SOLO, PROJO.or.id — Rumah Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo di kawasan Sumber, Solo, kembali menjadi tempat bertemunya warga dari berbagai daerah. Bahkan setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara, kediaman Jokowi tetap ramai didatangi masyarakat yang ingin bersilaturahmi, bersalaman, hingga mengabadikan momen bersama.
Pemandangan tersebut terlihat pada Rabu (30/9/2026) pagi. Sekitar 100 warga tampak mengantre di depan kediaman Jokowi. Mereka datang dari berbagai daerah dan menunggu giliran untuk dapat masuk ke rumah mantan presiden tersebut.
Suasana antrean relatif teduh. Pepohonan yang tumbuh di sekitar kediaman membuat area depan rumah terasa asri sehingga warga yang menunggu tidak terlalu merasa jenuh.
Pengamanan juga terlihat mengatur antrean agar tetap tertib. Begitu akses untuk menerima tamu dibuka, warga secara bergantian masuk ke kediaman Jokowi.
Pemandangan semacam ini disebut bukan sesuatu yang baru. Antrean warga kerap terjadi ketika Jokowi berada di Solo dan tidak sedang melakukan perjalanan ke luar kota.
Salah satu yang menyaksikan langsung suasana tersebut adalah pengurus DPP PROJO Zulhamedy Syamsi. Saat sedang bertugas di wilayah Solo, Zulhamedy bersama Sekjen Prabowo Mania 08, Agustine Lumban Gaol, menyempatkan diri mampir ke kediaman Jokowi di Sumber.
Zulhamedy mengatakan, apa yang dilihatnya memberikan gambaran mengenai hubungan sosial Jokowi dengan masyarakat setelah tidak lagi berada di Istana.
“Suasananya teduh. Di depan rumah banyak pepohonan, jadi warga yang antre tidak terlalu bosan menunggu,” ujar Zulhamedy.
Menurut dia, yang menarik bukan hanya jumlah warga yang datang, tetapi keberagaman mereka.
Warga datang dengan tujuan sederhana: ingin bertemu, bersalaman, dan berfoto bersama Jokowi.
“Ini bukan hanya warga dari sekitar Solo. Ada yang datang dari berbagai daerah. Bahkan sesekali ada juga tamu dari luar negeri,” katanya.

Magnet Jokowi Setelah Tak Lagi Berkuasa
Keramaian di rumah Jokowi menghadirkan pertanyaan sederhana: mengapa setelah tidak lagi menjadi presiden, rumahnya tetap ramai dikunjungi?
Jawabannya tidak selalu harus dikaitkan dengan politik.
Selama dua periode menjadi presiden, Jokowi merupakan salah satu figur publik yang paling dikenal masyarakat Indonesia. Selama satu dekade, masyarakat melihat Jokowi bukan hanya melalui acara kenegaraan, tetapi juga melalui berbagai kunjungan kerja, dialog dengan warga, hingga aktivitas yang memperlihatkan interaksi langsung dengan masyarakat.
Ketika masa jabatan berakhir, ruang perjumpaan itu berubah.
Jika sebelumnya masyarakat bertemu Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden, kini sebagian warga datang langsung ke kediamannya sebagai tempat silaturahmi.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman tersebut memiliki nilai personal tersendiri.
Mereka rela menunggu sejak pagi untuk mendapatkan kesempatan sederhana: bersalaman, berbicara singkat, atau berfoto bersama.
Fenomena ini juga dapat dilihat sebagai efek dari kedekatan figur publik dengan masyarakat. Ketika seseorang mengetahui bahwa orang lain bisa datang dan mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Jokowi, pengalaman tersebut dapat mendorong orang lain melakukan hal serupa.
Dari sinilah kemudian muncul fenomena yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai semacam “wisata rumah Jokowi”.
Relasi semacam itu juga pernah dibahas dalam perspektif relasi parasosial, yakni rasa kedekatan yang dirasakan masyarakat terhadap figur publik meskipun hubungan tersebut tidak berlangsung seperti hubungan pribadi biasa.
Namun, antrean warga di rumah Jokowi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai ukuran dukungan politik. Motif setiap orang yang datang tentu berbeda dan hanya dapat dipastikan berdasarkan keterangan masing-masing pengunjung.

Bukan Hanya Pejabat
Hal lain yang menarik adalah beragamnya latar belakang tamu.
Rumah Jokowi tidak hanya menjadi tempat pejabat atau tokoh politik melakukan silaturahmi. Warga biasa juga datang dengan tujuan yang sederhana.
Bagi mereka, bertemu mantan presiden secara langsung merupakan pengalaman yang mungkin tidak setiap orang dapatkan.
Menurut Zulhamedy, keterbukaan tersebut menjadi salah satu hal yang membuat kediaman Jokowi tetap ramai.
Siapa pun yang datang, sepanjang diterima dan mendapatkan kesempatan bertemu, dapat merasakan pengalaman yang berbeda dari pertemuan dengan seorang pejabat dalam forum resmi.
“Siapa pun yang datang diterima. Ada pejabat, ada rakyat biasa. Bahkan orang yang sebelumnya punya pandangan kurang baik terhadap Jokowi, setelah bertemu langsung bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda,” kata Zulhamedy.
Pengalaman pertemuan langsung, menurut dia, membuat seseorang dapat melihat sosok Jokowi dari jarak yang berbeda.
Di ruang publik, seorang tokoh politik kerap dikenal melalui pemberitaan, pernyataan politik, potongan video, atau perdebatan di media sosial. Namun, ketika seseorang bertemu langsung, pengalaman yang diperoleh bisa saja berbeda dengan gambaran yang sebelumnya terbentuk.
Dari Istana ke Rumah Rakyat
Ada perubahan menarik dalam posisi Jokowi setelah meninggalkan jabatan presiden.
Dulu, masyarakat mendatangi presiden dalam acara kenegaraan. Kini, sebagian masyarakat justru datang ke rumahnya.
Di titik inilah magnet sosial Jokowi terlihat.
Magnet tersebut bukan semata-mata karena jabatan yang pernah disandangnya. Ia merupakan kombinasi dari popularitas nasional, pengalaman selama 10 tahun sebagai presiden, kedekatan yang dirasakan sebagian masyarakat, akses pertemuan yang relatif terbuka, serta kesempatan mendapatkan pengalaman personal berupa salaman dan foto bersama.
Dan selama Jokowi berada di Solo, rumah di Sumber seolah tetap menjadi ruang perjumpaan.
Antrean sekitar 100 orang pada Rabu pagi itu hanyalah salah satu gambaran.
Di bawah teduh pepohonan di depan rumah, warga menunggu giliran. Tidak ada panggung besar. Tidak ada acara kenegaraan. Tidak ada protokol Istana.
Hanya antrean warga yang ingin bertemu seorang tokoh yang pernah memimpin Indonesia selama satu dekade.
Barangkali, di situlah salah satu penjelasan mengapa rumah Jokowi tetap ramai: ketika jabatan berakhir, hubungan sosial dengan sebagian masyarakat ternyata tidak otomatis ikut berakhir.***









![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-120x86.jpeg)


![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)