• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Di Bawah Gunung Sampah Bantargebang

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
13 Maret 2026
in Kabar Rakyat
Waktu Baca: 3 menit
A A
0
Di Bawah Gunung Sampah Bantargebang

BAY ISMOYO/AFP via Getty Images Keterangan gambar,Para pemulung sedang menyortir tumpukan sampah di TPST Bantargebang

BAU menyengat itu sudah lama menjadi bagian dari kehidupan di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Setiap hari, ratusan truk datang silih berganti, membawa sisa kehidupan kota Jakarta: plastik, sisa makanan, kardus, hingga barang-barang yang tak lagi diinginkan.

Namun pada Minggu siang, 8 Maret 2026, gunungan sampah itu berubah menjadi bencana.

Tumpukan sampah setinggi sekitar 50 meter di Zona IV Bantargebang tiba-tiba longsor. Dalam hitungan detik, material yang selama puluhan tahun terus ditumpuk itu bergerak seperti tanah longsor, menimpa sopir truk yang sedang mengantre membuang muatan, warga, hingga warung di sekitar lokasi.

Sebanyak 13 orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Tujuh orang meninggal dunia, sementara enam lainnya selamat setelah berhasil dievakuasi tim SAR.

Sebagian korban ditemukan tertimbun di dekat gorong-gorong, lokasi yang kerap menjadi tempat warga berkumpul.

Tangis keluarga pecah ketika kantong jenazah satu per satu dibawa menuju ambulans. Bau sampah yang biasa mereka hirup setiap hari kini bercampur dengan duka.

Gunung Sampah yang Terus Tumbuh

TPST Bantargebang bukan tempat pembuangan biasa. Area seluas sekitar 110 hektare ini telah menjadi muara sampah Jakarta sejak 1989.

Setiap hari, lebih dari 7.300 ton sampah dari ibu kota diangkut ke lokasi tersebut.

Selama hampir empat dekade, tumpukan itu terus bertambah hingga membentuk “gunung sampah”. Ketinggiannya kini diperkirakan setara gedung 16 lantai.

Total sampah yang tertimbun diperkirakan telah mencapai sekitar 55 juta ton. Tak heran jika Bantargebang disebut sebagai salah satu tempat pemrosesan sampah terbesar di Asia Tenggara.

Namun bagi para pakar lingkungan, besarnya angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah tanda bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia sedang berada dalam masalah serius.

Pengkampanye urban berkeadilan dari WALHI, Wahyu Eka Styawan, menyebut tragedi ini bukan sekadar kecelakaan.

“Ini bukti pengelolaan sampah kita amburadul dari hulu sampai hilir,” katanya.

Menurutnya, sistem yang digunakan selama ini masih mengandalkan pola lama: kumpul, angkut, lalu buang.

Di tingkat rumah tangga, sebagian besar sampah tidak dipilah. Di tingkat kota, semuanya dikirim ke tempat pembuangan akhir. Hasilnya adalah gunung-gunung sampah yang terus meninggi.

Bom Waktu di Tempat Pembuangan

Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, melihat longsor di Bantargebang sebagai konsekuensi dari tekanan kapasitas yang sudah terlalu berat.

Volume sampah yang masuk jauh lebih besar dibanding kemampuan pemrosesan yang tersedia.

Saat hujan deras turun, air meresap ke dalam tumpukan sampah dan membuat lapisan di dalamnya menjadi licin. Kondisi itu dapat memicu pergeseran massa yang akhirnya berujung longsor.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menyebut hujan ekstrem sebagai salah satu pemicu kejadian tersebut.

Namun persoalan sebenarnya jauh lebih kompleks.

Semakin tinggi tumpukan sampah, semakin besar pula risiko yang muncul: longsor, gas metana, limbah cair (lindi), serta pencemaran lingkungan.

Di sekitar Bantargebang, penelitian menunjukkan kualitas air Kali Asem semakin memburuk dari hulu ke hilir akibat pencemaran.

Sementara bagi warga sekitar, bau menyengat sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bencana yang Pernah Terjadi

Longsor di Bantargebang bukan yang pertama.

Catatan Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan beberapa kejadian serupa pernah terjadi, termasuk pada 2003 dan 2006 yang juga menelan korban jiwa.

Pada awal 2024, landasan tumpukan sampah di kawasan ini bahkan sempat amblas hingga menyeret tiga truk sampah ke dasar sungai.

Tragedi seperti ini mengingatkan kembali pada bencana longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, pada 2005.

Saat itu, gunung sampah setinggi sekitar 60 meter runtuh setelah hujan deras dan ledakan gas metana. Lebih dari 140 orang tewas dan dua desa tertimbun.

Peristiwa itu menjadi salah satu bencana lingkungan terburuk dalam sejarah pengelolaan sampah di Indonesia.

Namun dua dekade berlalu, banyak tempat pembuangan akhir di Indonesia masih menggunakan metode open dumping, yakni menumpuk sampah di lahan terbuka.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan sekitar 343 dari 550 TPA di Indonesia masih menggunakan metode tersebut.

Darurat Sampah Nasional

Tragedi di Bantargebang terjadi hanya sebulan setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).

Dalam peluncuran program itu, pemerintah mengakui bahwa sampah telah menjadi masalah besar di berbagai daerah.

Bahkan, hampir semua tempat pembuangan akhir di Indonesia diperkirakan akan mengalami kelebihan kapasitas paling lambat pada 2028.

Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah berencana membangun 34 proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy) di berbagai kota.

Pakar teknik lingkungan dari ITS Surabaya, Profesor Eddy Setiadi Soedjono, menilai teknologi ini dapat membantu mengurangi volume sampah secara cepat.

Namun ia juga mengingatkan bahwa pembakaran sampah tidak boleh menjadi solusi permanen karena berpotensi menghasilkan polusi udara dan gas rumah kaca.

“Ini hanya solusi sementara. Dalam lima tahun, kita harus membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik,” katanya.

Mengubah Cara Mengelola Sampah

Bagi para aktivis lingkungan, solusi utama sebenarnya terletak di hulu.

Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan pemilahan sampah di rumah tangga, serta mewajibkan tanggung jawab produsen melalui skema extended producer responsibility (EPR) menjadi langkah yang dianggap penting.

Di sisi lain, infrastruktur pengelolaan sampah juga perlu diperkuat, mulai dari bank sampah, fasilitas daur ulang, hingga sistem pemrosesan yang lebih ramah lingkungan.

Namun perubahan itu tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.

Menurut Wahyu dari WALHI, membangun sistem pengelolaan sampah yang benar bisa memakan waktu hingga 15 tahun.

Tanpa perubahan mendasar, ia memperingatkan kota-kota di Indonesia akan terus menghadapi risiko bencana serupa.

Gunung sampah akan terus tumbuh. Dan suatu hari, seperti di Bantargebang, ia bisa runtuh kembali.***

Sumber : BBC Indonesia

Editor : Bar Bernade

Tags: TPST Bantargebang Longsor
ShareSend
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

Kabar Selanjutnya

Manisnya Berbagi di Senja Pancoran: Geliat Takjil di Depan Markas Projo

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

“Gak Usah Ikut Ribet, Sing Penting Dapur Ngebul”: Jurus Emak Menepis Badai Provokasi Global
Kabar Rakyat

“Gak Usah Ikut Ribet, Sing Penting Dapur Ngebul”: Jurus Emak Menepis Badai Provokasi Global

1 April 2026
Secangkir Arabica Coffee dan Harapan di Tengah Badai Energi: Catatan dari Sudut Buah Batu Bandung
Kabar Rakyat

Secangkir Arabica Coffee dan Harapan di Tengah Badai Energi: Catatan dari Sudut Buah Batu Bandung

31 Maret 2026
Arus Mudik Meningkat di H-2, 1,1 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek
Kabar Rakyat

Arus Mudik Meningkat di H-2, 1,1 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabodetabek

18 Maret 2026
Kabar Selanjutnya
Manisnya Berbagi di Senja Pancoran: Geliat Takjil di Depan Markas Projo

Manisnya Berbagi di Senja Pancoran: Geliat Takjil di Depan Markas Projo

Singgung Pesan Presiden Prabowo, Budi Arie Ajak Bangsa Bersatu Hadapi Dampak Geopolitik

Singgung Pesan Presiden Prabowo, Budi Arie Ajak Bangsa Bersatu Hadapi Dampak Geopolitik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Social Media PROJO

TRENDING

  • Projo Tolak Restorative Justice Rismon Sianipar, Freddy Damanik: Ini Kejahatan Serius, Bukan Sekadar Konflik Pribadi!

    PROJO Soroti Praktik ‘Forum Shopping’ Penggugat Ijazah: Strategi Gagal Tanpa Bukti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jawab Kegelisahan Jusuf Kalla, Sekjen PROJO Desak Kasus Ijazah Segera Disidangkan: “Buktikan di Pengadilan!”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Program MBG Harus Tepat Kalori dan Jujur Secara Biaya, Kenyang Saja Tidak Cukup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Krisis Energi Asia: Ketua Projo Garut  Sebut Resiliensi Indonesia Luar Biasa, Ajak Gerakan Hemat Energi Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie: Projo Harus Transformasi Menjadi Gerakan Rakyat!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Terkini

Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar
Kabar Nasional

Memaknai Lawatan Presiden ke Rusia dan Menhan ke AS, PROJO: Itu Tanda-tanda Indonesia Akan Besar

Oleh Tim Redaksi
15 April 2026
0

​JAKARTA, PROJO.or.id – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang memaksa dunia mengkalkulasi ulang kekuatan militer,...

Selengkapnya
Projo Tolak Restorative Justice Rismon Sianipar, Freddy Damanik: Ini Kejahatan Serius, Bukan Sekadar Konflik Pribadi!

PROJO Soroti Praktik ‘Forum Shopping’ Penggugat Ijazah: Strategi Gagal Tanpa Bukti

15 April 2026
Tancap Gas! PROJO Jatim Targetkan Struktur Hingga Desa Rampung dalam 100 Hari

Tancap Gas! PROJO Jatim Targetkan Struktur Hingga Desa Rampung dalam 100 Hari

13 April 2026
Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie Lantik H. Muhamad Sholeh Jadi Ketua DPD PROJO Jatim 2026-2031

12 April 2026

Buka Konferda Projo Jatim di Malang, Budi Arie: Projo Harus Transformasi Menjadi Gerakan Rakyat!

12 April 2026

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.