DI SEBUAH dusun bernama Sugihwaras, di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, cerita tentang tanah bukan sekadar soal batas dan sertifikat. Ia adalah cerita tentang hidup, tentang generasi yang menunggu kepastian, dan tentang mimpi yang kerap tertahan di pinggir hutan. Dari tanah inilah nama Handoko tumbuh—perlahan, tapi berakar kuat.
Lahir pada 24 November 1974, Handoko bukan figur yang datang dari karpet merah kekuasaan. Ia adalah “akamsi”—anak kampung asli—yang memahami betul bagaimana rasanya hidup di wilayah yang lama bersentuhan dengan konflik agraria. Pengalaman itu membentuknya, seperti batu yang diasah waktu: keras, tapi punya arah.
Aktivisme yang Tidak Pernah Usai
Jejaknya dimulai dari riuhnya tahun 1998—era ketika mahasiswa turun ke jalan, dan negara sedang menulis ulang dirinya sendiri. Handoko adalah bagian dari gelombang itu. Namun bagi sebagian orang, aktivisme berhenti setelah reformasi. Bagi Handoko, justru di situlah cerita dimulai.
Isu agraria menjadi benang merah yang tak pernah ia lepaskan. Tanah, bagi Handoko, bukan sekadar objek kebijakan, tapi ruang hidup yang menentukan martabat manusia. Perspektif ini kelak membawanya masuk ke lingkar kekuasaan—bukan untuk berjarak dari rakyat, tapi untuk mencari jalan pulang bagi aspirasi mereka.
Dari Relawan ke Lingkar Istana
Sebagai Sekretaris Jenderal Pro Jokowi, Handoko memainkan peran penting dalam mengubah wajah relawan politik. Projo di tangannya bukan sekadar mesin dukungan elektoral, tapi juga jembatan antara kebijakan pusat dan realitas di lapangan.
Perannya semakin strategis saat ia dipercaya menjadi Tenaga Ahli Madya di Kantor Staf Presiden. Di sinilah Handoko berdiri di dua dunia: satu kaki di rumput rakyat, satu lagi di lantai marmer kekuasaan.
Namun posisi itu bukan tanpa tantangan. Ia harus memastikan bahwa kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen, tapi benar-benar menjelma menjadi perubahan nyata. Dan di sinilah ia menemukan panggung utamanya.
Reforma Agraria: Dari Wacana ke Sertifikat
Puncak dari kerja sunyi itu terlihat dalam program Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) di Banyuwangi. Ribuan bidang tanah yang sebelumnya berada dalam kawasan hutan akhirnya bisa dimiliki masyarakat secara legal.
Momen simboliknya terjadi saat Joko Widodo menyerahkan langsung sertifikat kepada warga di Genteng, Desember 2023. Tapi di balik seremoni itu, ada kerja panjang yang tak terlihat—lobi, advokasi, hingga sinkronisasi kebijakan lintas lembaga—yang sebagian besar digerakkan oleh Handoko.
Bagi warga, itu bukan sekadar “SK biru”. Itu adalah kepastian hidup yang telah ditunggu puluhan tahun.
Menggerakkan Ekonomi dari Pinggir
Handoko tidak berhenti pada urusan tanah. Ia juga mendorong penguatan ekonomi rakyat kecil. Melalui berbagai inisiatif, termasuk menghadirkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam seminar IKM, ia membuka akses jejaring pusat ke pelaku usaha di daerah.
Pendekatannya sederhana, tapi jarang dilakukan secara konsisten: membawa negara lebih dekat ke rakyat, bukan sebaliknya.
Politik sebagai Jalan, Bukan Tujuan
Pada Pemilu 2024, Handoko maju sebagai caleg DPR RI dari Partai Golongan Karya untuk Dapil Jawa Timur III. Ia memang belum berhasil melangkah ke Senayan, namun langkah politiknya tidak berhenti sebagai angka di papan rekapitulasi.
Bagi Handoko, politik bukan sekadar soal kursi, tapi soal akses untuk memperluas dampak. Bahkan ketika peluang menjadi calon bupati Banyuwangi terbuka, ia memilih tetap berada di pusat, melanjutkan kerja strategis yang menurutnya lebih mendesak.
Pilihan itu menunjukkan satu hal: tidak semua panggung harus terlihat untuk bisa berpengaruh.
Dari Lapangan ke Stadion
Menariknya, energi Handoko juga mengalir ke dunia olahraga. Pada 2024, ia mengambil alih manajemen Persewangi—klub sepak bola kebanggaan Banyuwangi—sebagai Presiden Klub.
Langkah ini bukan sekadar hobi atau simbol. Ia ingin membangun ekosistem olahraga yang profesional dan berdaya saing. Dengan mendatangkan Syamsudin Batola sebagai pelatih, ia mulai merancang kebangkitan “Laskar Blambangan”.
Sepak bola, dalam visinya, adalah bahasa lain dari pembangunan: menyatukan, menggerakkan, dan memberi harapan.
Jalan Sunyi Seorang Penghubung
Handoko bukan tipikal politisi yang gemar tampil di garis depan sorotan. Ia lebih mirip jembatan—tidak selalu terlihat, tapi menentukan apakah dua sisi bisa terhubung.
Dari Glenmore ke Jakarta, dari aktivisme ke kebijakan, dari rakyat ke negara—ia merajut semua itu dalam satu benang: keberpihakan.
Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk politik yang sering bising oleh retorika, sosok seperti Handoko justru bekerja dalam frekuensi yang lebih tenang—namun berdampak panjang. Sebuah kerja yang tidak selalu viral, tapi terasa nyata di tanah tempat ia berasal.***












