• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Galih Aji Prasongko: Transformasi Kepemimpinan Ekologis, Advokasi Kerakyatan, dan Rekam Jejak Strategis di DPP PROJO

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
2 Maret 2026
in Sosok
Waktu Baca: 8 menit
A A
0
Menjinakkan Bom Waktu Ekologis: Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Galih Aji Prasongko, Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPP PROJO

PERJALANAN hidup dan karier Galih Aji Prasongko menawarkan potret sosiologis yang kaya mengenai bagaimana komitmen personal bertransformasi menjadi gerakan sosial dan struktural di Indonesia.

Sebagai figur yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PROJO, ia merepresentasikan generasi baru pemimpin organisasi kemasyarakatan yang menggabungkan militansi aktivisme lapangan, kedalaman visi ekologis, dan pemahaman taktis atas realitas politik transisional di Indonesia.   

KabarLainnya

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

Genealogi Karakter dan Masa Kecil: Pembentukan Jiwa yang Besar

Galih Aji Prasongko lahir di Jakarta pada tanggal 24 Februari 1982. Narasi mengenai masa kecilnya menggambarkan dinamika pengasuhan yang berkontribusi langsung pada pembentukan karakternya yang tangguh dan berprinsip.

Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dan sekaligus anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Suwarso dan Siti Hadijah, Galih tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberikan ruang bagi pertumbuhan kepribadian yang mandiri.

Ibundanya, Siti Hadijah, mengenang Galih kecil sebagai sosok anak yang penurut dan cenderung introspektif. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam rumah dibandingkan bermain di luar bersama teman-teman sebaya.

Karakter rumahan ini berpadu dengan sifat keras dan determinasi tinggi yang sangat menonjol di mata sang ayah, Suwarso.

Watak keras ini bukan merujuk pada pembangkangan, melainkan pada keteguhan sikap yang luar biasa. Jika Galih telah menetapkan sebuah kemauan atau tujuan, ia memiliki daya dorong internal yang kuat untuk mencapainya tanpa pernah mengeluh atau merepotkan orang tua.

Kemandirian ini tercermin dari kebiasaannya yang hampir tidak pernah meminta-minta kepada orang tua, bahkan ia dikenal memiliki harga diri yang tinggi hingga harus dicegah agar tidak menolak pulang ke rumah ketika menghadapi perselisihan atau keharusan meminta maaf.

Kecintaan Galih terhadap literatur dipupuk secara sadar oleh ayahnya sejak usia dini. Kebiasaan membaca ini ditularkan sebagai instrumen untuk membangun kapasitas intelektual dan wawasan sejarah yang luas.

Sang ayah selalu menekankan bahwa tanpa membaca dan memperluas pengalaman, seseorang akan terjebak dalam ruang berpikir yang sangat sempit.

Pesan ini membekas mendalam pada diri Galih, mendidiknya untuk tumbuh sebagai laki-laki yang memiliki kelapangan dada dan “jiwa yang besar.” Kegemaran membaca ini kemudian melahirkan hobi menulis.

Galih memiliki aspirasi mendalam untuk menerbitkan buku karyanya sendiri suatu hari nanti, dengan keyakinan bahwa karya tulis tidak hanya menjadi sarana penyebaran gagasan tetapi juga instrumen yang bermartabat untuk menghidupi diri dan keluarganya di masa depan.

Masa Perkuliahan, Ketertarikan Politik, dan Pilihan Jalan Ekologi

Ketertarikan Galih terhadap isu-isu politik mulai mengkristal kuat sejak ia memasuki dunia perguruan tinggi sebagai mahasiswa. Selama fase akademis ini, ia aktif terlibat dalam berbagai gerakan mahasiswa yang merespons ketimpangan sosial dan kebijakan negara.

Namun, berbeda dengan tipikal aktivis mahasiswa yang mengejar posisi kekuasaan formal di lingkungan kampus, Galih secara sadar memilih untuk tidak masuk ke dalam badan-badan politik formal baik di dalam maupun di luar kampus. Ia lebih memilih jalur gerakan moral dan advokasi berbasis isu.

Pilihan sektoral Galih akhirnya jatuh pada isu lingkungan hidup. Baginya, lingkungan bukan sekadar isu sektoral murni, melainkan penopang mutlak dari seluruh dimensi kehidupan manusia.

Filosofi ekologisnya berakar pada pemahaman sederhana namun fundamental bahwa lingkunganlah yang menyediakan pangan dan kehidupan bagi seluruh umat manusia.

Kekhawatiran mendalam akan rusaknya ekosistem yang dapat mengancam kelangsungan hidup generasi mendatang—anak-cucu manusia—menjadi motor penggerak utama di balik seluruh aktivitas kampanyenya.

Galih Aji Prasongko (Earth Hour Indonesia), Salah satu dari ribuan orang pada tanggal 31 Maret 2012 menggunakan sepeda sebagai satu-satunya alat transportasi selama 1 bulan.

Dinamika Aktivisme Lingkungan: Dari Greenpeace Swiss Hingga Diplomasi COP 13

Langkah awal keterlibatan formal Galih dalam dunia kampanye lingkungan dimulai melalui Greenpeace Indonesia, sebuah organisasi lingkungan internasional yang dikenal dengan pendekatan kampanye kreatif dan konfrontatif.

Pembentukan Tim Solar Generation

Galih bergabung sebagai relawan Greenpeace pada awal tahun 2007, tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-25 pada tanggal 24 Februari.

Dedikasinya segera diuji ketika ia dikirim untuk menjalani pelatihan kepemimpinan dan kampanye intensif di Swiss selama dua minggu pada bulan Agustus 2007.

Sekembalinya dari Swiss, ia dipercaya mengemban tanggung jawab besar untuk membangun dan memimpin tim Solar Generation di Indonesia. Tim ini dirancang untuk memobilisasi energi kreatif anak muda dalam mendorong transisi energi bersih dan terbarukan di tanah air.   

Diplomasi Iklim di COP 13 UNFCCC

Momentum peluncuran Solar Generation bertepatan dengan penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 13 UNFCCC) di Bali pada Desember 2007.

Di forum internasional yang sangat strategis ini, Galih dipercaya sebagai koordinator delegasi muda. Ia berkesempatan menyampaikan aspirasi, tuntutan, dan solusi konkret pemuda mengenai mitigasi pemanasan global secara langsung kepada Presiden COP 13, Rachmat Witoelar, yang saat itu juga menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Selama memimpin Solar Generation, fokus kampanye Galih diarahkan pada edukasi publik berskala luas, khususnya menyasar generasi muda guna mendorong perubahan pola pikir dan perilaku konsumsi energi demi memperpanjang kelangsungan hidup manusia di bumi.   

Pengakuan Nasional: Penghargaan Hard Rock Indonesia

Pengaruh dan kreativitas Galih dalam menggerakkan kesadaran ekologis generasi muda mendapat pengakuan luas. Pada Mei 2008, ia dinobatkan sebagai salah satu dari “30 Orang Paling Inspiratif di Bawah Umia 30 Tahun” oleh majalah Hard Rock Indonesia.

Penghargaan ini menegaskan perannya sebagai figur muda kreatif yang mampu menyebarkan inspirasi positif bagi generasinya demi melakukan perubahan sosial yang nyata.

Profesionalisasi Gerakan: Pengalaman Strategis di WWF-Indonesia

Pasca-kiprahnya di Greenpeace, Galih memperluas jangkauan profesionalismenya dengan bergabung bersama WWF-Indonesia, organisasi konservasi independen terbesar di dunia.

Di lembaga ini, ia memegang berbagai portofolio penting, mulai dari Koordinator Kampanye Earth Hour Indonesia, Campaign & Mobilization Officer, hingga Youth & Community Engagement Specialist di bawah Direktorat Komunikasi.   

Melalui platform Earth Hour, Galih mengoordinasikan gerakan akar rumput (grassroots) terbesar di dunia untuk isu perubahan iklim dan keanekaragaman hayati di Indonesia. Beberapa kontribusi strategisnya selama di WWF-Indonesia meliputi:   

  • KUMBANG Earth Hour 2018 (Cianjur): Menginisiasi dan memimpin pertemuan nasional para relawan aktif (Champions) dari berbagai kota untuk membangun kapasitas kepemimpinan, strategi kampanye lokal yang taktis, serta ketahanan komunitas menghadapi isu lingkungan spesifik di daerah masing-masing.   

  • Kemitraan Panda Badge dengan Gerakan Pramuka: Menghidupkan kembali kolaborasi bersejarah antara WWF dan Gerakan Pramuka (dimulai sejak 1973 secara global) di Indonesia melalui integrasi lencana konservasi (“Panda Badge”) guna mendidik anggota Pramuka menjadi agen kelestarian lingkungan.   

  • Kemitraan Korporasi Berkelanjutan: Mengawal kolaborasi dengan entitas bisnis besar, seperti PT Angkasa Pura I (Persero), dalam mengadopsi standar operasional ramah lingkungan (ISO 14001), audit emisi karbon bandara melalui platform ACERT, penggunaan panel surya, lampu LED, dan pengelolaan limbah berkelanjutan.   

Advokasi Hak Sosio-Ekonomi: Komunitas Kretek dan Hak Konstitusional

Perjalanan aktivisme Galih tidak berjalan linear dalam satu koridor ekologis yang kaku. Karakter kerasnya yang dipadukan dengan komitmen terhadap keadilan sosial membawanya pada ruang advokasi ekonomi kerakyatan melalui jalur industri tembakau tradisional nasional.

Ia menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Kretek Jakarta. Keterlibatan ini kerap dipandang paradoks oleh kalangan aktivis lingkungan murni, namun bagi Galih, esensi perjuangannya tetap sama: membela ruang hidup dan hak dasar manusia yang paling rentan.   

Dalam konteks ini, Galih melihat bahwa regulasi pengendalian tembakau yang agresif sering kali mengabaikan nasib jutaan pedagang kecil, pengasong, dan petani tembakau yang menggantungkan masa depan keluarganya pada komoditas legal tersebut.

Melalui tulisan-tulisannya, seperti “Logika Kuasa Matikan Hak Pedagang Rokok” (2014) dan “Senjakala Pengasong Rokok”, ia mengkritik keras intervensi lembaga donor internasional—seperti Bloomberg Initiative—terhadap perumusan kebijakan kesehatan nasional yang dinilai tidak akomodatif terhadap realitas ekonomi rakyat kecil di Indonesia.   

Puncak dari perjuangan advokasi ini terjadi ketika Galih menjadi salah satu pemohon resmi dalam uji materi (Judicial Review) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (Perkara No. 66/PUU-X/2012).

Bersama elemen petani dan buruh tembakau, ia memperjuangkan kepastian hukum atas hak untuk bekerja dan berdagang komoditas tembakau sebagai produk legal yang dilindungi konstitusi.   

Kematangan Karakter dan Kepemimpinan di DPP PROJO

Transformasi personal Galih dari seorang pemuda yang diakui kerabatnya sebagai sosok yang awalnya egois dan “susah diatur” menjadi pribadi yang matang, penyabar, dan bertanggung jawab tidak lepas dari tempaan panjang di dunia organisasi. Pengalaman menghadapi berbagai konflik lapangan, diplomasi internasional, hingga persidangan konstitusi membentuk kematangan emosional dan intelektualnya.

Di mata teman-teman dekatnya, Galih dipandang sebagai sosok dengan solidaritas sosial yang sangat tinggi, konsisten, dan memiliki pendirian yang teguh (“hijau yang tinggi banget pendiriannya” dalam konteks prinsip kelestarian ekologi). Karakter keras kepalanya yang diidentifikasi sang ayah sejak kecil kini bertransformasi menjadi ketegasan prinsipil yang dipadukan dengan sikap kooperatif terhadap mitra kerja.

Kematangan inilah yang membawa Galih dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kebencanaan DPP PROJO. Di bawah kepemimpinan Budi Arie Setiadi yang terpilih kembali dalam Kongres Ketiga PROJO untuk masa bakti 2025–2030, posisi Galih menjadi krusial dalam mengawal program-program ketahanan ekologi dan mitigasi bencana nasional.   

Melalui instrumen ormas sebesar PROJO, Galih memiliki sarana yang jauh lebih masif untuk mewujudkan cita-cita masa mudanya: menciptakan perubahan nyata bagi dunia luar. Di bidang kebencanaan, ia menerjemahkan prinsip kesiapsiagaan darurat ke tingkat akar rumput (seperti pembentukan tim desa tangguh bencana), mencakup deteksi dini, pengamanan aset warga, pengelolaan logistik darurat, hingga pemulihan pascabencana. Di bidang lingkungan hidup, ia mendorong kebijakan pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan sosial, memastikan perlindungan alam berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat.   

***

Sikap hidup Galih senantiasa dipandu oleh mimpi besar yang konsisten sejak awal keterlibatannya di dunia pergerakan:

“Gue ingin melakukan satu hal yang berarti buat dunia… untuk membuat sebuah perubahan yang lebih baik di kehidupan nyata.”

Melalui integrasi nilai ekologi global dari masa mudanya di Greenpeace dan WWF, keberanian membela keadilan sosial di Komunitas Kretek, serta kapasitas eksekusi kebijakan di DPP PROJO, Galih Aji Prasongko telah membuktikan diri sebagai aktivis yang berhasil mentransformasikan idealisme moral menjadi kerja nyata yang terstruktur demi kemaslahatan masyarakat luas.***

Tags: Galih Aji PrasongkoProfil Galih Aji Prasongko
Share6Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Mengawal Aspirasi Generasi Baru: Kiprah Febrio Martha Mustafa sebagai Motor Penggerak Projo Muda

Kabar Selanjutnya

Zulhamedy Syamsi: Dari Meja Audit ke Panggung Politik, Menjaga Akuntabilitas di Dua Dunia

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci
Sosok

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

5 Juni 2026
Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama
Sosok

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

5 Juni 2026
Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik
Sosok

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

13 Maret 2026
Kabar Selanjutnya
Zulhamedy Syamsi: Dari Meja Audit ke Panggung Politik, Menjaga Akuntabilitas di Dua Dunia

Zulhamedy Syamsi: Dari Meja Audit ke Panggung Politik, Menjaga Akuntabilitas di Dua Dunia

Dari Glenmore ke Istana: Jalan Sunyi Handoko Menjembatani Rakyat dan Kekuasaan

Dari Glenmore ke Istana: Jalan Sunyi Handoko Menjembatani Rakyat dan Kekuasaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

24 Agustus 2026
HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

23 Agustus 2026

TRENDING

  • Mengawal HUT ke-12 PROJO: Cerita Yati Nurhayati dan Harapan Persaudaraan Tanpa Batas

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dua Belas Tahun Menjaga Api—Ketika Relawan Tidak Pulang Setelah Pemilu & Membangun Demokrasi Partisipatoris

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Prabowo dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Presiden Rizky Irmansyah

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.