JAKARTA, PROJO.or.id – Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang memulai agenda kunjungan ke 38 provinsi di Indonesia pasca-purna tugas terus menyedot perhatian publik.
Menanggapi berbagai spekulasi dan teori konspirasi yang berkembang, Sekretaris Jenderal DPP PROJO, Freddy Alex Damanik, menegaskan bahwa rangkaian perjalanan tersebut murni merupakan langkah merawat kedekatan emosional antara seorang pemimpin nasional dengan rakyatnya.
Hal tersebut disampaikan Freddy saat hadir sebagai narasumber dalam diskusi virtual bertajuk “Jokowi Turun Gunung Siapa Untung” di kanal YouTube Tribunnews.com, Rabu (1/7/2026).
Menghadiri Undangan dan Menepis Teori Konspirasi
Freddy menjelaskan bahwa safari perdana Jokowi ke Provinsi Lampung pada akhir Juni lalu merupakan pemenuhan atas berbagai undangan dari elemen masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, tokoh adat, relawan, hingga agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Ia menyayangkan adanya pihak-pihak tertentu yang terlalu jauh mengaitkan aktivitas sosial dan adat Jokowi dengan kompetisi politik sempit, termasuk interpretasi berlebihan terhadap prosesi adat Lampung yang dijalani Jokowi.
”Jangan semua peristiwa dipaksa menjadi teori konspirasi. Ini yang menurut saya berlebihan. Pak Jokowi datang ke situ sebagai undangan, mengikuti prosesi adat yang disiapkan masyarakat adat setempat. Menghubungkan itu dengan simbol partai tertentu justru menunjukkan kecemasan sebagian pihak terhadap kehadiran Pak Jokowi di ruang publik,” ujar Freddy.
Freddy balik mempertanyakan sejak kapan silaturahmi dengan masyarakat adat dan rakyat dianggap sebagai suatu kesalahan dalam berpolitik. Bagi PROJO, antusiasme masyarakat yang menyambut hangat kehadiran Jokowi di lapangan adalah bukti nyata bahwa legitimasi sosial seorang pemimpin tidak otomatis sirna saat masa jabatan formalnya berakhir.
Bantah Narasi Adu Domba Hubungan Jokowi-Prabowo
Dalam diskusi tersebut, Sekjen PROJO juga secara tegas menepis rumor yang mengeklaim bahwa Jokowi masih berupaya mengatur jalannya pemerintahan Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, atau adanya keretakan hubungan di antara kedua tokoh bangsa tersebut. Freddy melabeli isu-isu tersebut sebagai upaya adu domba yang tidak berdasar.
”Pak Jokowi sudah beberapa kali menyampaikan kepada kami bahwa beliau tidak pernah menghubungi Pak Prabowo langsung kalau Pak Prabowo tidak mengontak beliau terlebih dahulu. Tidak ada ceritanya seorang presiden—apalagi seorang jenderal—bisa diatur-atur,” tegas Freddy.
Ia menambahkan bahwa keharmonisan hubungan antara Jokowi dan Prabowo terpancar jelas dalam berbagai momentum, termasuk pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 baru-baru ini.
”Sampai sekarang arahan Pak Jokowi kepada kami, PROJO, masih konsisten: kawal pemerintahan Prabowo-Gibran ini dan kita dukung Prabowo-Gibran dua periode. Tolong dikawal. Masih sampai situ arahannya,” ungkapnya.
Agenda Berkelanjutan ke Provinsi Lain
Mengenai kelanjutan safari 38 provinsi, Freddy mengonfirmasi bahwa pola kunjungan ke daerah berikutnya—termasuk ke Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang dipersiapkan—akan serupa dengan di Lampung. Agenda tersebut akan dimaksimalkan untuk menyentuh sektor-sektor kerakyatan seperti pemberdayaan UMKM, dialog bersama petani, dan silaturahmi dengan masyarakat adat secara efektif dan efisien.
Menutup pernyataannya, Freddy menekankan bahwa pengaruh politik sejati lahir dari kepercayaan publik, bukan sekadar dari stempel jabatan.
”Bagi kami PROJO, yang lebih penting adalah bagaimana pengaruh besar yang masih dimiliki Pak Jokowi ini tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas, pembangunan, dan keberlanjutan agenda Indonesia Maju menuju Indonesia Emas. Ini adalah politik kebangsaan yang melebihi jabatan atau kekuasaan apa pun,” pungkas Freddy.***



![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-75x75.jpeg)






