Di dunia politik Indonesia, relawan sering digambarkan sebagai pasukan sukarela yang muncul menjelang pemilu lalu menghilang setelah pesta demokrasi usai. Namun kisah Panel Barus menempuh jalur berbeda. Ia bukan sekadar relawan yang datang dan pergi. Dalam satu dekade terakhir, namanya menjelma sebagai salah satu figur yang menandai transformasi relawan politik menjadi kekuatan yang berpengaruh di dalam struktur kekuasaan negara.
Perjalanan itu dimulai dari organisasi relawan pendukung Joko Widodo yang dikenal luas sebagai Projo. Di organisasi ini, Panel Barus dikenal sebagai organisator dengan naluri strategis. Ia bukan hanya penggerak massa, tetapi juga perancang struktur dan strategi gerakan relawan yang lebih sistematis.
Arsitek di Balik Mesin Relawan Projo
Dalam dinamika internal Projo, Panel Barus menempati sejumlah posisi penting. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pilpres (Bapilpres) Projo, Bendahara Umum, hingga Wakil Ketua Umum DPP. Posisi-posisi ini menempatkannya di jantung organisasi relawan terbesar yang selama satu dekade terakhir mengawal kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Bagi Panel, relawan bukan sekadar simbol dukungan emosional. Ia melihat relawan sebagai kekuatan politik yang harus memiliki tata kelola yang jelas. Karena itu, ia kerap menegaskan bahwa Projo yang sah adalah organisasi yang memiliki struktur resmi dan surat keputusan organisasi yang jelas.
Sikap tegas ini bukan tanpa alasan. Dalam lanskap politik Indonesia, klaim dukungan relawan sering kali dipolitisasi untuk membentuk opini publik. Panel Barus mencoba menjaga integritas organisasi agar tidak terpecah oleh klaim-klaim semu.
Musyawarah Rakyat: Menjaring Aspirasi dari Akar Rumput
Nama Panel Barus semakin menonjol ketika ia dipercaya memimpin Musyawarah Rakyat atau Musra. Sebagai ketua panitia pelaksana, ia merancang forum yang bertujuan menampung aspirasi masyarakat terkait arah kepemimpinan nasional setelah era Presiden Joko Widodo.
Musra digelar di berbagai daerah di Indonesia. Panel Barus turun langsung menyerap aspirasi masyarakat dari kota hingga pelosok desa. Forum ini kemudian menghasilkan rekomendasi politik yang diserahkan kepada Presiden Joko Widodo.
Dari proses panjang itu, dukungan relawan Projo akhirnya mengerucut pada pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024.
Bagi Panel, Musra bukan sekadar forum diskusi. Ia menyebutnya sebagai cara baru memberi ruang bagi suara masyarakat yang tidak selalu terwakili dalam struktur partai politik.
Peran Strategis di Tim Kampanye Nasional
Kemampuan Panel Barus dalam memobilisasi relawan membuatnya dipercaya masuk dalam struktur Tim Kampanye Nasional pasangan Prabowo-Gibran. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua TKN, menghubungkan kekuatan relawan dengan mesin partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju.
Peran itu menempatkannya di garis depan kampanye nasional. Namun di tengah aktivitas politik yang intens, Panel Barus juga menunjukkan sikap etis. Ia memilih mundur dari jabatan komisaris di sebuah BUMN pada November 2023 agar tidak terjadi konflik kepentingan selama masa kampanye.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal bahwa keterlibatan relawan dalam politik praktis tetap harus menjaga standar integritas birokrasi.
Dari Aktivisme Relawan ke Birokrasi Negara
Setelah kemenangan pasangan Prabowo-Gibran, perjalanan karier Panel Barus memasuki babak baru. Pada 3 Januari 2025, Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi melantiknya sebagai Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi di Kementerian Koperasi.
Penunjukan ini menandai transisi dari dunia aktivisme politik menuju birokrasi negara. Sebagai pejabat eselon I, Panel Barus mendapat tugas besar menghidupkan kembali peran koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat.
Baginya, koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia melihat koperasi sebagai fondasi ekonomi kerakyatan yang mampu memperkuat kemandirian desa dan mengurangi kesenjangan ekonomi.
Kopdes Merah Putih dan Ekonomi Desa
Salah satu gagasan yang kini sedang digarap Panel Barus adalah pembentukan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes Merah Putih. Program ini dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi desa.
Melalui koperasi ini, produk-produk lokal desa diharapkan dapat masuk ke pasar yang lebih luas. Kopdes juga dirancang untuk memperkuat distribusi kebutuhan pokok, pemberdayaan perempuan desa, hingga penguatan ketahanan pangan lokal.
Jika berjalan sesuai rencana, koperasi desa ini akan menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan produksi lokal dengan jaringan distribusi nasional.
Jembatan antara Politik dan Administrasi
Kisah Panel Barus menunjukkan wajah baru relawan politik di Indonesia. Dari seorang organisator di lapangan, ia kini menjadi bagian dari mesin kebijakan negara.
Ia kerap disebut sebagai “jembatan” antara dunia politik dan birokrasi. Pengalamannya mengelola relawan dianggap memberi modal penting dalam memahami aspirasi masyarakat di akar rumput.
Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Panel Barus harus membuktikan bahwa energi aktivisme dapat diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang nyata.
Jika berhasil, ia bukan hanya dikenal sebagai penggerak relawan. Ia akan tercatat sebagai salah satu tokoh yang menghidupkan kembali koperasi sebagai tulang punggung ekonomi rakyat Indonesia.***












