membaca Medan Politik

Yang perlu dicari bukan sekadar siapa yang berbicara, tetapi bagaimana sebuah narasi bergerak. Siapa yang pertama kali mengangkat, siapa yang memperbesar, siapa yang terus mengulang, platform apa yang paling efektif menyebarkannya, apakah ada pola koordinasi, apakah ada aktor yang sama, dan apakah intensitasnya meningkat mendekati momentum politik.

Tanpa menjawab hal-hal tersebut, menyebutnya sebagai “operasi politik” masih merupakan dugaan. Tetapi tanpa meneliti hal-hal tersebut, kita juga terlalu cepat menganggap setiap rangkaian isu sebagai kebetulan.

Demokrasi Jangan Diubah Menjadi Industri Tuduhan

Ada satu prinsip yang tidak boleh hilang: kritik harus dilindungi, tuduhan harus dibuktikan.

Jika ada persoalan mengenai ijazah atau syarat pendidikan, buktikan di ruang hukum. Jika ada dokumen yang dipersoalkan, hadirkan dokumen. Jika ada prosedur yang dianggap salah, uji prosedurnya. Jika ada pelanggaran, buktikan pelanggarannya.

Tetapi jangan mengubah dugaan menjadi fakta hanya karena sebuah tuduhan sudah viral. Sebaliknya, jangan pula menggunakan alasan “serangan politik” untuk menghindari pemeriksaan terhadap fakta.

Inilah garis batas yang harus dijaga. Karena negara hukum tidak boleh tunduk kepada viralitas. Dan demokrasi tidak boleh ditentukan oleh siapa yang paling keras mengulang tuduhan.

Lalu Mengapa 2029 Menjadi Penting?

Jawabannya sederhana. Politik 2029 tidak dimulai pada 2029.

Kontestasi politik dimulai jauh sebelumnya melalui pembentukan persepsi. Nama-nama yang hendak dipertahankan akan dibangun citranya. Nama-nama yang hendak dijatuhkan akan diuji reputasinya. Kelompok-kelompok politik akan membangun narasi. Dan masyarakat akan menjadi arena perebutan persepsi.

Dalam konteks itu, keluarga Jokowi adalah salah satu aktor politik yang memiliki pengaruh dan jaringan politik yang masih diperbincangkan. Karena itu, setiap isu yang menyangkut Jokowi atau Gibran secara alamiah memiliki konsekuensi politik lebih besar daripada sekadar perkara personal.

Tetapi sekali lagi, itu belum membuktikan adanya operasi terkoordinasi menuju Pemilu 2029. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut diperlukan bukti. Namun, justru karena itulah pengamatan terhadap pola narasi menjadi penting.

Jangan Terjebak pada Dua Ekstrem

Ada dua jebakan yang sama-sama berbahaya.

Jebakan pertama adalah percaya begitu saja bahwa semua tuduhan terhadap Jokowi dan Gibran adalah benar.

Jebakan kedua adalah percaya begitu saja bahwa semua tuduhan merupakan operasi politik.

Keduanya sama-sama tidak sehat.

Sikap demokratis justru berada di tengah: periksa faktanya, ikuti proses hukumnya, baca pola komunikasinya, lalu biarkan publik menilai.

Sebab politik yang matang tidak takut pada fakta. Tetapi politik yang matang juga tidak membiarkan opini menggantikan fakta.

Jika Ini Memang Operasi, Bukti Akan Menunjukkannya

Pada akhirnya, istilah “operasi penurunan kredibilitas” tidak boleh menjadi slogan kosong.

Jika benar ada operasi, maka seharusnya ada jejak. Ada aktor. Ada koordinasi. Ada pola distribusi. Ada narasi yang seragam. Ada momentum. Dan mungkin ada kepentingan politik yang dapat ditelusuri.

Jika semua itu tidak ditemukan, maka tuduhan mengenai operasi politik harus ditinggalkan. Tetapi jika suatu hari bukti-bukti tersebut muncul, publik memiliki hak untuk mengetahui bahwa pertarungan politik tidak hanya berlangsung melalui baliho, kampanye, dan pemilu. Ia juga berlangsung melalui perang persepsi.

Dari Jokowi ke Gibran, Pertarungannya Bukan Lagi Sekadar Ijazah

Karena itu, polemik ijazah Jokowi dan persoalan syarat pendidikan Gibran sebaiknya tidak dibaca secara dangkal.

Jangan buru-buru menyebutnya sebagai konspirasi. Tetapi jangan pula menutup mata terhadap kemungkinan adanya pola.

Jangan membungkam kritik. Tetapi jangan membiarkan tuduhan berubah menjadi kebenaran hanya karena diulang berkali-kali. Dan jangan menyerahkan penilaian politik kepada algoritma media sosial.

Sebab dalam demokrasi, kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah unggahan. Kebenaran diuji melalui bukti. Hukum diuji melalui persidangan. Dan legitimasi politik pada akhirnya diuji melalui mandat rakyat.

Menjelang 2029, pertarungan seperti ini sangat mungkin semakin keras. Bukan hanya pertarungan antarpartai. Bukan hanya pertarungan antarfigur. Tetapi pertarungan untuk menentukan siapa yang dipercaya publik dan siapa yang kehilangan kepercayaan publik.

Maka dari Jokowi ke Gibran, pertanyaan yang lebih besar bukan hanya soal benar atau tidaknya ijazah tersebut. Pertanyaan yang lebih besar adalah mengapa isu ini terus diproduksi, siapa yang mengamplifikasi, dan ke mana arah politik dari produksi narasi tersebut.

Jawabannya tidak boleh dibuat berdasarkan prasangka. Jawabannya harus ditemukan melalui fakta.

Karena jika demokrasi berubah menjadi industri tuduhan, yang akhirnya menjadi korban bukan hanya satu keluarga politik. Yang menjadi korban adalah kualitas demokrasi itu sendiri.***

Djoni Suherman, Ketua DPD PROJO Jawa Barat

Add as Preferred Source
Share11Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Sidang MK Gugatan Syarat Pendidikan Gibran: KPU Persoalkan Legal Standing dan Tenggat Waktu

Kabar Selanjutnya

KPU di MK : Gugatan Syarat Cawapres Gibran Terlambat 905 Hari, Ada Batas Waktu yang Harus Dihormati

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Ketika Lapas Menjadi Resort, Hukuman Menjadi Liburan
Opini

Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

28 Oktober 2026
Dolar Tembus Rp17.500: Mengapa Rupiah Terus Tertekan Meski Angka Ekonomi Masih Terlihat Bagus?
Opini

IHSG Rontok, Kepercayaan Jangan Ikut Ambruk

19 Oktober 2026
Semua Orang Bicara Jokowi: Antara Benci, Cinta, dan Cari Panggung
Opini

Jokowi, Sun Tzu, dan Seni Membaca Medan Politik

19 Oktober 2026
Kabar Selanjutnya
Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Diperiksa MK, PROJO Ingatkan Soal Objek dan Kedudukan Hukum

KPU di MK : Gugatan Syarat Cawapres Gibran Terlambat 905 Hari, Ada Batas Waktu yang Harus Dihormati

Jimly Asshiddiqie: Tak Mungkin Prabowo Memberhentikan Gibran, Dia Sendiri yang Memintanya Jadi Wapres

Jimly Asshiddiqie: Tak Mungkin Prabowo Memberhentikan Gibran, Dia Sendiri yang Memintanya Jadi Wapres

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

29 Oktober 2026
Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Wacana Pemakzulan Gibran: Itu Hak Konstitusional DPR

Jokowi Dijadwalkan Hadir di Sidang Roy Suryo, Ajudan: Insyaallah Bapak Pasti Hadir

28 Oktober 2026
Rombongan Mahasiswa dan Dosen Universitas Cenderawasih Sambangi Jokowi di Solo, Lagu Papua Warnai Silaturahmi

Rombongan Mahasiswa dan Dosen Universitas Cenderawasih Sambangi Jokowi di Solo, Lagu Papua Warnai Silaturahmi

28 Oktober 2026

TRENDING

  • Jokowi Tanggapi Wacana Pemakzulan Gibran: Itu Hak Konstitusional DPR

    Jokowi Dijadwalkan Hadir di Sidang Roy Suryo, Ajudan: Insyaallah Bapak Pasti Hadir

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

    535 shares
    Share 214 Tweet 134
  • Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

    27 shares
    Share 11 Tweet 7

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.