SOLO, PROJO.or.id – Presiden ke-7 RI sekaligus Ketua Dewan Pembina DPP PROJO, Joko Widodo (Jokowi), memberikan apresiasi tinggi terhadap ketangguhan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah gejolak harga minyak dunia.
Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam acara Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bihalal Youtuber Nusantara di Solo hari ini, Sabtu (4/4/2026). Di hadapan ratusan konten kreator, Jokowi memaparkan betapa beratnya tantangan ekonomi global saat ini.
Ketangguhan Ekonomi Indonesia
Jokowi menyoroti lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini telah menyentuh angka 108 hingga 112 USD per barel, naik hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya yang berada di kisaran 60-70 USD.
“Ini angka yang tidak mudah. Artinya kenaikannya sudah hampir dua kali lipat. Kalau diterus-teruskan, semua negara tidak akan ada yang kuat menghadapi ini,” ujar Jokowi.
Namun, Jokowi menekankan bahwa Indonesia menjadi pengecualian yang patut disyukuri. Di saat negara-negara lain sudah menaikkan harga BBM sebesar 40 hingga 60 persen, pemerintah Indonesia masih mampu menahan harga untuk tidak naik demi menjaga daya beli rakyat.
“Tapi pemerintah kita di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto masih mampu mengendalikan. Kita tidak naik. Masih di harga yang sama (Pertalite) Rp10.000, Pertamax juga masih di Rp12.400 sampai Rp13.500. Masih harga yang sama,” tambahnya.
Seruan Persatuan: Jangan Menakut-nakuti Rakyat
Menyikapi kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, Jokowi berpesan agar masyarakat menjaga kekompakan dan kerukunan. Ia meminta agar tidak ada pihak-pihak yang menyebarkan narasi ketakutan di tengah masyarakat.
“Dalam posisi seperti sekarang ini, perlu betul-betul kekompakan. Perlu betul-betul kerukunan di antara kita. Persatuan itu harus dijaga. Janganlah menakut-nakuti,” tegas Jokowi.
Respons Sekjen PROJO: Bangun Narasi Optimisme
Menanggapi pidato tersebut, Sekjen DPP PROJO Freddy Alex Damanik menegaskan bahwa PROJO siap menjadi garda terdepan dalam menyuarakan optimisme pemerintah.
Saat ditanya wartawan apakah pesan Jokowi soal “menakut-nakuti” mengarah pada tokoh tertentu yang meramalkan Indonesia akan chaos dalam 2-3 bulan mendatang, Freddy menjawab dengan bijak.
“Pernyataan Pak Jokowi tidak ditujukan untuk satu tokoh tertentu, tetapi secara umum untuk seluruh warga negara. Kita harus menghindari pernyataan yang membuat rakyat takut. Mari kita bangun narasi optimisme,” jelas Freddy.
Sebagai langkah konkret, Freddy mengajak para relawan dan masyarakat untuk:
- Stop Hoaks (DFK): Tidak menyebarkan isu liar yang memicu keresahan.
- Gunakan Bahasa Sejuk: Berinteraksi di media sosial dengan cara yang menenangkan.
- Fokus pada Data: Jika ada provokasi, balas dengan data keberhasilan pemerintah atau tetap tenang.
“Negara ini kuat. Terbukti harga BBM kita tetap stabil di tengah krisis dunia. Sebagai pendukung pemerintah yang dewasa, tugas kita adalah menjaga kekuatan ini bersama-sama, bukan justru ditakut-takuti,” pungkas Freddy. ***










