• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Amsal Sitepu: Ketika Kreativitas Diadili, dan Akal Sehat Ikut Dipenjara

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
2 April 2026
in Opini
Waktu Baca: 2 menit
A A
0
Amsal Sitepu: Ketika Kreativitas Diadili, dan Akal Sehat Ikut Dipenjara

ADA yang lebih tragis dari sekadar vonis terhadap seorang pekerja ekonomi kreatif. Lebih dalam dari sekadar perkara hukum.

Kasus Amsal Sitepu bukan hanya tentang benar atau salah di atas kertas hukum, ini tentang bagaimana nalar bisa tersesat di ruang sidang, dan bagaimana kewenangan bisa berubah menjadi panggung absurditas.

Amsal Sitepu, seorang pekerja di sektor ekonomi kreatif, sebuah sektor yang selama ini dielu-elukan sebagai masa depan bangsa justru harus berdiri sebagai terdakwa.

Ironi? Tidak. Ini lebih mirip satire hidup yang terlalu nyata untuk ditertawakan.

Yang menjadi persoalan bukan hanya putusan. Tetapi proses berpikir di balik putusan itu.

Ketika Kreativitas Dianggap Ancaman

Ekonomi kreatif lahir dari kebebasan berpikir, eksplorasi ide, dan keberanian melawan pakem. Namun di ruang sidang, tampaknya kreativitas dianggap sebagai variabel berbahaya, sesuatu yang harus dijinakkan, bahkan bila perlu dihukum.

Apakah aparat penegak hukum kita alergi terhadap sesuatu yang tidak bisa mereka pahami?

Jika iya, maka ini bukan sekadar masalah hukum. Ini masalah literasi. Masalah kapasitas. Masalah kualitas SDM.

Jaksa: Profesi atau Formalitas?

Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: bagaimana seseorang bisa sampai pada posisi sebagai jaksa, namun gagal memahami konteks dasar dari sebuah perkara?

Apakah pendidikan hukum hari ini hanya melahirkan penghafal pasal, bukan pemikir keadilan?

Bagaimana sistem bisa meluluskan individu yang tampaknya tidak mampu membedakan antara niat jahat dan ekspresi kreatif? Antara pelanggaran hukum dan interpretasi sempit atas realitas?

Atau jangan-jangan, memang tidak pernah diajarkan untuk berpikir?

Kita mulai curiga bahwa proses pendidikan hukum bukan lagi tempat membangun integritas dan kecerdasan, melainkan sekadar jalur administratif menuju jabatan. Lulus, diangkat, lalu entah apa yang tersisa dari akal sehat.

Vonis: Produk Hukum atau Produk Ketidaktahuan?

Vonis terhadap Amsal Sitepu seolah menjadi bukti bahwa hukum bisa kehilangan rohnya. Bahwa keadilan bisa dikalahkan oleh prosedur. Bahwa keputusan bisa lahir bukan dari pemahaman, tetapi dari ketergesaan atau lebih buruk, ketidaktahuan yang dibungkus kewenangan.

Dan di titik ini, kita tidak lagi bicara soal Amsal. Kita bicara soal sistem.

Sistem yang memungkinkan orang yang tidak cukup kompeten memegang nasib orang lain. Sistem yang lebih menghargai kepatuhan pada teks daripada kepekaan terhadap konteks.

Harga Diri yang Dipertaruhkan

Lebih luas lagi, kasus ini adalah tamparan bagi seluruh pekerja industri kreatif. Sebuah pesan tak tertulis: bahwa karya dan inovasi bisa sewaktu-waktu dianggap salah, hanya karena aparat tidak mampu memahaminya.

Ini bukan hanya soal hukum yang mencoreng wajah keadilan. Ini soal negara yang tanpa sadar merendahkan salah satu sektor yang selama ini mereka banggakan.

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang “ekonomi kreatif sebagai tulang punggung masa depan”, sementara pelakunya justru diperlakukan seperti pelaku kriminal tanpa pemahaman yang utuh?

Saatnya Kita Jujur?

Mungkin ini saatnya kita jujur: yang sedang kita saksikan bukan kegagalan individu, tetapi kegagalan kolektif.

Kegagalan pendidikan hukum.

Kegagalan sistem seleksi.

Kegagalan keberanian untuk berpikir.

Dan yang paling menyedihkan

kegagalan untuk mengakui bahwa kita salah.

Kasus Amsal Sitepu bukan sekadar perkara hukum. Ini adalah cermin. Dan jika kita berani melihatnya, yang tampak bukan hanya wajah keadilan yang retak tetapi juga wajah kita sendiri sebagai bangsa yang masih bingung membedakan antara aturan dan keadilan.

Atau mungkin, kita memang tidak pernah benar-benar peduli pada keadilan.***

Karl Sibarani, Ketua Bidang Sosial dan Budaya DPP Projo

Tags: Akal Sehat Ikut DipenjaraAmsal SitepuKetika Kreativitas Diadili
ShareSend
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Diplomasi Meja Makan di Sumber: Saat Jokowi Jamu Dubes Iran dengan Lontong Sayur dan Hangatnya Persahabatan

Kabar Selanjutnya

Sikap Negarawan, Jokowi Serahkan Isu Keterlibatan Tokoh Politik di Kasus Ijazah Palsu ke Proses Hukum

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Narasi Ketakutan, Ajakan Persatuan, dan Ujian Kedewasaan Bangsa
Opini

Narasi Ketakutan, Ajakan Persatuan, dan Ujian Kedewasaan Bangsa

8 April 2026
Dunia Gelap, Indonesia Tetap Menyala: Mengapa Kita Harus Optimis di Tengah Badai Energi?
Opini

Dunia Gelap, Indonesia Tetap Menyala: Mengapa Kita Harus Optimis di Tengah Badai Energi?

31 Maret 2026
Di Ambang Krisis Energi, Masihkah Kita Menjadi “Pengkhianat” dalam Selimut Pesimisme?
Opini

Di Ambang Krisis Energi, Masihkah Kita Menjadi “Pengkhianat” dalam Selimut Pesimisme?

29 Maret 2026
Kabar Selanjutnya
Sikap Negarawan, Jokowi Serahkan Isu Keterlibatan Tokoh Politik di Kasus Ijazah Palsu ke Proses Hukum

Sikap Negarawan, Jokowi Serahkan Isu Keterlibatan Tokoh Politik di Kasus Ijazah Palsu ke Proses Hukum

Jokowi Minta Rakyat Tak Terprovokasi Narasi ‘Chaos’: “Jangan Takut, Kita Butuh Kekompakan!”

Jokowi Minta Rakyat Tak Terprovokasi Narasi ‘Chaos’: "Jangan Takut, Kita Butuh Kekompakan!"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Social Media PROJO

TRENDING

  • Projo Tolak Restorative Justice Rismon Sianipar, Freddy Damanik: Ini Kejahatan Serius, Bukan Sekadar Konflik Pribadi!

    PROJO Soroti Praktik ‘Forum Shopping’ Penggugat Ijazah: Strategi Gagal Tanpa Bukti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jawab Kegelisahan Jusuf Kalla, Sekjen PROJO Desak Kasus Ijazah Segera Disidangkan: “Buktikan di Pengadilan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Program MBG Harus Tepat Kalori dan Jujur Secara Biaya, Kenyang Saja Tidak Cukup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Krisis Energi Asia: Ketua Projo Garut  Sebut Resiliensi Indonesia Luar Biasa, Ajak Gerakan Hemat Energi Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden ke-7 Jokowi Patahkan Logika Terbalik Isu Ijazah: “Yang Menuduh yang Membuktikan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Terkini

Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar
Kabar Nasional

Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar

Oleh Tim Redaksi
15 April 2026
0

​JAKARTA, PROJO.or.id – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang memaksa dunia mengkalkulasi ulang kekuatan militer,...

Selengkapnya
Projo Tolak Restorative Justice Rismon Sianipar, Freddy Damanik: Ini Kejahatan Serius, Bukan Sekadar Konflik Pribadi!

PROJO Soroti Praktik ‘Forum Shopping’ Penggugat Ijazah: Strategi Gagal Tanpa Bukti

15 April 2026
Tancap Gas! PROJO Jatim Targetkan Struktur Hingga Desa Rampung dalam 100 Hari

Tancap Gas! PROJO Jatim Targetkan Struktur Hingga Desa Rampung dalam 100 Hari

13 April 2026
Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

12 April 2026

Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie: Projo Harus Transformasi Menjadi Gerakan Rakyat!

12 April 2026

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.