PERJALANAN hidup dan karier Galih Aji Prasongko menawarkan potret sosiologis yang kaya mengenai bagaimana komitmen personal bertransformasi menjadi gerakan sosial dan struktural di Indonesia.
Sebagai figur yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PROJO, ia merepresentasikan generasi baru pemimpin organisasi kemasyarakatan yang menggabungkan militansi aktivisme lapangan, kedalaman visi ekologis, dan pemahaman taktis atas realitas politik transisional di Indonesia.
Genealogi Karakter dan Masa Kecil: Pembentukan Jiwa yang Besar
Galih Aji Prasongko lahir di Jakarta pada tanggal 24 Februari 1982. Narasi mengenai masa kecilnya menggambarkan dinamika pengasuhan yang berkontribusi langsung pada pembentukan karakternya yang tangguh dan berprinsip.
Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dan sekaligus anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Suwarso dan Siti Hadijah, Galih tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberikan ruang bagi pertumbuhan kepribadian yang mandiri.
Ibundanya, Siti Hadijah, mengenang Galih kecil sebagai sosok anak yang penurut dan cenderung introspektif. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah dibandingkan bermain di luar bersama teman-teman sebaya.
Karakter rumahan ini berpadu dengan sifat keras dan determinasi tinggi yang sangat menonjol di mata sang ayah, Suwarso.
Watak keras ini bukan merujuk pada pembangkangan, melainkan pada keteguhan sikap yang luar biasa. Jika Galih telah menetapkan sebuah kemauan atau tujuan, ia memiliki daya dorong internal yang kuat untuk mencapainya tanpa pernah mengeluh atau merepotkan orang tua.
Kemandirian ini tercermin dari kebiasaannya yang hampir tidak pernah meminta-minta kepada orang tua, bahkan ia dikenal memiliki harga diri yang tinggi hingga harus dicegah agar tidak menolak pulang ke rumah ketika menghadapi perselisihan atau keharusan meminta maaf.
Kecintaan Galih terhadap literatur dipupuk secara sadar oleh ayahnya sejak usia dini. Kebiasaan membaca ini ditularkan sebagai instrumen untuk membangun kapasitas intelektual dan wawasan sejarah yang luas.
Sang ayah selalu menekankan bahwa tanpa membaca dan memperluas pengalaman, seseorang akan terjebak dalam ruang berpikir yang sangat sempit.
Pesan ini membekas mendalam pada diri Galih, mendidiknya untuk tumbuh sebagai laki-laki yang memiliki kelapangan dada dan “jiwa yang besar.” Kegemaran membaca ini kemudian melahirkan hobi menulis.
Galih memiliki aspirasi mendalam untuk menerbitkan buku karyanya sendiri suatu hari nanti, dengan keyakinan bahwa karya tulis tidak hanya menjadi sarana penyebaran gagasan tetapi juga instrumen yang bermartabat untuk menghidupi diri dan keluarganya di masa depan.
Masa Perkuliahan, Ketertarikan Politik, dan Pilihan Jalan Ekologi
Ketertarikan Galih terhadap isu-isu politik mulai mengkristal kuat sejak ia memasuki dunia perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Selama fase akademis ini, ia aktif terlibat dalam berbagai gerakan mahasiswa yang merespons ketimpangan sosial dan kebijakan negara.
Namun, berbeda dengan tipikal aktivis mahasiswa yang mengejar posisi kekuasaan formal di lingkungan kampus, Galih secara sadar memilih untuk tidak masuk ke dalam badan-badan politik formal baik di dalam maupun di luar kampus. Ia lebih memilih jalur gerakan moral dan advokasi berbasis isu.
Pilihan sektoral Galih akhirnya jatuh pada isu lingkungan hidup. Baginya, lingkungan bukan sekadar isu sektoral murni, melainkan penopang mutlak dari seluruh dimensi kehidupan manusia.
Filosofi ekologisnya berakar pada pemahaman sederhana namun fundamental bahwa lingkunganlah yang menyediakan pangan dan kehidupan bagi seluruh umat manusia.
Kekhawatiran mendalam akan rusaknya ekosistem yang dapat mengancam kelangsungan hidup generasi mendatang—anak-cucu manusia—menjadi motor penggerak utama di balik seluruh aktivitas kampanyenya.

Dinamika Aktivisme Lingkungan: Dari Greenpeace Swiss Hingga Diplomasi COP 13
Langkah awal keterlibatan formal Galih dalam dunia kampanye lingkungan dimulai melalui Greenpeace Indonesia, sebuah organisasi lingkungan internasional yang dikenal dengan pendekatan kampanye kreatif dan konfrontatif.
Pembentukan Tim Solar Generation
Galih bergabung sebagai relawan Greenpeace pada awal tahun 2007, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-25 pada tanggal 24 Februari.
Dedikasinya segera diuji ketika ia dikirim untuk menjalani pelatihan kepemimpinan dan kampanye intensif di Swiss selama dua minggu pada bulan Agustus 2007.
Sekembalinya dari Swiss, ia dipercaya mengemban tanggung jawab besar untuk membangun dan memimpin tim Solar Generation di Indonesia. Tim ini dirancang untuk memobilisasi energi kreatif anak muda dalam mendorong transisi energi bersih dan terbarukan di tanah air.
Diplomasi Iklim di COP 13 UNFCCC
Momentum peluncuran Solar Generation bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 13 UNFCCC) di Bali pada Desember 2007.
Di forum internasional yang sangat strategis ini, Galih dipercaya sebagai koordinator delegasi muda. Ia berkesempatan menyampaikan aspirasi, tuntutan, dan solusi konkret pemuda mengenai mitigasi pemanasan global secara langsung kepada Presiden COP 13, Rachmat Witoelar, yang saat itu juga menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Selama memimpin Solar Generation, fokus kampanye Galih diarahkan pada edukasi publik berskala luas, khususnya menyasar generasi muda guna mendorong perubahan pola pikir dan perilaku konsumsi energi demi memperpanjang kelangsungan hidup manusia di bumi.
Pengakuan Nasional: Penghargaan Hard Rock Indonesia
Pengaruh dan kreativitas Galih dalam menggerakkan kesadaran ekologis generasi muda mendapat pengakuan luas. Pada Mei 2008, ia dinobatkan sebagai salah satu dari “30 Orang Paling Inspiratif di Bawah Umia 30 Tahun” oleh majalah Hard Rock Indonesia.
Penghargaan ini menegaskan perannya sebagai figur muda kreatif yang mampu menyebarkan inspirasi positif bagi generasinya demi melakukan perubahan sosial yang nyata.
Profesionalisasi Gerakan: Pengalaman Strategis di WWF-Indonesia
Pasca-kiprahnya di Greenpeace, Galih memperluas jangkauan profesionalismenya dengan bergabung bersama WWF-Indonesia, organisasi konservasi independen terbesar di dunia.
Di lembaga ini, ia memegang berbagai portofolio penting, mulai dari Koordinator Kampanye Earth Hour Indonesia, Campaign & Mobilization Officer, hingga Youth & Community Engagement Specialist di bawah Direktorat Komunikasi.
Melalui platform Earth Hour, Galih mengoordinasikan gerakan akar rumput (grassroots) terbesar di dunia untuk isu perubahan iklim dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Beberapa kontribusi strategisnya selama di WWF-Indonesia meliputi:
-
KUMBANG Earth Hour 2018 (Cianjur): Menginisiasi dan memimpin pertemuan nasional para relawan aktif (Champions) dari berbagai kota untuk membangun kapasitas kepemimpinan, strategi kampanye lokal yang taktis, serta ketahanan komunitas menghadapi isu lingkungan spesifik di daerah masing-masing.
-
Kemitraan Panda Badge dengan Gerakan Pramuka: Menghidupkan kembali kolaborasi bersejarah antara WWF dan Gerakan Pramuka (dimulai sejak 1973 secara global) di Indonesia melalui integrasi lencana konservasi (“Panda Badge”) guna mendidik anggota Pramuka menjadi agen kelestarian lingkungan.
-
Kemitraan Korporasi Berkelanjutan: Mengawal kolaborasi dengan entitas bisnis besar, seperti PT Angkasa Pura I (Persero), dalam mengadopsi standar operasional ramah lingkungan (ISO 14001), audit emisi karbon bandara melalui platform ACERT, penggunaan panel surya, lampu LED, dan pengelolaan limbah berkelanjutan.
Advokasi Hak Sosio-Ekonomi: Komunitas Kretek dan Hak Konstitusional
Perjalanan aktivisme Galih tidak berjalan linear dalam satu koridor ekologis yang kaku. Karakter kerasnya yang dipadukan dengan komitmen terhadap keadilan sosial membawanya pada ruang advokasi ekonomi kerakyatan melalui jalur industri tembakau tradisional nasional.
Ia menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Kretek Jakarta. Keterlibatan ini kerap dipandang paradoks oleh kalangan aktivis lingkungan murni, namun bagi Galih, esensi perjuangannya tetap sama: membela ruang hidup dan hak dasar manusia yang paling rentan.
Dalam konteks ini, Galih melihat bahwa regulasi pengendalian tembakau yang agresif sering kali mengabaikan nasib jutaan pedagang kecil, pengasong, dan petani tembakau yang menggantungkan masa depan keluarganya pada komoditas legal tersebut.
Melalui tulisan-tulisannya, seperti “Logika Kuasa Matikan Hak Pedagang Rokok” (2014) dan “Senjakala Pengasong Rokok”, ia mengkritik keras intervensi lembaga donor internasional—seperti Bloomberg Initiative—terhadap perumusan kebijakan kesehatan nasional yang dinilai tidak akomodatif terhadap realitas ekonomi rakyat kecil di Indonesia.
Puncak dari perjuangan advokasi ini terjadi ketika Galih menjadi salah satu pemohon resmi dalam uji materi (Judicial Review) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (Perkara No. 66/PUU-X/2012).
Bersama elemen petani dan buruh tembakau, ia memperjuangkan kepastian hukum atas hak untuk bekerja dan berdagang komoditas tembakau sebagai produk legal yang dilindungi konstitusi.

Kematangan Karakter dan Kepemimpinan di DPP PROJO
Transformasi personal Galih dari seorang pemuda yang diakui kerabatnya sebagai sosok yang awalnya egois dan “susah diatur” menjadi pribadi yang matang, penyabar, dan bertanggung jawab tidak lepas dari tempaan panjang di dunia organisasi. Pengalaman menghadapi berbagai konflik lapangan, diplomasi internasional, hingga persidangan konstitusi membentuk kematangan emosional dan intelektualnya.
Di mata teman-teman dekatnya, Galih dipandang sebagai sosok dengan solidaritas sosial yang sangat tinggi, konsisten, dan memiliki pendirian yang teguh (“hijau yang tinggi banget pendiriannya” dalam konteks prinsip kelestarian ekologi). Karakter keras kepalanya yang diidentifikasi sang ayah sejak kecil kini bertransformasi menjadi ketegasan prinsipil yang dipadukan dengan sikap kooperatif terhadap mitra kerja.
Kematangan inilah yang membawa Galih dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan DPP PROJO. Di bawah kepemimpinan Budi Arie Setiadi yang terpilih kembali dalam Kongres Ketiga PROJO untuk masa bakti 2025–2030, posisi Galih menjadi krusial dalam mengawal program-program ketahanan ekologi dan mitigasi bencana nasional.
Melalui instrumen ormas sebesar PROJO, Galih memiliki sarana yang jauh lebih masif untuk mewujudkan cita-cita masa mudanya: menciptakan perubahan nyata bagi dunia luar. Di bidang kebencanaan, ia menerjemahkan prinsip kesiapsiagaan darurat ke tingkat akar rumput (seperti pembentukan tim desa tangguh bencana), mencakup deteksi dini, pengamanan aset warga, pengelolaan logistik darurat, hingga pemulihan pascabencana. Di bidang lingkungan hidup, ia mendorong kebijakan pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan sosial, memastikan perlindungan alam berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat.
***
Sikap hidup Galih senantiasa dipandu oleh mimpi besar yang konsisten sejak awal keterlibatannya di dunia pergerakan:
“Gue ingin melakukan satu hal yang berarti buat dunia… untuk membuat sebuah perubahan yang lebih baik di kehidupan nyata.”
Melalui integrasi nilai ekologi global dari masa mudanya di Greenpeace dan WWF, keberanian membela keadilan sosial di Komunitas Kretek, serta kapasitas eksekusi kebijakan di DPP PROJO, Galih Aji Prasongko telah membuktikan diri sebagai aktivis yang berhasil mentransformasikan idealisme moral menjadi kerja nyata yang terstruktur demi kemaslahatan masyarakat luas.***












